Showing posts with label Career. Show all posts
Showing posts with label Career. Show all posts

Saturday, March 17, 2012

Merpati Kembali Terbang Bebas (dan Tinggi)


Pemimpin redaksi alias Chief Editor alias Editor in Chief, katanya merupakan jabatan puncak dalam karier jurnalistik.  Awalnya dulu ketika ditawari posisi itu, saya berharap akan punya lebih banyak waktu untuk menulis, terutama menulis buku fiksi, sebuah obsesi yang belum kesampaian, sebab semua buku saya selalu non fiksi.
Kebebasan menuangkan ide, konsep, gaya bahasa, memang diberi ruang cukup luas pada mulanya.   

Tapi seiring waktu berlalu, baru saya sadari bahwa memimpin tim redaksi lebih dari perkara memberi ide, menuangkan konsep, bermain dengan gaya bahasa, melainkan juga mengatur sumber daya manusia.  Hal ini sudah saya sebut di postingan terdahulu.

Thursday, January 12, 2012

Berselancar Sepuasnya

Menerbitkan majalah itu jauh lebih sulit dari sekedar menulis buku.  Itu pelajaran yang saya dapat sejak memimpin redaksi Top Career Magazine, sebuah majalah bisnis berbasis isu-isu Human Resources (HR).  Saat SMP, bisa saja saya dengan enteng bermimpi membuat majalah sendiri.  Dan ketika sudah terjun ke industri ini saat usia dewasa, wow, tak seindah mimpinya.

Ada rasa puas, penasaran, antusias, optimis, ketika sukses melalui deadline.  Tapi sekaligus juga kecewa, down, kala hasilnya tak sesuai yang diharapkan.  Lalu berusaha bangkit memperbaiki di edisi berikutnya, dengan pola bongkar pasang, mencari-cari formula yang pas.  Semua dilakukan tiada henti bersama tim, bukan sendirian.

Saturday, July 16, 2011

Bye bye, Mr.Snob!

“Kita ngga harus menjadi orang lain kan, Din?!”

Pertanyan sekaligus pernyataan itu kutegaskan ke Dini setelah mengalami sedikit peristiwa ngga asik, sekitar 2 minggu lalu. Jawabannya jelas: Sama sekali nggak.

Sebagai pemimpin redaksi sebuah majalah yang masih berupa janin, saya dan Dini -sekretaris- harus melakukan survei dengan sejumlah perusahaan printing dan distribusi. Setelah serangkaian perusahaan besar kami survey, tiba saatnya menjajal perusahaan yang katakanlah ngga terlalu besar

Friday, June 17, 2011

Gadis Belia dan Mimpinya

Memori samar, saat duduk di kelas 2 SMA saya pernah bermimpi membuat media massa sendiri. Saat itu saya hanya bisa mewujudkannya dengan membuat DeathLine, koran tentang seluk beluk musik heavymetal. Bahannya dari terjemahan majalah Metal Edge dan Hit Parader terbitan luar, dan oret-oretan kartun saya yang ngaco. Ternyata banyak disuka, walau bentuknya cuma kertas HVS fotokopian, saya jual 500 perak sebagai ganti ongkos fotokopi.

Kelas 3 SMA, saya bermimpi menerbitkan majalah tentang seni dan budaya, namanya Apresiasi. Ngga kesampean, dan berakhir hanya dalam bentuk karton digunting menyerupai bentuk majalah. Tapi saya bikin rubrikasi, logo, dan covernya sendiri. Ah, cuma angan-angan remaja belia.

Thursday, December 9, 2010

Ilmuwan VS Pedagang Ikan

Film "Everybody Wants to be Italian" ini sebenarnya bergenre romantis.  Tentang Jake yang sulit melupakan mantannya, Marisa. Dua karyawannya yaitu Steve dan Gianluca menyomblanginya dengan Isabella. Terjadi salah paham, dua karyawan Jake mengira Isabella adalah cewek Italia, maka mereka menyuruh Jake untuk mengaku sebagai orang Italia.

Yang menarik buat saya bukan bagian cinta-cintaan itu, melainkan beberapa dialog dan adegan mengenai profesi Jake sebagai pedagang ikan dan Isabella yang dokter hewan sekaligus ilmuwan.  Saat Isabella mengajak Jake ke acara penganugerahan penghargaan ilmuwan, terjadi hal menarik. Semua teman-teman Isabella adalah ilmuwan dengan gelar membanggakan, prestasi luar biasa.

Thursday, November 11, 2010

Nama Besar, Omong Kosong

Nama besar bukan jaminan seseorang berhati besar. Korporat terkenal bukan berarti dia bisa bekerja profesional.


She offered me a project. After that, gone with the wind


Itu tweet saya beberapa hari lalu, mengungkap kekesalan pada seorang communication head sebuah bank swasta ternama.Setidaknya itulah yang tertera di bio Twitternya.
Sekitar bulan Agustus lalu dia mem-follow saya di Twitter, minta di follow back, katanya mau kirim DM (Direct Message). Saya ikuti. Di DM itu dia menawarkan saya terlibat dalam proyek perusahaannya yang akan segera rilis, sebuah program award. Tentu saya tertarik.

Thursday, June 3, 2010

Komik Strip coba2: Si Merce, Penulis Satir

Saya lagi belajar menggambar dengan mouse di aplikasi sederhana, Paint. Jangan diketawain ya!
Maunya jadi semacam Dilbert atau Garfield, komik strip terkenaaal dan sukseeessss itu.
Awas nanti kalo udah punya graphic tablet, semoga gambar saya lebih oke dan ide mengalir lancar.
Ini tokoh utamanya sementara...

Wednesday, March 24, 2010

Hasil Googling Nama Sendiri: Saya Pencuri?

Beberapa hari lalu, saya iseng-iseng browsing, bernarsis ria sedikit meng-googling nama sendiri. Eh kok nemu blog yg isinya menuduh saya sebagai pencuri dan plagiat:http://www.rumahtulisan.com/21/10/2009/blogging/sudah-dicuri-dijual-pula.html

Di situ disebut bahwa pemilik blog, Anton Muhajir, merasa dirugikan karena saya mengutip data di blognya tanpa seizinnya untuk buku saya, UU ITE, Don't Be The Next Victim. Ya jelas saya kaget dong, sebab saya sudah menyertakan judul artikel dan link blog yang saya kutip di daftar pustaka buku itu.

Memang kesalahan saya adalah saya ngga minta izin dulu ke dia. Tapi selama ini setiap saya menulis artikel maupun buku, saya selalu mengutip dengan tetap menyebutkan sumber beserta link, walau tidak minta izin, dan tidak pernah ada masalah. Plus, di blog Anton itu dulu belum ada disclaimer bahwa siapapun yg mengutip tulisannya harus minta izin. (Disclaimer baru dia buat setelah kejadian..hahaha lucunya).

