Showing posts with label Friendship. Show all posts
Showing posts with label Friendship. Show all posts

Sunday, February 7, 2010

Antara ITB, UI, dan Saya

Pernah suatu ketika saya ngobrol sama teman yang bukan alumni ITB maupun UI, nggosipin dua kampus ternama di republik ini sampai bibir kita item. Anak ITB itu blablablabla, anak UI itu ginigininigini. Lalu nyenggol dikit soal kampus lain kayak UGM dan IPB. Maaf, yang kampusnya ngga kesebut ngga usah iri. Nggosipin kampus-kampus terkenal memang asoy geboy, selama kita bukan bagian dari mereka.

Dalam obrolan itu, dibahas bahwa belakangan saya merasa dikelilingi orang-orang ITB dan UI. Mungkin ini yang namanya law of attraction. Jika mau dirunut, ceritanya zaman mau lulus SMA dulu saya harus berpikir mau kuliah kemana. Karena saya cuma bisa menulis dan menggambar, maka pilhan saya hanya dua: kuliah jurnalistik atau desain grafis. Buat jurnalistik dulu tekad saya sudah bulat mau kuliah di kampus bekasnya Iwan Fals, Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) yang jurusan jurnalistiknya jadi semacam pabrik jurnalis sampai hari ini (Andy F Noya), tapi ada juga yang nyasar jadi selebriti lawak (Eko Patrio, Ulfah). Menggambar? Ya desain grafis ITB lah, apa lagi? Mau IKJ katanya mahal.

Ternyata saya terlalu malas buat ikut tes penerimaan mahasiswa buat kampus negeri (lupa apa istilahnya zaman itu, sebab gonta ganti mulu namanya). Kalo ngga salah saya malah nonton konser Metallica di Lebak Bulus atau konser apalah saya lupa. Jadi jelas ngga masuk ITB dong, daftar aja ngga. Saya langsung nyungsep di IISIP saja lah yang gampang masuknya ngga pake belajar apa-apa. Hihihi. Mau kuliah aja kok repot belajar.

Jadi selamat tinggal, ITB.

Ternyata sekian tahun kemudian, hidup saya malah berkutat dengan manusia-manusia ITB. Dari mulai rektornya, mantan rektornya, dosennya, mahasiswanya, alumninya, sampai anggota wali amanahnya. Mungkin gara-gara saya waktu jurnalis kebagian desk liputan sains dan teknologi. Jadi ketemunya Onno Purbo, Budi Rahardjo, Adinoto, Kusmayanto Kadiman. Lantas berurusan juga lah dengan teman-teman alumni sana model kayak Fahmi, Fajri, Husni. Ndilalah kantor saya terakhir juga bosnya wong ITB, Betti Alisjahbana, dengan rekan yang juga ITB. Eh, di luaran gaulan saya juga seputar ITB lagi, Wimar Witoelar, Fadjroel Rahman, dan sebagainya. Banyak lah segala hal yang menghubungkan saya dengan ITB. Beberapa klien juga ternyata jebolan kampus itu.

Yeah, ngga jadi kuliah di ITB tapi teman saya banyak yang ITB.

Nah, cerita dengan UI adalah, saya sering dikira alumni UI. Busjrut deh. Bisa jadi akibat saya tinggal di Depok atau apa ya, entah. Beberapa kali dituduh sebagau "anak UI", kalau saya ralat biasanya si penuduh jadi kecewa dari raut wajahnya. Waktu bedah buku saya setahunan lalu, semua peserta bedah buku sudah berharap saya anak UI. Waktu saya bilang, "Saya penah kuliah di IISIP", nada mereka yang awalnya antusias jadi agak down. Belasan kali kalau kenalan sama orang, juga dituduh sebagai anak UI.

Namun tuduhan-tuduhan itu ngga terlalu meleset juga, sebab memang saya banyak juga kenalan orang UI. Kantor pertama saya dulu senior-seniornya jebolan UI, pemred saya Aristides Katoppo, malah aktivis UI, juga beberapa sahabat seperti Carlos, Sulung, Adam, Adiseno, dan sebagainya. Ndilalah ya sekarang saya tunangan sama akademisi UI, yang keluarganya berhubungan dengan UI semua. Teman di FB sini juga yang UI seabrek-abrek.

Begitulah kisah antara saya, ITB, dan UI. Walau berasal dari kampus tidak terlalu ternama, saya ngga pernah minder bergaul sama mereka, justru merasa dekat dan menjadi bagian mereka.

