Sunday, February 7, 2010

Penulis-penulis yang Membentukku

1. Pramoedya Ananta Toer

Gaya muramnya mirip dengan penulis Rusia, mendeksripsikan kondisi Indonesia di masa penjajahan, sebelum kemerdekaan, awal kemerdekaan, bahkan masa masih berdirinya kerajaan. Mulai dari tetralogi Bumi Manusia, hingga kumpulan cerpennya yang dikompilasi jadi buku tebal "Mereka yang Dilumpuhkan", hingga "Gadis Pantai" yang tak usai, sampai "Panggil Aku Kartini Saja", "Cerita dari Djakarta", atau karya historisnya, "Arus Balik".

Sosialis realis? Itukah aliran yang diperkenalkan Pram padaku? Aku tak peduli apa nama alirannya Yang pasti dia adalah penulis yang paling membentuk pola pikir sosialisku, memihak ke rakyat kecil, karena memang bagian dari mereka. kemampuan Pram meramu perjuangan mereka, penegasan bahwa kemiskinan bukan alasan untuk menjadi bodoh, juga sikap tegas Pram membela emansipasi dalam Gadis Pantai membuatku kian mengagumi karyanya. Sayang, baru sempat bersua sekali dalam kondisi Pram sudah sangat renta, sebelum wafat. Tapi sudah membaca nyaris semua karyanya adalah kebanggaan tersendiri.


2. Jose Rizal

Hanya satu bukunya yang kubaca dan sangat berkesan sampai hari ini. Noli Me Tangere, yang dalam bahasa Tagalog berarti "Jangan Sentuh Aku". Kubaca dari perpustakaan SMP, terbitan Pustaka Jaya. Tebal sekali untuk ukuran anak SMP. Sampai hari ini aku tak pernah menjumpai buku ini di semua toko buku Indonesia. Bisa jadi dilarang beredar, karena kisahnya tentang anak kecil yatim piatu (kalau tak salah) yang dititipkan di gereja dan diperlakukan kejam oleh Pastor dan para biarawan di sana.

Kalau ada buku yang pertama kali menguras air mataku, sepertinya inilah buku itu. Aku berniat mencarinya, ah! Jose Rizal adalah presiden pertama Filipina. Ketika menulis buku ini, usianya baru 26 tahun! Dia juga seorang nasionalis sejati yang sangat dipuja di negerinya.


3. Soe Hok Gie

Catatan Seorang Demonstran (CSD), dan Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan, hanya dua karya Gie yang pernah kubaca. Dan tentu saja CSD sangat membekas, Kubaca pertamakali zaman kuliah. Tidak membeli, tapi kubaca sampai tuntas di sebuah toko buku kecil daerah Margonda Raya, Depok (yang akhirnya rumahku ada di daerah situ sekarang!). Setelah bekerja, aku membeli buku itu dalam versi yang jauh lebih tebal da keren. Sejujurnya, aku lebih suka buku CSD versi pertama yang bersahaja, sebersahaja gaya seorang Gie. Di kala senggang, CSD tetap kubaca sampai hari ini sembari membayangkan semua adegan sungguhannya, bukan seperti dalam film karya Riri Reza.

Maaf Riri, film Gie besutanmu bagus, hanya aku sudah punya fantasi sendiri mengenai sosok Gie jauh sebelum kau memfilmkan mereka.


4. Arswendo Atmowiloto

Dia adalah Kiki dan Komplotannya, Imung, Keluarga Cemara, Senopati Pamungkas, Canting, Opera Bulutangkis (dengan nama samaran Titi Nginung), majalah Hai, tabloid Monitor, dan semua yang mewarnai masa kecil dan remajaku di masa lalu. Ia membuatku percaya bahwa menulis bisa menafkahi hidup, dan tingkat pendidikan formal bukan segalanya.

Semua yang dikisahkan Arswendo adalah kesederhanaan, membumi, namun tak lepas dari sisi intelektualitas dan estetika. Demi mempertahankan semua kesan itu, aku menolak untuk membeli buku-buku karya terbarunya. Biarkan aku tetap tenggelam dalam keperkasaan Senopati Pamungkas dan kebadungan Kiki, serta kecerdasan Imung. Maaf, Arswendo, aku tak mau membaca karya-karya barumu bukan karena tak cinta.


5. JD Salinger

Menyesal sekali mengenal Salinger sangat terlambat. Dan baru membaca satu saja bukunya yang luar biasa, Catcher In The Rye. Buku yang sempat dilarang beredar di Amerika karena memuat terlalu banyak kata makian ini baru kutemukan beberapa tahun silam dalam desain sampul yang menawan hati walau sangat minimalis. Aku langsung mengirim email pada penerbitnya, Yusi Pareanom, dan berucap terima kasih sudah menerbitkan dan menerjemahkan buku ini di Indonesia.

Konon yang kutahu, Salinger adalah penulis yang di hari-hari akhirnya menutup diri pada publik, tak sudi ditemui siapapun, hingga ajal menjemput. Yang menarik, kisah itu nyaris sama dengan cerita yang pernah kutulis waktu SMA, mengenai seorang penulis (diriku di masa mendatang dalam imajinasi) yang menyepi di pondok di kaki gunung hingga akhir hayatnya.

Salinger, are you there when I wrote the story?

6. Goenawan Mohammad

Hm yeah, harus kuakui, pernah tergila-gila pada semua Catatan Pinggirnya. Sampai menjual cincin emas peninggalan nenek demi memborong volume ke-4. padahal dulu itu masih SMA. Catatan demi catatan kubaca khusyuk serupa membaca kitab suci. Kuhapalkan. Kutandai bagian yang menarik, untuk dibaca ulang kelak. Lagi, dan lagi, dan lagi.

Ketika Tempo dibreidel, aku ikut berduka. Memutuskan tak lagi ingin jadi jurnalis, karena apalah artinya jadi jurnalis tanpa kebebasan menulis. Tapi akhirnya terbit lagi dan aku justru tidak kerja di Tempo. Karena entahlah, aku malas melamar pekerjaan. Selalu pekerjaan yang melamarku. Dan akhirnya sampai pada titik klimaks aku muak pada dunia jurnalistik. Bukan salah siapa-siapa jika aku tak mengidolakan GM lagi. Namun tak bisa dibantah esai-esainya di Catatan Pinggir sudah mirip ensiklopedi bagiku, terutama gayanya bertutur secara indah.

Ada juga nama-nama Seno Gumira Ajirdarma, Agatha Christe, Enid Blyton, Arthur Conan Doyle, NH Dini, Dee, Sidney Sheldon, Mario Puzo,, Maxid Gorky, Nikolai Gogol, yang banyak menghiasi hidupku. Tapi enam penulis di atas adalah yang paling berkesan buatku.

Bagaimana denganmu, kawan?

1 comment:

FARIHA ILYAS said...

Hhmm, Promoedya emang OK, tulisan2 soekarno jg mantap, nampak sekali keluasan ckrawala pemikirannya, hhmm, karena orang seni, sy jg sk tulisan Agus Dermawan T. Semua yang sempat kita baca, kita dapatkan (bahkan walau sebenarnya tdk kita harapkan) pasti menjadi hal yg berperan membentuk diri kita. iya kn?