Wednesday, March 10, 2010

Nama Baik yang Menguap Bersama Kentut

"Dunia itu sempit, Mer. Apa lagi dunia media. Kemanapun kamu pergi nanti, akan bertemu lingkungan itu-itu juga. Jadi, jagalah nama baik," kata mas Kristanto Hartadi. Saya ingat betul dengan pesan mantan Pemred saya di Sinar Harapan itu, ketika saya pamit untuk resign, sekitar 2 tahun silam.

Saya rekam pesan itu dalam ingatan, sehingga selalu terngiang setiap kali melakukan tindakan, apalagi yang berhubungan dengan pekerjaan dan bisnis. Sependapat dengan mas Kris, saya setuju reputasi dan nama baik adalah modal utama seorang manusia. Tanpa kedua hal itu, derajadnya sebagai manusia sudah melorot menjadi "manusia yang tak bisa dipercaya dan punya rekam jejak buruk".

Di era serba cyber saat ini, menyebarkan reputasi dan nama yang sudah buruk itu mudah sekali.

Friday, March 5, 2010

Rasa Nyaman di Luar "Zona Nyaman"














Anak ayam saja tak dibiarkanNya mati kelaparan, apa lagi manusia? Kalimat itu terus berdengung di kepala saya pada bulan Januari lalu, bulan dimana saya memutuskan tidak memperpanjang kontrak kerja. Ya, saat itu saya dalam kondisi agak galau tapi berusaha yakin. 

Sebulan lebih sudah saya resmi jobless, alias tidak tercatat sebagai karyawan perusahaan mana pun. Dulu, saat kontrak kerja saya sudah tinggal menghitung hari, dan diberi kesempatan untuk memilih memperpanjang atau memutusnya, sempat ada perasaan galau di hati. Tidak lanjut kontrak kerja, artinya tidak ada lagi gajian bulanan, income tetap yang bikin saya ada di zona nyaman.

Sunday, February 21, 2010

Hidup dari Menulis Saja, Bisakah?

Seorang teman pernah bertanya, yang juga merupakan pertanyaanku beberapa waktu silam:

"Bisakah seorang penulis hidup dengan menulis saja?"

Kujawab bisa, apabila dia mau bekerja secara profesional. Menulis adalah pekerjaan yang dibutuhkan di semua bidang. Industri media massa, penerbitan, teknologi informasi, public relation, periklanan, pendidikan, keuangan, sains, semua memerlukan dukungan komunikasi tulisan. Facebook ini misalnya, kontennya membutuhkan penulis kreatif yang mampu menciptakan kata-kata singkat, tepat, jelas, misalnya dalam menerangkan sebuah fitur atau menu. Semua situs yang berebaran di dunia maya ini memerlukan penulis-penulis kreatif demi menghipnotis para pengunjungnya. Jadi, cukup banyak bukan peluang berkarir bagi mereka yang menggeluti dunia menulis?

Jawaban akan sedikit berubah andai ternyata pertanyaannya adalah:

"Bisakah seorang penulis hidup dengan menulis apa yang ia suka tanpa intervensi siapapun?”

Saya juga punya pertanyaan serupa ketika masih bekerja sebagai jurnalis dan editor beberapa waktu lalu. Ada semacam keinginan untuk berontak ketika kita harus menulis sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani. Misalnya saat saya mendadak dipindah ke desk liputan ekonomi dan bisnis, sebuah dunia yang saya tidak terlalu sukai. Apa daya, sebagai jurnalis saya harus menerima semua petintah atasan, sebagai simbol profesionalitas. Sebagai pekerjaan utama, menulis memang kerap dilakukan tidak selalu sesuai kata hati. Namun ada kesempatan untuk menulis semau kita, yakni menulis buku, puisi, cerpen, opini, yang bisa kita terbitkan sendiri, di luar otoritas perusahaan tempat kita bekerja. Jadi menulis yang benar-benar murni seirama dengan suara hati baru bisa diwujudkan sebagai hobi atau pekerjaan sampingan saja.

“Lantas, kapan penulis bisa menulis sesuai kata hatinya, sekaligus juga hidup dari situ?”

Ya, bisa saja kalau dia terlahir dari keluarga kaya. Tidak perlu bekerja menafkahi diri sendiri, cukup menulis saja semaunya, lantas kirim ke seantero media massa, atau terbitkan buku sendiri, bikin blog dan web sendiri. Jadi menulis di sini sebagai hobi utama yang digeluti habis-habisan, kemudian menjelma menjadi karir ketika memang tulisannya bagus, disukai banyak orang. Atau bisa ditunjang dengan pendidikan formal, dimana ia kuliah bidang jurnalistik, sastra, belajar banyak literatur asing, bahkan sampai ke luar negeri. Jadilah dia penulis profesional akademis, sastrawan, dan sebagainya.

“Wah asyiknya lahir dari keluarga berada. Gimana kalau dari keluarga pas-pasan, dong?”

Mau tak mau harus mengambil jalur seperti yang saya lakukan, yaitu awalnya menulis sebagai pekerjaan profesional. Bisa jadi jurnalis, penulis skenario, pengelola konten web, editor, pembuat teks iklan, dan banyak lagi. Lalu di waktu senggang bisa menulis buku, puisi, cerpen, sebagai hobi sekaligus kerjaan sampingan. Jika memang berminat kelak ingin jadi penulis lepas agar dapat menulis sekehendak suara hati tanpa tekanan dari atasan, maka tips yang bisa saya berikan:

-Menabunglah
-Perluas network
-Jaga reputasi

“Apakah setelah itu kita bisa menulis semau sendiri?”

Hmm, setdiaknya saya bisa menulis buku dengan topik yang saya pilih sendiri. Kalau pekerjaan profesional dimana saya sebagai editor lepas, penulis pendamping, penulis bayangan, dan mediator ke penerbit, saya bisa menerima klien yang saya rasa cocok, baik topik tulisannya, sampai individunya. Ya, memilih klien ini harus disesuaikan dengan apakah kita merasa sreg dengan cara dia berpikir, berbicara, pola pandangnya, bahkan mimik wajah dan intonasi suaranya. Saya malas berurusan sama orang yang pemarah, perfeksionis sekali, moody, tidak konsisten, dan jam karet. Hehehe. Kalau topik tulisan, jelas saya sangat fleksibel, akan membantu menulis atau mengedit naskah selama itu saya sukai. Kalau naskah esek-esek, atau menjatuhkan pihak tertentu, apalagi fitnak, nanti dulu lah.

“Jadi kapan kamu bisa jadi penulis sukses yang bebas menulis sesuai kehendak hatimu?”