Thanks ya buat temen-temen ITB dan UI yang berteman, menerima saya apa adanya sebagai diri saya sendiri, bukan karena embel-embel kampus saya.

The Rise of...Begundals From The Past!

Eh ujuk-ujuk bermunculan teman-teman begundal dari masa lalu.

Astaga! Saya kok lupa ya bahwa di SD dulu saya pernah punya teman yang saya juluki Boneka India, namanya Lia Imelda? Ya iya lupa, wong kita cuma berteman dekat dari kelas 5-6 SD, ketika saya baru pindah dari Jakarta ke Lampung. Lantas SMP sepertinya dia gone with the wind. Wow, Lia di benak saya adalah cewek cantik berwajah ala India dengan rambut kepang dua dan tubuh agak montok. Kami sering cekikikan membahas banyak hal seputar cowok, pacar-pacaran, dan semua topik menjijaykan yang kerap diocehkan cewek menjelang prapuber.

Lia sekarang di Medan, jadi dokter dengan dua anak lucu-lucu. Bahkan dia pernah jadi dokter teladan. Ah jauhnya kamu!!! Padahal pengen banget meluk kamu, Boneka Indiaku!

Kemarin juga mendadak saja FB saya di-add oleh seorang sahabat lama, Rita Yunida. Kami langsung bertukaran nomor ponsel. Ah Rita suaranya masih sama kayak dulu! Dia bahkan langsung curhat banyak tentang hidupnya kini. Sayang dia juga jauh di Lampung sana.

Rita alias Burit, inget kan dulu kalo bolos sekolah kita rame-rame ke rumah elu, numpang makan. Semua makanan yang ada di dapur lu kita GANYANG habis..Karena kita adalah pasukan selalu lapar!

Dari si Burit ini saya juga ketemu Kartika Sari alias Si Sikat karena rambutnya kaku kayak sikat. Di FB dia majang nama anaknya, Syahira. Cieee..sok cantik lu, Kat! Sekali Sikat tetap aja Sikat! Gayanya sekarang dia berjilbab, buat nutupin rambut sikatnya...hahahaha!! Kidding, mam!

Si Sikat ini adalah my partner in crime di King Departmen Store dulu. Hahaha biarlah semua catatan kriminal kami hanya kami saja yang tahu! Bahaya kalau diungkit, bisa mengalahkan kasus Cicak-Buaya dan mbledosnya gardu PLN!

Berkat kemunculan para Begundals From The Past ini, terbayang kembali semua memori najis itu...
Ngelap ingus di korden kelas atau tas teman yang lagi meleng...lompat jendela kelas buat bolos...dimarahin guru BP akibat rok robek dan disuruh jahit sendiri...Bolosnya ke bioskop murah meriah, nonton film Jacky Chen ciat ciat dengan duit hasil malak lhoooo kita kan preman sekolah! Buset najis amat ya masa lalu itu, namun tetap indah dikenang.

Lia Boneka India, Rita Burit dan Kartika Sikat, semoga kalian tetap sahabatku yang najis, begundal, amit-amit jabang bayik ya..hahaha. Tentu dalam versi jauh lebih bagus di saat ini. Aku sangat beruntung melalui sekelumit waktu bersama kalian di masa lalu, walau itu najis abis. Saat kita ingusan bareng, ngakak dan kadang juga nangis serta ngamuk bersama.

I LOVE YOUUUUUUUU ALLL!!!!!

Dimana Farida?

Nama anak itu Farida saja, tanpa nama embel-embel apa-apa. Dia berambut poni ala Purdey di serial Mission Imposible jadul zaman aku masih ingusan dan bercelana kodok. Kulitnya putih, matanya belo. "Rambutnya kayak rambut jagung, merah. Kayak anak ngga keurus," komentar almarhum nenek tentang temanku yang sering bertandang ke rumah itu.

Waktu itu aku SD kelas 1 atau 2, senang saja kalau ada teman main ke rumah. Tapi Farida hampir setiap hari. Poni dan matanya akan muncul dari balik pagar rumahku yang tak terlalu tinggi. Dari dua bagian tubuh itu saja aku sudah bisa mengenali bahwa dia adalah Farida. Rambutnya rambut jagung, matanya belo. Mungkin dari jarak 1 kilometer pun aku akan bisa mengenali.

