Showing posts with label Movie. Show all posts
Showing posts with label Movie. Show all posts

Thursday, December 9, 2010

Ilmuwan VS Pedagang Ikan

Film "Everybody Wants to be Italian" ini sebenarnya bergenre romantis.  Tentang Jake yang sulit melupakan mantannya, Marisa. Dua karyawannya yaitu Steve dan Gianluca menyomblanginya dengan Isabella. Terjadi salah paham, dua karyawan Jake mengira Isabella adalah cewek Italia, maka mereka menyuruh Jake untuk mengaku sebagai orang Italia.

Yang menarik buat saya bukan bagian cinta-cintaan itu, melainkan beberapa dialog dan adegan mengenai profesi Jake sebagai pedagang ikan dan Isabella yang dokter hewan sekaligus ilmuwan.  Saat Isabella mengajak Jake ke acara penganugerahan penghargaan ilmuwan, terjadi hal menarik. Semua teman-teman Isabella adalah ilmuwan dengan gelar membanggakan, prestasi luar biasa.

Friday, November 19, 2010

Sisi Gelap Rock n Roll? Sisi Terang Persahabatan

Dua film sekaligus dalam 1 hari? Why not. I am a movie geek, if you want to know. Yang tergila sih waktu British Film festival beberapa tahun lalu, saya nonton 3 film medley tanpa jeda. Kelar 1 film, langsung antre pintu masuk film berikutnya.


Tadi siang nonton Harry Potter 7. Tapi entah film yang sebenarnya keren itu malah jadi hambar setelah sore ini nonton Pirate Radio, dari sebuah DVD bajakan original.
Pirate Radio, sesuai judulnya, berkisah tentang radio swasta liar yang melakukan siaran dari sebuah kapal, Radio Rock namanya. Pemerintah membenci mereka karena gaya siaran  mereka yang urakan, vulgar, menganut seks bebas. "The dark side of rock n roll," demikian ujar Gavin, salah satu penyiar andalan mereka.

Saturday, November 13, 2010

Sebegitunya?

Masa lalu itu ngga bisa dihapus. Akan terus membayangi seumur hidup, kecuali kita amnesia atau jadi gila. Film ini mengingatkan saya betapa saya malas mengenang masa SD dan SMP. Maaf, teman-teman dan guru SD dan SMP, bukan saya tak tahu diri. Tapi masa itu sungguh bukan masa yang layak dikenang bagi saya.

Dan ada beberapa masa lagi yang tak ingin saya kenang. Kenapa? Uh so personal. Pokoknya itu bukan masa indah dalam hidup saya, walau tetap ada juga celah keindahannya

Bisa sebegitunya hidup gue? Haha.

Friday, March 19, 2010

Koboi Amrik Berbahasa Perancis?

Amerika dijajah Perancis? Haha, itulah yang terbersit di benak saya ketika menyaksikan Lucky Luke versi layar lebar, besutan sutradara James Huth. Bagaimana tidak, film dengan seting Amerika ini 100% dibawakan dalam bahasa Perancis tulen. Kenapa? Sebab memang pembuatnya orang Perancis, juga semua pemerannya. Bahkan lokasi syutingnya sendiri di Perancis dan Argentina. Pencipta tokoh Lucky Luke sendiri orang Belgia yang berbahasa Perancis, Morris. Dan komikusnya adalah Gosciny, komikus Asterix juga.

Sebagai pembaca setia semua serial karya Morris dan Gosciny, tentu saja saya wajib menonton film ini. Kayak apa Lucky Luke dalam bentuk manusia? Secara anatomi wajah, Jean Dujardin, aktor Perancis, memang pas betul menjadi koboi yang menembak lebih cepat dari bayangannya sendiri itu. Cuma, agak terlalu kekar, mengingat Luke yang akrab di pecinta versi komiknya digambarkan sebagai sosok begeng, tepos, kerempeng.

Sunday, February 7, 2010

It's Complicated, But Not for Us (Women)

Buat para suami yang berminat meninggalkan istri dan anak-anaknya, demi menikah lagi dengan cewek muda, sexy, berbuah dada wow, silakan menonton It's Complicated. Kalian akan menyaksikan betapa Jane (Meryl Streep), istri yang ditinggalkan suaminya selama 10 tahun, begitu bahagia menjalankan karir, dengan anak-anak menjelang dewasa.