Definisi sukses itu apa ya? JK Rowling, Dan Brown, Andrea Hiratta, Dewi Lestari, Ayu Utami, Chairil Anwar, JD Salinger, Pramudya Ananta Toer? Apakah sukses berarti harus terkenal seantero jagat?
Bagi saya popularitas itu hanya imbas saja. Obsesi saya saat ini bukan menjadi terkenal, tapi mampu mencintai profesi saya sebagai penulis. Kalau bisa sampai mati pun hanya ini yang saya lakukan, menulis.
Dari begitu banyak buku yang sudah berlahiran dari tangan saya memang baru 3 buku yang menggunakan nama saya, plus 1 lagi saya tercantum sebagai co writer. Namun dengan mulainya saya menjadi full time writer dan frelance editor sejak awal bulan ini, semoga akan lebih banyak buku yang bisa saya brojolkan. Tujuannya bukan popularitas, melainkan kepuasan batin.

Buat para teman penulis muda, ayo semangat

Friday, February 12, 2010

Tidak Ada "Pelacur" dalam Seni dan Sains

Tepat setahun lalu, saya pernah menulis "Penulis Idealis? Tell Me About It!", yang mempertanyakan apakah idealisme penulis bisa menjamin kesejahteraan hidupnya. Di situ saya ambil contoh kasus NH Dini, penulis yang semasa jayanya berkeras hanya mau menulis novel sastra dan cerpen. Di saat tuanya kini, penulis yang bukunya laris manis itu terpaksa melelang lukisannya untuk biaya berobat, tinggal di panti wreda, menerima sumbangan untuk pengobatan penyakitnya. Tak bisa dikatakan sukses secara finansial, bukan?

NH Dini memang bukan tipe penulis yang menulis demi karir dan nafkah, melainkan sekadar hobi saja. Bahkan pernah saya baca, ia menganggap menulis jika di luar karya sastra adalah "melacur".Tapi lihatlah bagaimana kondisinya hari ini.

Di masa muda dulu, saya pernah melewati masa tergila-gila menulis sastra. Puisi, cerpen, semuanya dalam genre yang serius, berusaha berbahasa indah, baik, dan benar. Tak heran jika beberapa teman yang saya tunjukkan karya lawas saya dulu berkomentar, "Kok, beda ya tulisan lu sekarang sama dulu. Yang dulu lebih nyastra.". Betul, belasan tahun sudah saya melupakan dunia sastra, demi menekuni jurnalistik, dan penulisan populer.

Lantas apakah saya "melacur'?

Tidak. Saya berteori bahwa menulis itu sama dengan bidang seni lain. Ada yang namanya seni murni, dan seni terapan.

- Seni murni: adalah ketika seni itu dikreasikan murni untuk tujuan seni, keindahan. Di sini termasuk lukisan yang memang diciptakan sebagai lukisan, tulisan sebagai karya sastra, patung sebagai karya seni, dan seterusnya. Seni murni punya kontribusi bagi kehidupan untuk mengekplorasi keindahan, nalar manusia, rasa, pendalaman berbagai gaya dan aliran. Kalau salam dunia sains ia adalah sains dasar. Bidang ini tidak langsung dirasakan manfaatnya, tapi menjadi dasar pengembangan.

- Seni terapan, alias applied arts, adalah ketika seni sudah dikembangkan sesuai dengan kebutuhan manusia. Yang seperti apa? Tulisan saya ini adalah bentuk seni menulis terapan, karena lebih difokuskan pada fungsinya, yaitu sebagai alat komunikasi penyampaian opini. Konten web, advertorial, berita, artikel, konten dari Facebook dan blog, sampai naskah pidato presiden, buku populer, skenario film, adalah bentuk dari applied writing arts. Jika di dunia sains disetarakan dengan sains terapan seperti teknologi seluler yang kita nikmati sehari-hari, aplikasi Internet, dan seterusnya. Jadi dia lebih mengutamakan fungsi, bukan keindahan dan esplorasi.

Seni murni, sama dengan sains dasar, di banyak negara tak bisa dijadikan tambatan karir yang menjanjikan. Memang banyak seniman seni murni yang sukses, meraih nama besar, dan income luar biasa, demikian juga ilmuwan sains dasar. Namun kompetisi di bidang itu sangat luar biasa, memerlukan perjuangan hebat dan kesabaran, mengingat fasilitas di banyak negara berkembang kurang menunjang. Karena bidang seni murni dan sains dasar memang sangat spesifik.

Seni terapan dan sains terapan, adalah bidang dimana seniman dan ilmuwan dapat berkontribusi secara lebih luwes dan fleksibel. sebab bidang ini langsung dirasakan manfaatnya oleh publik, diperlukan, didukung oleh industri massal. Jangan heran kalau di sini prospek karirnya lebih cerah, banyak diminati orang, dan terkesan komersil.

Jadi tak layak jika dikatakan seniman dan ilmuwan yang terjun ke dunia applied arts dan applied science dikatakan tidak idealis alias melacur. Mereka tetap ada di jalurnya, hanya dengan warna berbeda.
Saya pernah ada di dua dunia itu, murni dan terapan. Sastra dan populer. Kini rasanya saya ingin menjalankan keduanya lebih seimbang. Semoga saja bisa.

Mesin Tik Tua yang Tutsnya Menguning...

Dulu sekali, seorang cewek abege tergila-gila menulis. Hanya bermodal mesin tik Brother milik kakek, ia mampu menghabiskan sekian rim kertas folio A4. Kala itu masih kelas 3 SMP, sudah cukup nekad mengirimkan cerbungnya ke majalah remaja Hai. Tapi apa daya berbulan-bulan penuh harap dinanti kabar baik pemuatannya, tak kunjung datang. Cewek abege yang berkhayal ingin jadi Lupus perempuan itu pun patah hati.

Baru ketika di kelas 1 SMA, ia terkejut luar biasa mendapati cerbungnya dimuat di majalah mingguan itu. Si Pion, judul cerbung itu, dipecah menjadi empat bagian. Sejak itu ia makin rajin memantul-mantulkan jemari mungilnya ke tuts mesin tik tua.

Sejak itu berlahiranlah aneka cerita serial, novelet, yang setiap hari dia ketik dan ketik dan ketik sepulang sekolah hingga malam hari. Zaman itu belum ada email, hingga cewek ABG itu malas sekali mengirimkan naskah-naskahnya karena harus ke kantor pos. Nanti saja, kalau sudah banyak sekalian akan kukirim sekaligiu, begitu ia berencana.

Rencana tinggal rencana. Kelas 2 SMA, perempuan yang mengasuhnya sejak kecil, sang nenek, menghembuskan nyawa terakhir. Si cewek tadi sedemikian dirundung duka, sebab nenek itu lah satu-satunya manusia di muka bumi ini yang mendukungnya menjadi penulis. Lain tidak ada. ia menjadi begitu kacau, melupakan semua manuskrip yang sudah diketiknya bertahun-tahun. Menganggapnya hanya tumpukan sampah. Dan merantaulah ia ke kota lain untuk melupakan semuanya.