Nenekku kesal Farida keseringan main ke rumah. Baru juga aku pulang sekolah, dia sudah muncul. "Huh, kayak anak ngga punya rumah aja," gerutu nenek. Maksud nenek, mestinya pulang sekolah kami istirahat dulu, makan siang, tidur sebentar, baru sore boleh bermain. Tapi Farida seolah tak punya siapapun untuk mengingatkannya akan jadwal harian. Rutinitasnya adalah main ke rumahku. Titik.

Pernah aku main ke rumah Farida. Oh, rumah itu mengerikan. Bukan karena jelek atau apa, sebab aku juga bukan anak orang kaya. Hanya rumah itu sungguh tak menghadirkan rasa nyaman buat dihuni. Lebih mirip gudang. Farida mengajakku ke dapur untuk diberi minum. Di sana aku bersua kakak perempuannya yang nyaris tak berbaju. Asyik membuat susu kental manis coklat Bendera untuk dirinya sendiri. Farida diusir dari dapur. Tidak diberi susu itu. Padahal aku tahu betul, dari raut wajahnya dia sangat menginginkannya.

Sekali dua kali aku ke rumah Farida karena diajak. Selebihnya aku takut. Dan akhirnya kembali ke pola lama, Farida yang main ke rumahku. Berjam-jam. Siang sampai petang. Nyaris setiap hari. Kadang kuajak dia makan, lebih sering ia menolak. Padahal jamnya makan siang. Pantas tubuhnya kerempeng banget.

Sampai suatu ketika, Farida tak pernah datang lagi. Aku beranikan diri datang ke rumahnya yang mencekam itu. Bersua kakaknya yang berwajah galak. "Farida pindah ke Palembang." Hanya itu informasinya.

Hari ini mendadak aku kangen sama Farida. Anak perempuan bermata belo, rambut poni kemerahan, yang tak punya siapapun untuk mengingatkan jadwal hariannya.

Kemana Farida? Dimana Farida?

Buat kawan masa kecilku, Farida, dimanapun engkau berada.

Never Say Goodbye for Mr.KK

'Mer, tolong dong di Technomedia dan Netsains email address saya diganti." Lalu ia menyebut alamat email barunya. SMS itu saya terima tadi siang pk 14.48. Astaga, betul juga, sahabat saya satu itu sudah tak lagi memakai alamat email berdomain kementrian Ristek, sebab hari ini resmi sudah bukan Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) lagi. Kenapa saya bisa pikun begini? Padahal hingar bingar berita kabinet baru sudah lama tersiar. Baru saya sadar bahwa pertemanan kami memang bukan dilandasi jabatan semata.

"Ngga perlu salam perpisahan kan pak? Sebab kita ngga pernah berpisah?" SMS saya ke beliau. Dia membalas, "Jangan sampai ada," balasnya cepat, seperti biasa.

Perjumpaan saya dengan pak KK, demikian sapaan akrab saya pada Kusmayanto Kadiman, Menristek 2004-2009, diawali saat dia masih rektor Institut Teknologi Bandung (ITB), sekitar tahun 2003 kalau tak salah. Saya masih jurnalis sains dan teknologi di Sinar Harapan. Guyonannya seputar software, hardware, dan underwear di acara kerjasama ITB, Sun Microsystem dan Ristek membuat saya tak bisa melupakan figurnya yang low profile dan lucu.

Setahun kemudian kami bersua lagi, ayah 3 putra ini menjabat sebagai Menristek, dan saya masih jurnalis. Lalu sebagai moderator milis jurnalis IT dan Iptek, saya mengundangnya untuk gabung di milis kami, agar teman-teman jurnalis bebas berkomunikasi dengannya. Saat itu tak lama Menkominfo Sofyan Djalil juga bergabung. Namun hanya Pak KK mentri yang paling aktif di milis.

Sejak remaja sampai dewasa, saya tak pernah pro pemerintah. Berdasar pengalaman jadi jurnalis pun, yang namanya menteri itu menyebalkan. Kalau diwawancara sok jaim, kalau akrab ada maunya. Bahkan banyak mentri yang menjawab pertanyaan jurnalis secara asal dan klise. Pak KK beda. Email dan nomor ponselnya siap sedia dihubungi kapan saja. Ingin menyambangi kantornya di lantai 24 BPPT-pun, dia tak keberatan. Bahkan ada kesan Pak KK ingin menerobos semua protokoler birokrasi yang ada. Tanpa ajudan, bahkan kalau bisa tanpa kawalan PM di jalan raya.