Sedangkan mantan suaminya, Jake (Alex Baldwin), pusing dengan istri muda cantiknya yang masih memiliki anak kecil, berusaha hamil lagi, memaksanya menjalani terapi kesuburan di usia menjelang 60 tahun. Ia yang mulai renta dan sakit-sakitan juga masih harus meladeni Pedro, anak dari istri mudanya yang super duper nakal, agak kurang ajar.

Ketika Jake bersua lagi dengan Jane, si mantan istri, untuk perayaan wisuda anak bungsu mereka, Jake melihat Jane begitu happy, bergairah. Akhirnya Jake jatuh cinta kembali pada mantan istrinya yang walau tua namun masih cantik, anggun, bahkan sexy. Dan terjadilah hubungan aneh itu. Jake selingkuh dengan mantan istrinya sendiri. Jane sendiri bingung, sebab ia juga tengah PDKT dengan Adam (Steve Martin).

Dibintangi 3 bintang papan atas yang sudah cukup veteran, film ini memang ditujukan buat mereka yang mulai berumur. Namun saya yang tergolong muda pun cukup terhibur dan menangkap makna yang tersirat. Adegan konyol di beberapa scene tak mengurangi romantisme di film yang disutradarai Nancy Meyer ini. Lebih dari itu, saya terpesona oleh akting polos Meryl Streep yang mewakili wanita usia 50-an yang keibuan, mandiri, mencintai karirnya, dan tetap cantik. Tak heran jika mantan suami dibuatnya memilih dirinya ketimbang istri muda berdada montok, nan sexy.

Jake yang sadar bahwa ia terlalu tua untuk meneruskan keluarga barunya, mendadak rindu pada keluarga lamanya. Mantan istri yang pintar memasak, keibuan, mandiri, membuatnya ingin kembali pada keluarga lama itu. Namun Jane memilih Adam, kekasih barunya yang juga sebaya. Jake menerima kenyataan pahit bahwa istri mudanya pun tak menginginkan lagi. Ia dicampakkan semua pihak di usia tua.

Film ini menohok ego para lelaki tengah baya yang di puber keduanya mengejar kepuasan seks dengan para wanita muda, melupakan istri dan anak-anak di rumah. Mereka dibuat sadar bahwa daya tarik wanita muda itu hanya sekilas. Lelaki usia 50-an yang terpesona pada wanita usia 20-an sehingga silap mata dan menikahinya, kelak akan berhadapan dengan fakta bahwa 10 tahun kemudian ia harus menanggung beban menafkahi dan mengurus anak-anak balita, dan cewek muda sexy tadi bertransformasi menjadi wanita usia 30-an yang emosionil, banyak menuntut, tak peduli pada kerentaan usia si suami usia 60-an. Dengan rambut beruban, si suami masih harus mengurusi popok bayi, menggendong anak-anak balita yang nakal, dan seterusnya.

Sementara mantan istri dan anak -anak yang ditinggalkan hidup bahagia dalam dunianya. Dunia yang berjalan normal.

Nah, para perempuan yang khawatir ditinggalkan suaminya kawin lagi, jangan takut. Dunia itu adil. Para suami yang tergoda cewek muda, silakan saja kejar ambisi birahimu. 10-20 tahun lagi, kau akan menyesal dibuatnya.

Jangan Remehkan Gosip!

Jangan remehkan gosip. Karena gosip, seorang lelaki terbunuh, seorang perempuan stres berat, dan seorang anak manusia hancur masa depannya. Itu yang kutangkap dari film Leo, dengan bintang utama Joseph Fiennes dan Elisabeth Shue.

Ini sebuah film psikologis, yang akan membuat pehobi film action mengantuk. Bukan yang pertama saya menemukan film dalam bentuk VCD original obralan ternyata berkualitas bagus, bermakna, jauh lebih bermakna dari film yang heboh di layar lebar Indonesia. Ya, VCD original berjudul Leo ini saya temukan di rak obralan sebuah pasar swalayan. Gocengan alias Rp. 5000 saja. Film lain yang juga saya nikmati dengan harga setara namun bermakna adalah Hamlet 2, Sixty Sx, Forgetting Sarah Marshal, dan Roomate.