Hari ini dia berusaha mengais-ngais satu demi satu karya lawasnya yang sempat terekam komputer. dia menemukan beberapa, dan tercengang-cengang, betapa dulu ia punya imajinasi sedemikian indahnya. Ia sedikit menyesal tak menyimpan semua manuskrip lama itu. Ia menyesal melupakan fantasinya menjadi penulis fiksi. Ia justru sudah menikung ke non fiksi, menjadi jurnalis, ghostwriter, menulis buku teknologi, membuat website sains, menulis untuk orang lain, mengedit naskah orang, dan semua bidang yang kian jauh dari jalur awalnya dulu.

Cewek abege itu adalah saya. Malam in, belasan tahun kemudian,i saya membaca satu-satu cerpen lawas saya, dan nyaris menitikkan air mata. Saya rindu mesin tik tua merk Brother yang tuts putihnya sudah menguning itu...saya rindu semua manuskrip yang pernah dihasilkannya dan kini pasti sudah membusuk dimakan usia..

Monday, February 8, 2010

Work, As Fast As You Can!

Sebagai eks jurnalis harian yang dituntut bekerja cepat, saya sangat menghargai respon cepat. Sebab saya paham bahwa menunggu itu pekerjaan yang membosankan, bahkan memuakkan.

Pujian terakhir yang saya dapat adalah dari seorang klien dengan emailnya, "Kok cepet banget,deh." Ia menimpali kiriman naskah saya di sore hari, padahal baru siangnya saya kirim email berisi pertanyaan seputar bab itu.

Saya juga mencintai respon cepat dari pihak lain. Misalnya hari ini, klien saya yang keren abis, Wimar Witoelar, langsung menyuruh kurir mengirimkan flash disc berisi foto-foto yang saya perlukan untuk bukunya. Tak lama saya menginjakkan kaki di tempat tujuan, kurir itu langsung menelepon saya bahwa dia sudah membawa paket itu.

Respon cepat yang saya tak kalah hargai datang dari salah satu perusahaan penerbitan besar yang biasanya langsung menelepon begitu saya SMS apakah ia berminat pada topik naskah tertentu. Dan ia langsung bisa memberi keputusan apakah ya layak terbit atau tidak. Paling lambat..yah 2-3 hari setelahnya. Itu termasuk kilat dibanding penerbitan lain yang membuat saya mirip menunggu Godot atau kiamat tiba, tak jelas juntrungannya.

Hari ini pun saya dikagetkan oleh ulah seorang mitra bisnis saya yang dalam sekedipan mata langsung mengirim draft dokumen yang saya butuhkan. Tak mau kalah, saya pun segera mengirim proposal super kilat ke klien saya.
Ya, dunia bisnis adalah sebuah kompetisi. Siapa cepat, dan tepat, dia akan dapat!
Masih mau bekerja ala keong? Silakan saja kalau mau tertinggal di belakang.

Sunday, February 7, 2010

Jangan Pernah Lupakan Hobi dan Cita-citamu

Beberapa kali 'adik-adik ketemu gede' bertanya pada saya, "Saya udah kelas 3 SMA, tapi masih bingung mau lanjut kuliah apa,". Atau "Mbak Merry, enaknya saya kerja apa ya nanti?".

Biasanya saya akan kembali bertanya, "Lho, hobimu apa? Kamu sukanya ngapain?". Akhirnya dibalas lagi dengan pertanyaan, "Apa hubungannya hobi sama kerjaan?"

Kalau sudah begini, saya garuk-garuk kepala. Aneh, kok sudah SMA dan kuliah masih tidak tahu mau kerja apa nantinya. Hehehe, mungkin ini problem kebanyakan orang Indonesia, belum mampu menentukan masa depan dan cita-cita sedari muda. Padahal perjalanan menuju sana itu panjang sekali, dan sudah harus disiapkan dari jauh-jauh hari. Aduh, kenapa bahasa gue jadi tua begini, seh?

Oke, saya jelaskan aja apa hubungan hobi sama kerjaan. Hobi itu bagi saya adalah aktivitas yang kita sukai, kita gilai. Menyanyi, main games, menulis, menggambar, ngebanyol cerita lucu, baca buku, memasak, nonton film, dan sebagainya. Pokoknya kegiatan sehari-hari yang dominan kita lakukan karena kita suka. Biasanya kalo suka sama sesuatu, otomatis dia akan mendalami bidang itu. Yang suka masak akan belajar masak, beli buku resep. Yang hobi nonton film akan koleksi DVD, baca literatur soal film, coba gabung sama komunitas film, bikin resensi film, dan sejenisnya. Yang hobi nulis akan banyak menulis, membaca demi memperkaya referensi tulisan, bikin blog, kirim tulisan ke media, atau bahkan coba-coba nulis buku, dan seterusnya.

Dari hobi ini, kalau memang diniatin, bisa jadi mendatangkan keuntungan. Misalnya memasak tadi akhirnya jadi bisa dipercaya teman menerima pesanan katering, atau bikin resensi film jadi mendapat honor karena nulis resensi di majalah, demikian juga menulis cerpen buat yang hobi nulis. Ini belum bisa disebut pekerjaan, karena masih sampingan saja dan honornya pun ngga bisa jadi jaminan.

Hobi baru bisa jadi pekerjaan kalau sudah sungguh-sungguh didalami sepenuh hati. Yang hobi masak ambil jurusan tata boga, kursus masak langsung pada pakarnya, kalo perlu jadi pakar kuliner, atau sekalian dipadu dengan bisnis restoran. Yang hobi nonton film dapat mendalami sinematografi di bangku kuliah, ngobrol sama pakar perfileman nasional, ikut konferensi perfileman dunia, dan belajar jadi sutradara. Dan seterusnya. dari situ kompetensi kita makin dipercaya, dilibatkan pada proyek-proyek sesuai bidang kita, dan bisa menjadi sumber nafkah utama.

Lalu akan muncul protes, "Iya, itu buat mereka yang berduit. Kalo ngga, boro-boro bisa kuliah. Mau ngejalanin hobinya aja ngga ada duit!"

Nah, inilah alasan utama manusia Indonesia, duit. Kalau sudah bicara "Saya bukan dari keluarga berada," atau "Saya harus bantu adik-adik sekolah, dan orang tua sakit-sakitan,", maka merasa bisa dijadikan justifikasi untuk bekerja apa saja asal dapat duit, lupakan cita-cita dan hobi.
Oke, saya tidak menyalahkan mereka yang bekerja apa saja demi uang karena memang keadaan memaksa untuk itu. Saya sendiri juga dulu pernah bekerja yang tak ada hubungannya sama hobi saya, menulis.

Ada banyak pekerjaan "apa saja" yang bisa tetap dikaitkan dengan hobimu. Yang ngga butuh titel sarjana dan pendidikan tinggi. Sebut saja, kerja jadi pelayan restoran buat yang hobi memasak. Atau jadi kasir di butik buat yang berminat di dunia fashion. Jadi tenaga administrasi di rumah sakit bagi mereka yang ingin jadi dokter tapi ngga ada dana buat kuliah kedokteran. Jadi resepsionis di statsiun TV buat yang ingin jadi penyiar TV. Dan seterusnya.