Beberapa kali saya berkesempatan diundang ke ruangan pribadinya. "Mau minum apa, Mer?" Ia menyediakan diri membuatkan kopi atau teh. Tentu saya sungkan dan langsung bikin kopi sendiri.

Persahabatan saya, kalau bisa disebut demikian, dengan lelaki kelahiran 1 Mei 1954 ini, ada pasang surutnya. Kami berdiskusi, bercanda, bekerjasama, tapi ada juga saat saya khilaf dan besar ego, mengambek macam anak kecil. Tapi seorang KK dengan besar hati mengulurkan perdamaian. Bahkan saya pernah berbuat beberapa kesalahan fatal, yang jika oleh orang lain bisa jadi tak dimaafkan. Namun Pak KK bukan orang lain. Ia adalah sahabat saya. Sahabat dengan jarak usia cukup jauh. Maka tak heran hubungan kami lebih mirip seperti om dan keponakan, atau bapak dan anak.

Persahabatan, kata orang, hanya bisa diukur dari seberapa sering kita bersitegang lalu kembali akrab lagi. Jika bersitegang dan tak kembali lentur, artinya itu bukan persahabatan.

Hari ini, Pak KK secara resmi sudah bukan Menristek lagi. Saya sendiri sejak 2 tahun lalu juga sudah menggantungkan kartu pers. Saya paham, ada orang yang berteman dengan memandang siapa kita, apa jabatan kita, seberapa banyak uang kita, dan sejenisnya. Thanks God, itu tak berlaku bagi kami.

Dan pastnya, never say goodbye for Mr KK. Sebab mentri atau bukan mentri, he is still my goodfellow!

Kredo yang akan selalu saya ingat dari penyuka batik ini adalah, "I listen, I learn, I change."

*Masih terus aktif memprovokasi agar dia ikutan FB. Hihihihi*

Teman: Past, Present, dan Future

Makin tua, mestinya teman makin banyak. Di usia saya yang kepala 3 ini (ngga usah disebut pastilah, malu2in aja setua ini masih belum gablek BMW atau Mercy), teman-teman saya terdiri atas masa SD, SMP, SMA, kuliah, nongkrong2 ngga jelas, kerja, temannya teman, narasumber, klien, teman bisnis, teman dunia maya, dan seterusnya.

Kita tak pernah tahu mana yang teman sejati. Ah, kata itupun sudah basi pastinya. Kalau ketemu teman SMA, kami sering saling memaki betapa menjijikkannya kelakuan kami dulu. Betapa banyak dendam akibat masa muda kami dulu sama-sama egois, berebutan idola, mencemburui pacar pertama, sirik-sirikan, dan sejenisnya. Bersua teman SMP membuat saya kian jijik sebab dulu saya belum mengenal dunia. Saya melihat betapa ancur leburnya penampilan jadul saya masa SMP. Ih jijay, itu bukan saya!

Ada satu teman yang tak pernah berubah. Teman sejak masa susah saya. Sejak saya masih ngekost di bilik bobrok, sampai sekarang saya menghuni rumah apik milik sendiri. Herannya, hingga kini setiap kali saya dilanda susah, dia muncul tak terduga. Seperti saat saya dirawat inap di rumah sakit akibat demam berdarah durjana 2 pekan silam.

Dia muncul begitu saja, padahal saya ngga kabari bahwa saya sakit. Dia bawakan berliter-liter jus jambu merah yang katanya mempan buat ngobatin DBD. Dia begadang demi nungguin saya. Dia saya maki-maki saking noraknya nanya dimana tempat merokok, padahal jelas2 itu rumah sakit. Dia saya usir2 akibat mengecewakan saya tak memenuhi janjinya membawakan saya bubur ayam.

Ugh, jahatnya saya!

Tapi dia teman sejati. Cuma dia teman yang mau buangin pipis di pispot saya.

Lalu kembali terkuaklah sejarah persahabatan kami di masa silam... Ya, di antara sekian banyak teman, hanya dia yang setia megikuti alur hidup saya sampai sekian lama (14 tahun bo, 14 tahun!!!) . Meng-update kondisi hidup saya, padahal dia ngga punya FB dan HP-nya pun sudah soak. Ngga punya YM atau email yang rajin dibuka. Dia asli teman sejati yang tahu keadaan saya cukup dari telepati hati.

Ya, dialah teman saya di masa lalu, kini, dan depan. Past, present, dan future.

Teman macam apakah anda? Hanya past saja, present saja, future saja, atau ketiganya sekaligus?