Oke, kembali ke soal gosip. Hanya karena mendengar gosip suaminya yang seorang profesor selingkuh dengan mahasiswa, seorang perempuan menjadi stres berat. Dia membalas perbuatan suami, berselingkuh dengan tukang catnya. Ternyata suami tak terbukti selingkuh. Ia hamil.

Hmm kayak cerita sinetron? Tidak, sebab sutradara Mehdi Norowzian mampu menghadirkannya dengan apik. Plot cerita dimana Leo belum lahir ini disajikan bersamaan dengan plot ketika Leo sudah dewasa dan baru keluar dari penjara. Penonton awalnya tidak langsung paham bahwa ini adalah setting waktu yang berbeda. Dirilis tahun 2002, film ini memiliki aspek artistik memikat. Saya suka pengambilan gambarnya, musiknya, narasinya. Pemeranan karakternya juga luar biasa.

Lanjut ke soal hamil tadi. Istri yang dicekam dosa berselingkuh itu hidup bahagia. Sayang kebahagiaan berakhir ketika suami dan anak sulungnya meninggal dalam kecelakaan. Begitu mendengar kabar itu, langsung ia terbayang perzinahaannya dengan si tukang cat, lalu pingsan. Bayinya lahir dalam kondisi tak normal, paru-parunya tidak sempurna. Anak itu diberinama Leopold, dipanggil Leo.

Nah, sampai di sini penonton baru sadar bahwa plot lelaki dewasa yang keluar dari penjara lalu bekerja sebagai pelayan bar adalah anak yang dikandung perempuan ini.

Leo dewasa hidup dalam tekanan sebagai mantan napi. Dia pendiam, suka menulis, yang sudah dilakukan sejak dalam penjara. Ia berfantasi menulis surat pada anak kecil yang sesungguhnya adalah sosoknya sendiri di masa lalu.

Selama hidup dengan ibunya yang janda, Leo diperlakukan kasar. Ia dianggap sebagai anak hasil perzinahan dengan si tukang cat. Ibunya tak pernah menyayanginya, bahkan melarang dia kuliah walaupun Leo anak yang pandai. Sang ibu menjadi pemabuk, dan masih terus diganggu oleh tukang cat yang makin memperlakukannya dengan kasar. Di situasi itulah Leo tumbuh besar, di tengah kekerasan fisik dan psikologis yang dialami ibu oleh kekasih pemabuknya.

Puncaknya, menginjak usia 18 tahun, Leo kehilangan kontrol. Tepat di ulang tahunnya, si ibu mengkronfontir kekasih tukang catnya bahwa Leo adalah hasil perbuatan zinah mereka. Tukang cat tidak terima, menganiaya ibu Leo, bahkan mengancamnya dengan pisau. Saat itulah Leo datang, menghajar kepala tukang cat dengan penggorengan sampai berdarah, dan mati.

Jadi begitulah kisahnya Leo si pendiam yang semestinya bisa jadi penulis sukses, masuk penjara.

Anak siapakah dia sebenarnya? Anak suami resmi ibunya yang profesor, atau si tukang cat? Dari investigasi di pengadilan, diketahui si tukang cat mandul.

Hmmm, jadi semua penderitaan Leo hanyalah hasil dari rasa bersalah ibunya yang berselingkuh dan mengira Leo adalah hasil perzinahannya. Kenapa ia selingkuh? Karena gosip tetangga!

So, watch out, teman-teman. Gosip atau berita yang belum tentu benar dan beredar dari mulut ke mulut, mampu meluluhlantakkan hidup banyak orang. Hati-hatilah dengan gosip.

View: Full | Compact * My Notes * Notes About Me * Drafts Bule with Bahasa Indonesia yang Good dan Right* Share Saturday, November 28,

Oh tidak, lagi-lagi film soal kiamat!
Belum pada bosan ya? Maaf, kalau saya sih sudah muak.

Nyaris semua status Facebook dihiasi segala yang berhubungan dengan film 2012. Mulai dari penyesalan ngga dapat tiket, penasaran ingin buru-buru nonton, atau bertanya apakah film itu bagus.