Dari pekerjaan "apa adanya" tapi masih berkorelasi dengan hobi dan cita-cita itu, kita akan punya spirit yang membuat kita selalu ingat pada passion kita, hobi kita. dan peluang buat menuju cita-cita itu sudah di depan mata. Setidaknya kita sudah ada di jalur yang benar. dengan modal ijazah SMA, kamu bisa bekerja di stasiun TV walau cuma sebagai resepionis, bikan penyiar TV seperti impianmu. Tapi kamu jadi kenal dengan banyak orang TV. Sedikit lagi ketekunan, yakni menabung untuk belajar banyak hal seluk beluk dunia TV, menjalin hubungan baik dengan mereka, dan bukan tak mungkin meraih beasiswa buat kuliah di jurusan broadcasting.

Bagaimana dengan yang jadi pelayan restoran, padahal dia ingin punya restoran atau pakar kuliner? Ya, itu juga berlaku, kok.

A long long long tima a go, sebelum saya menulis 4 buku, mengedit banyak buku, sukses menggolkan orang menerbitkan buku, menjadi jurnalis, menjuarai lomba jurnalistik, saya adalah kasir dan penjaga sebuah toko buku. Ya, saya dulu DO dari kuliah jurnalistik. Jadi tak cukup pede buat melamar kerja sebagai jurnalis dengan ijazah SMA. Tapi saya sangat pede buat melamar kerja ke Times The Bookshop sebagai retail assistant (istilah keren pelayan dan kasir toko..hahaha).

Walau jadi "jongos dan kasir", saya tetap meneruskan hobi saya menulis cerpen dan surat pembaca ke media massa top. Jadi jongos di toko buku berbahasa Inggris bikin saya banyak ketemu pelanggan terkenal seperti Guruh Soekarno Putra, Adji Massaid, Adhie Massardi, dan banyak lagi. Bikin saya bisa membaca banyak buku impor secara gratis, mulai dari Ernest Hemmingway, John Steinbeck, John Grisham, sampai tuntas. Bikin saya melahap Time, Newsweek, Business Week, Reader Digest, Financial Times, Asian Wall Street Journal, Cosmopolitan, Harper's Bazaar, sampai The Economist dan Fortune

Dan ketika peluang buat menjadi jurnalis terbuka, saya siap 100%.

Ah sudahlah, kenapa jadi testimoni cengeng ngga jelas begini.

Intinya adalah, kalian 'adik-adik ketemu gede' yang masih bingung mau kerja apa, mau kuliah apa, gunakan saja hobimu sebagai acuan utama. Masalah duit juga bukan alasan untuk melupakan hobi dan cita-cita. Yang penting adalah niat, niat, dan niat buat mewujudkan impianmu. Dengan bekerja di bidang yang kamu impikan, tidak mustahil dari jongos bisa jadi bos. Sudah banyak bukti, lho!

Buat yang mau masuk dunia kerja, ada puisi inspiratif dari seorang penulis Filipina:

LOVE YOUR WORK

if you don’t like your work,
you’ll need three times the energy:
to force yourself to work,
to resist the force,
and finally to work.

if you love your work,
your desire to do it
will be like a wind
to propel your ship
with much less fuel.

if you like your work,
you work no more -
for work, when you like it,
is work no longer,
but sheer enjoyment!

if you enjoy your work,
you’ll work and work
without counting the hours –
and you’ll reap and enjoy
more earnings as well.

- H.L. Neri

Antara ITB, UI, dan Saya

Pernah suatu ketika saya ngobrol sama teman yang bukan alumni ITB maupun UI, nggosipin dua kampus ternama di republik ini sampai bibir kita item. Anak ITB itu blablablabla, anak UI itu ginigininigini. Lalu nyenggol dikit soal kampus lain kayak UGM dan IPB. Maaf, yang kampusnya ngga kesebut ngga usah iri. Nggosipin kampus-kampus terkenal memang asoy geboy, selama kita bukan bagian dari mereka.

Dalam obrolan itu, dibahas bahwa belakangan saya merasa dikelilingi orang-orang ITB dan UI. Mungkin ini yang namanya law of attraction. Jika mau dirunut, ceritanya zaman mau lulus SMA dulu saya harus berpikir mau kuliah kemana. Karena saya cuma bisa menulis dan menggambar, maka pilhan saya hanya dua: kuliah jurnalistik atau desain grafis. Buat jurnalistik dulu tekad saya sudah bulat mau kuliah di kampus bekasnya Iwan Fals, Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) yang jurusan jurnalistiknya jadi semacam pabrik jurnalis sampai hari ini (Andy F Noya), tapi ada juga yang nyasar jadi selebriti lawak (Eko Patrio, Ulfah). Menggambar? Ya desain grafis ITB lah, apa lagi? Mau IKJ katanya mahal.

Ternyata saya terlalu malas buat ikut tes penerimaan mahasiswa buat kampus negeri (lupa apa istilahnya zaman itu, sebab gonta ganti mulu namanya). Kalo ngga salah saya malah nonton konser Metallica di Lebak Bulus atau konser apalah saya lupa. Jadi jelas ngga masuk ITB dong, daftar aja ngga. Saya langsung nyungsep di IISIP saja lah yang gampang masuknya ngga pake belajar apa-apa. Hihihi. Mau kuliah aja kok repot belajar.

Jadi selamat tinggal, ITB.

Ternyata sekian tahun kemudian, hidup saya malah berkutat dengan manusia-manusia ITB. Dari mulai rektornya, mantan rektornya, dosennya, mahasiswanya, alumninya, sampai anggota wali amanahnya. Mungkin gara-gara saya waktu jurnalis kebagian desk liputan sains dan teknologi. Jadi ketemunya Onno Purbo, Budi Rahardjo, Adinoto, Kusmayanto Kadiman. Lantas berurusan juga lah dengan teman-teman alumni sana model kayak Fahmi, Fajri, Husni. Ndilalah kantor saya terakhir juga bosnya wong ITB, Betti Alisjahbana, dengan rekan yang juga ITB. Eh, di luaran gaulan saya juga seputar ITB lagi, Wimar Witoelar, Fadjroel Rahman, dan sebagainya. Banyak lah segala hal yang menghubungkan saya dengan ITB. Beberapa klien juga ternyata jebolan kampus itu.

Yeah, ngga jadi kuliah di ITB tapi teman saya banyak yang ITB.

Nah, cerita dengan UI adalah, saya sering dikira alumni UI. Busjrut deh. Bisa jadi akibat saya tinggal di Depok atau apa ya, entah. Beberapa kali dituduh sebagau "anak UI", kalau saya ralat biasanya si penuduh jadi kecewa dari raut wajahnya. Waktu bedah buku saya setahunan lalu, semua peserta bedah buku sudah berharap saya anak UI. Waktu saya bilang, "Saya penah kuliah di IISIP", nada mereka yang awalnya antusias jadi agak down. Belasan kali kalau kenalan sama orang, juga dituduh sebagai anak UI.

