Sunday, February 7, 2010

Bagaimana Saya Jatuh Cinta pada Sains

Sekitar 7 tahun lalu, sebuah SMS bertuit di ponsel Nokia sejuta umat saat saya di atas bus Metro Mini. Kira-kira bunyinya: "Mau ngisi rubrik Iptek dan Lingkungan di Sinar Harapan?". Itu dari Santi, istri Afandi, teman saya. Dalam posisi hanya sebagai penerjemah freelancer, mau dong ditawari yang berhubungan dengan menulis, di sebuah harian terkenal pula.

Sejak itulah saya kecemplung di dunia sains dan teknologi. Meliput jumpa pers Menristek, Mentri Lingkungan Hidup, peluncuran ponsel canggih terbaru, launching laptop gres, antivirus, server komputer, sampai ke pelosok kebun kapas transgenik di Sulawesi Selatan, ngintip badak kawin di pedalaman Lampung, bahkan menghadiri GSM World Forum di Cannes, Perancis, dan banyak lagi.

Awal liputan dulu, saya banyak bengong, kayak sapi ompong. Istilah teknis komputer, biologi, fisika, lingkungan, berseliweran di sana-sini, menuntut saya membuka Google dan WIkipedia sebelum berani menulis berita atau artikel feature. Kalau mewawancara ilmuwan LIPI, BPPT, BATAN dan sejenisnya, saya banyakan bingung, sebenarnya mereka ngomong apa? Untung kelamaan bisa nyambung juga.

Akhirnya jadilah saya mencintai bidang ini, sains, teknologi dan lingkungan. Ketiganya saling terkait, berhubungan dengan keseharian kita. Tantangannya adalah, bagaimana membuat sains dan teknologi bisa terus maju tanpa merusak lingkungan. Saya selalu menjadikan pemikiran itu sebagai acuan dalam menulis. Tidak ingin dicap sebagai pro pengrusakan lingkungan karena kemajuan teknologi. Sains sebagai penolong kerusakan bumi seisinya juga sering saya angkat sebagai isu utama tulisan feature saya saat itu.

Apa daya, tiga itu itu dianggap kurang menjual oleh media tempat saya bekerja. Dan akhirnya halaman khusus Sains dan Ilmu Pengetahuan dihapus total. Jelas saya patah hati!

Tak kurang akal, saya membuat Netsains.Com. Waktu itu hanya ide gila saja, ingin membuat web sains popular yang bisa menjembatani ilmuwan, pebisnis, dan pemerintah, serta publik umum. Ide ini saya bahas dengan Amir, yang saat itu masih menjadi asisten pribadi Pak Kusmayanto Kadiman, Menristek saat itu.

Lantas ada sejumlah nama terlibat dalam jatuh bangunnya ide ini. Sony AK, Syariful Anwar alias Kecoak, Mas Romi Satria Wahono, I Made Wiryana, Muhamad Sutiyadi, Bona Simanjuntak, Moses Kurniawan. Netsains.Com mengalami pasang surut, pergantian personil, desain, program. Akhirnya Soetrisno dan Didik Wicaksono datang membantu saya, sampai hari ini. Dua teman yang memahami passion saya, dan semoga bisa awet dalam kerjasama ini.

Semua yang berhubungan dengan Netsains.Com dikerjakan secara volunteer, bermodalkan semangat dan dukungan dari teman-teman. Pak Kusmayanto alias KK, Menristek ketika itu, sangat membantu dengan mempromosikan Netsains.Com ke banyak pihak. Lantas bermunculanlah nama-nama kontributor seperti Hosea Saputro Handoyo, Arli Aditya Parikesit, Ilma Pratidina, Dewi Retno Siregar, bahkan Kang Onno W Purbo!

Waktu berlalu, jumlah kontributor makin banyak. Hits dan trafik web kami kian menanjak. Puncak prestasinya adalah ketika menjadi wakil Indonesia ke World Summit Award 2009 kategori E-Science. Walau akhirnya tidak menang, kami tetap bangga.

Kini Netsains juga punya rubrik TANYA DOKTER, konsultasi kesehatan gratis yang diasuk Dr. Dito Anurogo dan Dr Muchlis Achsan Udji Sofro. Iklan terus ramai, walau hanya bisa membiayai operasional web saja. Setidaknya biaya server dan hosting mulai tertutupi.

Secara materi, saya memang tidak mendapat apapun dari Netsains.Com. Namun saya jadi kenal dengan banyak ilmuwan Indonesia yang luar biasa. Haryo Sumowidagdo, Hosea Saputra Handoyo sendiri, Merlyna Lim, Roby Muhamad, Gea O Parikesit, Arli Aditya Parikesit, Hawis Madupa, Terry Mart, Rovicky Dwi Putrohari, dan pastinya banyak lagi nama lain yang tak mungkin saya sebut satu-satu di sini. Dari mereka saya belajar banyak hal, dan untungnya juga bisa ngobrol dengan asyik walau pendidikan saya tak sehebat mereka.

Tidak hanya orang-orang besar, saya juga bersua sejumlah teman-teman yang walau bukan ilmuwan tapi juga punya pengetahuan luar biasa, seperti Jaki Umam, Ferdy Sandika Tri Setya, Fajar Ramadhitya Putera, dan banyak lagi.

Tantangan saat ini adalah bagaimana agar semua ilmuwan dan sumber daya manusia berpotensi Indonesia bisa membantu bangsa kita bangkit dari keterpurukannya. So far saya baru bisa melakukan publikasi opini dan sharing pengalaman mereka, meng-update berita sains dan teknologi dari luar, mengadakan acara kecil-kecilan buat saling memperkenalkan mereka satu sama lain, berbagi info beasiswa, juga menulis buku-buku dengan tema sains populer. Baru itu yang bisa saya lakukan. Belum berarti banyak memang.

Kira-kira itulah latar belakang kenapa saya mencintai dunia sains, dan menjadi penulis sains, walaupun saya bukan saintis.
Semoga kalian memahaminya. Atau mungkin kalian ingin membantu saya dalam proyek idealis ini?

PS: Oh ya, saya sudah tidak di Sinar Harapan lagi sejak 2 tahun silam. Tapi Netsains.com tetap berjalan. Berkat Sinar Harapan juga saya jadi jatuh cinta pada dunia sains, walau halaman sains sudah dihapus dari koran itu. Thanks buat Mas Adiseno, Sulung, dan Santi, rekan2 saya sesama penulis sains di sana dulu.

1 comment:

Aswin said...

Menjawab pertanyaan Mbak Merry di kalimat terakhir blognya, ya saya ingin membantu mbak.

Saya memiliki concern yang sama dengan Mbak Merry perihal "knowledge based society", yang dalam bahasa saya adalah "masyarakat yang melek sains". Agak mirip dengan visinya Mbak Merry, saya ingin mengembangkan science journalism di negeri ini. Saya bermimpi di negeri ini ada media-media sains seperti Nature, Scientific American, Wired, Popular Science, dan semacamnya seperti di duni Barat sana.

Saya amazed sekali dengan apa yang Mbak Merry lakukan dengan netsains.com. Saya merasa "beresonansi" inisiatifnya Mbak Merry.

Barangkali saya bisa berkontribusi juga untuk membantu apa yang Mbak Merry mulai.

Oiya, saat ini saya bekerja sebagi editor pada penerbitan komik sains KUARK (http://www.komikuark.net/). Nama saya Aswin Simatupang.

Salam sains!