Namun tuduhan-tuduhan itu ngga terlalu meleset juga, sebab memang saya banyak juga kenalan orang UI. Kantor pertama saya dulu senior-seniornya jebolan UI, pemred saya Aristides Katoppo, malah aktivis UI, juga beberapa sahabat seperti Carlos, Sulung, Adam, Adiseno, dan sebagainya. Ndilalah ya sekarang saya tunangan sama akademisi UI, yang keluarganya berhubungan dengan UI semua. Teman di FB sini juga yang UI seabrek-abrek.

Begitulah kisah antara saya, ITB, dan UI. Walau berasal dari kampus tidak terlalu ternama, saya ngga pernah minder bergaul sama mereka, justru merasa dekat dan menjadi bagian mereka.

Thanks ya buat temen-temen ITB dan UI yang berteman, menerima saya apa adanya sebagai diri saya sendiri, bukan karena embel-embel kampus saya.

Saya Menyebutnya Program S3 Sekolah Kehidupan...

Beberapa kali saya membaca semacam surat pengumuman resign teman dari tempat kerjanya. Sepertinya keren, dia menulis "Walau saya sudah tidak di perusahaan Anu, saya tetap bisa dihubungi di perusahaan baru saya yang bernama PT Anu, dengan jabatan baru saya sebagai Anu, blablabla.." Katakanlah, jabatannya lebih bagus, perusahaan barunya lebih besar, dan sudah pasti remunerasi lebih kinclong, serta masa depan lebih cerah ceria.

Dua tahun lalu saya pernah membuat email semacam itu, dengan judul "Akhirnya saya menanggalkan kartu pers saya", sebagai woro-woro bahwa saya sudah tidak bekerja di sebuah perusahan media cetak nasional lagi. Sudah pensiun sebagai jurnalis dengan kartu pers, dan resmi jadi Wartawan Tanpa Suratkabar (WTS), sebab saya lebih mengurusi website dan buku. Tapi ya kerjanya sama saja sih, seputar mewawancara, diskusi, dan menulis, mengedit.

Dan kini rasanya harus membuat lagi email atau pesan serupa. Mulai 1 Februari nanti saya sudah bukan karyawan perusahaan manapun. Kalau menurut filosofi hidup saya yang menganut "sekolah kehidupan" sih ini episode dimana saya mengambil program doktorat alias S3. Dulu S1-nya adalah ketika saya jurnalis di media nasional, lalu S2-nya ya kemarin itu waktu mengelola website dan lanjut menulis buku, mengedit buku orang.

S3 akan dimulai saat saya terjun bebas ke dunia bisnis. Karena berkaitan dengan tulis menulis, saya menyebutnya writerpreneur. Menulis buku, memandu orang menulis buku, mengedit, memediasi penulis ke penebit, menulis artikel di website sendiri, menulis note FB, modul training, mengurus konten website, yah seputar itulah. Masih tetap berkutat dengan huruf-huruf, hanya bedanya harus mulai akrab juga dengan angka-angka, biar ngga bego di dunia bisnis.

Agak susah bilang saya akan berkantor dimana, sebab sementara memang bekerja di rumah, foodcourt, kafe, kantor mitra bisnis, kantor klien, rumah klien, atau bisa jadi warnet kalau jaringan internet langganan saya lagi dodol. Jadi alamat saya ya di email, Facebook, YM, Twitter, dan Koprol. kalau lupa ya silakan search aja di Google, akan muncul lah website dan FB saya.

Agak bingung juga mengatakan apa jabatan baru saya. Dibilang bos, belum punya karyawan. DIbilang jongos, tapi menggaji diri sendiri. Yah, inilah saya tanpa embel-embel gelar, titel, jabatan apapun. Tapi alhamdulilah ya ngga ngemis ke siapapun, semoga jangan pernah.


Jadi, teman, tolong dukung saya secara moril saja, agar menjadi rakyat Indonesia yang tidak pernah korupsi atau tersangkut kasus apapun juga. Tidak pernah membunuh atau menipu rekan bisnis. Halah ngga penting deh ya. Hehehe.

Buat semua teman yang pernah bekerjasama dengan saya selama saya masih karyawan, saya ucapka terima kasih banyak. Ajeng, Anin, Yudhi, Lina, Dini, dan semua rekan-rekan kerja saya di kantor terakhir dimana saya terdaftar sebagai karyawan, PT. Quantum Business International, terima kasih banyak atas kesabarannya menyaksikan pola kerja saya yang ngga jelas bersama kalian. Thanks sudah memahami egosentris dan kecuekan saya pada pekerjaan, dan bersedia membantu saya.

PS: Kegiatan saya sementara bisa diintip di http://merry.netsains.com.

Ini Lebih dari Pekerjaan, Ini Hobi!

Freelance or full time? Why bother now. It's more than a job. It's a hobby. (Satya Witoelar)

Kata-kata itu saya temukan tak sengaja ketika sedang browsing data buat bab ke-2 buku yang saya garap. Sangat pas buat menggambarkan kondisi saya saat ini. Kondisi transisi, dari karyawan dengan side job, beralih menjadi pengangguran dengan aneka side job dan mencoba berbisnis.

Kenapa harus pusing apakah kita bekerja penuh atau hanya paruh waktu. Yang penting kita mencintai pekerjaan itu. Terlebih lagi jika itu adalah hobi yang bisa membuat kita mendapatkan income. It's more than a job, it's a hobby, demikian kata Satya.

Sepakat dengan dia, hobi itu derajadnya lebih tinggi di atas pekerjaan. Sebab hobi kita lakukan dengan sepenuh hati, passion luar biasa, panggilan jiwa, bukan semata karena materi. Kalau hobi itu bisa mendatangkan materi, akan lebih bagus lagi. Cintailah dia sepenuh hati!

Tidak semua orang bisa seberuntung itu. Tak semua manusia dapat bekerja sesuai hobi, atau menekuni hobi yang mendatangkan income. Untuk itu butuh perjuangan ekstra keras. Bekerja yang hanya asal bekerja demi mendapatkan income, itu mudah sekali.

Bekerja yang sesuai panggilan hati, memerlukan usaha luar biasa yang hanya bisa dilakukan oleh:

1. Orang yang beruntung. Di sini bisa berarti anak orang kaya, karena dia tak perlu pusing denan kebutuhan sehari-hari. Tinggal tekuni saja hobinya, lalu minta modal ke orang tua, dan buka bisnis sesuai dengan hobi itu. Atau bisa juga memang manusia yang dilahirkan genius, memiliki bakat luar biasa, sehingga hobi yang dia dalami langsung menghasilkan prestasi hebat dan mendatangkan profit.

2, Pejuang yang tak kenal mundur. Walau bukan anak orang kaya atau orang berpengaruh, jika punya tekad kuat dan perjuanga ekstra, maka dia pasti akan mampu mewujudkan impiannya untuk bekerja yang sesuai dengan hobinya.

Ya, saya termasuk kategori nomor 2. Saya bukan anak orang kaya, dan tidak genius. Hanya saya setengah mati berjuang mewujudkan cita-cita saya: bekerja sesuai dengan kata hati. Apakah saya sudah kaya? Secara materi belum, tapi secara batin..hmmm semoga saya bisa mensyukuri berkah ini. Dan berjuang lebih keras lagi, pastinya.

Apakah kamu masuk kategori nomor 1 atau 2, kawan?

Penulis-penulis yang Membentukku

1. Pramoedya Ananta Toer

Gaya muramnya mirip dengan penulis Rusia, mendeksripsikan kondisi Indonesia di masa penjajahan, sebelum kemerdekaan, awal kemerdekaan, bahkan masa masih berdirinya kerajaan. Mulai dari tetralogi Bumi Manusia, hingga kumpulan cerpennya yang dikompilasi jadi buku tebal "Mereka yang Dilumpuhkan", hingga "Gadis Pantai" yang tak usai, sampai "Panggil Aku Kartini Saja", "Cerita dari Djakarta", atau karya historisnya, "Arus Balik".

Sosialis realis? Itukah aliran yang diperkenalkan Pram padaku? Aku tak peduli apa nama alirannya Yang pasti dia adalah penulis yang paling membentuk pola pikir sosialisku, memihak ke rakyat kecil, karena memang bagian dari mereka. kemampuan Pram meramu perjuangan mereka, penegasan bahwa kemiskinan bukan alasan untuk menjadi bodoh, juga sikap tegas Pram membela emansipasi dalam Gadis Pantai membuatku kian mengagumi karyanya. Sayang, baru sempat bersua sekali dalam kondisi Pram sudah sangat renta, sebelum wafat. Tapi sudah membaca nyaris semua karyanya adalah kebanggaan tersendiri.


2. Jose Rizal

Hanya satu bukunya yang kubaca dan sangat berkesan sampai hari ini. Noli Me Tangere, yang dalam bahasa Tagalog berarti "Jangan Sentuh Aku". Kubaca dari perpustakaan SMP, terbitan Pustaka Jaya. Tebal sekali untuk ukuran anak SMP. Sampai hari ini aku tak pernah menjumpai buku ini di semua toko buku Indonesia. Bisa jadi dilarang beredar, karena kisahnya tentang anak kecil yatim piatu (kalau tak salah) yang dititipkan di gereja dan diperlakukan kejam oleh Pastor dan para biarawan di sana.

Kalau ada buku yang pertama kali menguras air mataku, sepertinya inilah buku itu. Aku berniat mencarinya, ah! Jose Rizal adalah presiden pertama Filipina. Ketika menulis buku ini, usianya baru 26 tahun! Dia juga seorang nasionalis sejati yang sangat dipuja di negerinya.


3. Soe Hok Gie

Catatan Seorang Demonstran (CSD), dan Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan, hanya dua karya Gie yang pernah kubaca. Dan tentu saja CSD sangat membekas, Kubaca pertamakali zaman kuliah. Tidak membeli, tapi kubaca sampai tuntas di sebuah toko buku kecil daerah Margonda Raya, Depok (yang akhirnya rumahku ada di daerah situ sekarang!). Setelah bekerja, aku membeli buku itu dalam versi yang jauh lebih tebal da keren. Sejujurnya, aku lebih suka buku CSD versi pertama yang bersahaja, sebersahaja gaya seorang Gie. Di kala senggang, CSD tetap kubaca sampai hari ini sembari membayangkan semua adegan sungguhannya, bukan seperti dalam film karya Riri Reza.

Maaf Riri, film Gie besutanmu bagus, hanya aku sudah punya fantasi sendiri mengenai sosok Gie jauh sebelum kau memfilmkan mereka.


4. Arswendo Atmowiloto

Dia adalah Kiki dan Komplotannya, Imung, Keluarga Cemara, Senopati Pamungkas, Canting, Opera Bulutangkis (dengan nama samaran Titi Nginung), majalah Hai, tabloid Monitor, dan semua yang mewarnai masa kecil dan remajaku di masa lalu. Ia membuatku percaya bahwa menulis bisa menafkahi hidup, dan tingkat pendidikan formal bukan segalanya.

Semua yang dikisahkan Arswendo adalah kesederhanaan, membumi, namun tak lepas dari sisi intelektualitas dan estetika. Demi mempertahankan semua kesan itu, aku menolak untuk membeli buku-buku karya terbarunya. Biarkan aku tetap tenggelam dalam keperkasaan Senopati Pamungkas dan kebadungan Kiki, serta kecerdasan Imung. Maaf, Arswendo, aku tak mau membaca karya-karya barumu bukan karena tak cinta.


5. JD Salinger

Menyesal sekali mengenal Salinger sangat terlambat. Dan baru membaca satu saja bukunya yang luar biasa, Catcher In The Rye. Buku yang sempat dilarang beredar di Amerika karena memuat terlalu banyak kata makian ini baru kutemukan beberapa tahun silam dalam desain sampul yang menawan hati walau sangat minimalis. Aku langsung mengirim email pada penerbitnya, Yusi Pareanom, dan berucap terima kasih sudah menerbitkan dan menerjemahkan buku ini di Indonesia.

Konon yang kutahu, Salinger adalah penulis yang di hari-hari akhirnya menutup diri pada publik, tak sudi ditemui siapapun, hingga ajal menjemput. Yang menarik, kisah itu nyaris sama dengan cerita yang pernah kutulis waktu SMA, mengenai seorang penulis (diriku di masa mendatang dalam imajinasi) yang menyepi di pondok di kaki gunung hingga akhir hayatnya.

Salinger, are you there when I wrote the story?

6. Goenawan Mohammad

Hm yeah, harus kuakui, pernah tergila-gila pada semua Catatan Pinggirnya. Sampai menjual cincin emas peninggalan nenek demi memborong volume ke-4. padahal dulu itu masih SMA. Catatan demi catatan kubaca khusyuk serupa membaca kitab suci. Kuhapalkan. Kutandai bagian yang menarik, untuk dibaca ulang kelak. Lagi, dan lagi, dan lagi.

Ketika Tempo dibreidel, aku ikut berduka. Memutuskan tak lagi ingin jadi jurnalis, karena apalah artinya jadi jurnalis tanpa kebebasan menulis. Tapi akhirnya terbit lagi dan aku justru tidak kerja di Tempo. Karena entahlah, aku malas melamar pekerjaan. Selalu pekerjaan yang melamarku. Dan akhirnya sampai pada titik klimaks aku muak pada dunia jurnalistik. Bukan salah siapa-siapa jika aku tak mengidolakan GM lagi. Namun tak bisa dibantah esai-esainya di Catatan Pinggir sudah mirip ensiklopedi bagiku, terutama gayanya bertutur secara indah.

Ada juga nama-nama Seno Gumira Ajirdarma, Agatha Christe, Enid Blyton, Arthur Conan Doyle, NH Dini, Dee, Sidney Sheldon, Mario Puzo,, Maxid Gorky, Nikolai Gogol, yang banyak menghiasi hidupku. Tapi enam penulis di atas adalah yang paling berkesan buatku.

Bagaimana denganmu, kawan?

Bagaimana Saya Jatuh Cinta pada Sains

Sekitar 7 tahun lalu, sebuah SMS bertuit di ponsel Nokia sejuta umat saat saya di atas bus Metro Mini. Kira-kira bunyinya: "Mau ngisi rubrik Iptek dan Lingkungan di Sinar Harapan?". Itu dari Santi, istri Afandi, teman saya. Dalam posisi hanya sebagai penerjemah freelancer, mau dong ditawari yang berhubungan dengan menulis, di sebuah harian terkenal pula.

Sejak itulah saya kecemplung di dunia sains dan teknologi. Meliput jumpa pers Menristek, Mentri Lingkungan Hidup, peluncuran ponsel canggih terbaru, launching laptop gres, antivirus, server komputer, sampai ke pelosok kebun kapas transgenik di Sulawesi Selatan, ngintip badak kawin di pedalaman Lampung, bahkan menghadiri GSM World Forum di Cannes, Perancis, dan banyak lagi.

Awal liputan dulu, saya banyak bengong, kayak sapi ompong. Istilah teknis komputer, biologi, fisika, lingkungan, berseliweran di sana-sini, menuntut saya membuka Google dan WIkipedia sebelum berani menulis berita atau artikel feature. Kalau mewawancara ilmuwan LIPI, BPPT, BATAN dan sejenisnya, saya banyakan bingung, sebenarnya mereka ngomong apa? Untung kelamaan bisa nyambung juga.

Akhirnya jadilah saya mencintai bidang ini, sains, teknologi dan lingkungan. Ketiganya saling terkait, berhubungan dengan keseharian kita. Tantangannya adalah, bagaimana membuat sains dan teknologi bisa terus maju tanpa merusak lingkungan. Saya selalu menjadikan pemikiran itu sebagai acuan dalam menulis. Tidak ingin dicap sebagai pro pengrusakan lingkungan karena kemajuan teknologi. Sains sebagai penolong kerusakan bumi seisinya juga sering saya angkat sebagai isu utama tulisan feature saya saat itu.

Apa daya, tiga itu itu dianggap kurang menjual oleh media tempat saya bekerja. Dan akhirnya halaman khusus Sains dan Ilmu Pengetahuan dihapus total. Jelas saya patah hati!

Tak kurang akal, saya membuat Netsains.Com. Waktu itu hanya ide gila saja, ingin membuat web sains popular yang bisa menjembatani ilmuwan, pebisnis, dan pemerintah, serta publik umum. Ide ini saya bahas dengan Amir, yang saat itu masih menjadi asisten pribadi Pak Kusmayanto Kadiman, Menristek saat itu.

Lantas ada sejumlah nama terlibat dalam jatuh bangunnya ide ini. Sony AK, Syariful Anwar alias Kecoak, Mas Romi Satria Wahono, I Made Wiryana, Muhamad Sutiyadi, Bona Simanjuntak, Moses Kurniawan. Netsains.Com mengalami pasang surut, pergantian personil, desain, program. Akhirnya Soetrisno dan Didik Wicaksono datang membantu saya, sampai hari ini. Dua teman yang memahami passion saya, dan semoga bisa awet dalam kerjasama ini.

Semua yang berhubungan dengan Netsains.Com dikerjakan secara volunteer, bermodalkan semangat dan dukungan dari teman-teman. Pak Kusmayanto alias KK, Menristek ketika itu, sangat membantu dengan mempromosikan Netsains.Com ke banyak pihak. Lantas bermunculanlah nama-nama kontributor seperti Hosea Saputro Handoyo, Arli Aditya Parikesit, Ilma Pratidina, Dewi Retno Siregar, bahkan Kang Onno W Purbo!

Waktu berlalu, jumlah kontributor makin banyak. Hits dan trafik web kami kian menanjak. Puncak prestasinya adalah ketika menjadi wakil Indonesia ke World Summit Award 2009 kategori E-Science. Walau akhirnya tidak menang, kami tetap bangga.

Kini Netsains juga punya rubrik TANYA DOKTER, konsultasi kesehatan gratis yang diasuk Dr. Dito Anurogo dan Dr Muchlis Achsan Udji Sofro. Iklan terus ramai, walau hanya bisa membiayai operasional web saja. Setidaknya biaya server dan hosting mulai tertutupi.

Secara materi, saya memang tidak mendapat apapun dari Netsains.Com. Namun saya jadi kenal dengan banyak ilmuwan Indonesia yang luar biasa. Haryo Sumowidagdo, Hosea Saputra Handoyo sendiri, Merlyna Lim, Roby Muhamad, Gea O Parikesit, Arli Aditya Parikesit, Hawis Madupa, Terry Mart, Rovicky Dwi Putrohari, dan pastinya banyak lagi nama lain yang tak mungkin saya sebut satu-satu di sini. Dari mereka saya belajar banyak hal, dan untungnya juga bisa ngobrol dengan asyik walau pendidikan saya tak sehebat mereka.

Tidak hanya orang-orang besar, saya juga bersua sejumlah teman-teman yang walau bukan ilmuwan tapi juga punya pengetahuan luar biasa, seperti Jaki Umam, Ferdy Sandika Tri Setya, Fajar Ramadhitya Putera, dan banyak lagi.

Tantangan saat ini adalah bagaimana agar semua ilmuwan dan sumber daya manusia berpotensi Indonesia bisa membantu bangsa kita bangkit dari keterpurukannya. So far saya baru bisa melakukan publikasi opini dan sharing pengalaman mereka, meng-update berita sains dan teknologi dari luar, mengadakan acara kecil-kecilan buat saling memperkenalkan mereka satu sama lain, berbagi info beasiswa, juga menulis buku-buku dengan tema sains populer. Baru itu yang bisa saya lakukan. Belum berarti banyak memang.

Kira-kira itulah latar belakang kenapa saya mencintai dunia sains, dan menjadi penulis sains, walaupun saya bukan saintis.
Semoga kalian memahaminya. Atau mungkin kalian ingin membantu saya dalam proyek idealis ini?

PS: Oh ya, saya sudah tidak di Sinar Harapan lagi sejak 2 tahun silam. Tapi Netsains.com tetap berjalan. Berkat Sinar Harapan juga saya jadi jatuh cinta pada dunia sains, walau halaman sains sudah dihapus dari koran itu. Thanks buat Mas Adiseno, Sulung, dan Santi, rekan2 saya sesama penulis sains di sana dulu.