Saya pribadi, sejak beberapa bulan lalu isu mengenai film ini santer terdengar, sudah malas. Yang terlintas adalah, "Film bertema kiamat lagi? Apakah Hollywood sudah kehabisan ide? Akan ada berapa banyak lagi film bertema serupa?"

Atau apakah berdasar riset, tema tentang kiamat akan sangat diminati publik? Saya mecoba menganalisa, jika publik sangat berminat dengan topik kiamat, apakah berarti mereka takut, penasaran, percaya, tidak percaya, atau sudah tidak sabar menanti kiamat?

Film bertema kiamat besutan Hollywood yang saya ingat sudah saya tonton adalah Armageddon, The Day After Tomorrow, The Day the Earth Stood Still, dan terakhir Knowing. Sudah pasti banyak film dengan tema serupa, misalnya aneka serbuan mahluk angkasa luar macam Mars Attact, Men In Black, dan entah apa lagi yang sepertinya jadi tema pasaran macam pampers murah meriah di toko grosir.

Sebetulnya sebelum Knowing diputar saya sudah "bersumpah" stop nonton film kiamat. Tapi semua teman waktu itu mempromosikan betapa bagus dan edannya Knowing. Karena saya lumayan suka dengan akting Nicolas Cage, maka nontonlah saya. Dan kecewalah saya. Cage di sini tak ubahnya seperti Dude Herlino, bintang sinetron menyek-menyek. Sejak itu saya berikrar kapok nonton film kiamat.

Isu kiamat bukan hanya mendominasi film.Cerita tentang planet fiksi Nibiru dan kiamat Desember 2012 telah booming di berbagai media masa dari internet sampai TV. Pada Juni 2009 telah tercatat sebanyak 175 buku yang berkaitan dengan kiamat 2012 di Website Amazon.com.

Kalau di Indonesia, segala tetek bengek isu kiamat belum mantab surantab kalau tak dibumbui komentar paranormal semacam Ki Joko Bodo atau Mama Lauren yang ikut memborbardir khalayak kita di aneka infotainmen TV dan media cetak serta online. Lantas sejumlah bencana alam seperti gempa Tasikmalaya dan Padang pun dikait-kaitkan dengan isu tersebut. Ditambah lagi aneka gosip heboh soal kiamat mikro, kiamat kecil, kiamat lokal, dan entah ada berapa varian kiamat yang dihembuskan manusia sendiri.

Fenomena manusia yang menggilai isu kiamat ini sangat menarik. Dari waktu ke waktu kiamat menjadi misteri tersendiri, sebuah topik yang lahir dari keyakinan sejumlah agama, lantas dimodifikasi dengan sains. Ilmuwan bersaha mencari kaitan ilmiah antara kondisi alam dengan kiamat. Mereka yang religius juga tak henti memperingatkan akan kiamat sudah dekat, bertobatlah wahai umat manusia. Dari masa ke masa, manusia terus mencari tanda-tanda kiamat yang digambarkan di kitab suci dan khotbah rohaniawan. Dan industri film serta buku dan media pun mengendus isu kiamat sebagai produk andalan. Menjual keyakinan atas kiamat, ikutan ah menakuti manusia dengan kiamat. Atau kalau berusaha logis, menghubungkan kiamat dengan kerusakan alam akibat ulah manusia.

Okay, setelah isu kiamat 2012 ini, apa lagi yang akan digulirkan industri media dan hiburan kita? Syukur kalau 2012 ternyata belum kiamat, jadi kita bisa tahu jawabannya. Kalaupun benar kiamat, ya mau diapakan lagi? Mari beramai-ramai menikmati (dongeng) kiamat! Beramai-ramai menikmati keyakinan religi yang dibesut jadi dagangan komersil. Hmm kiamat ini cuma satu saja sih dari sekian banyak produk dagangan yang diolah dari keyakinan manusia akan agama atau apalah itu namanya.

Mungkinkah ada kompromi antara pemuka agama dengan kalangan industri agar dagangan mereka laku? Mari kita bertanya pada pantat Dewi Persik yang bergoyang.

Waktu Si Harry Ketemu Sally...dan Cinta

Sepekan ini saya berturut-turut menonton film bertema..ehem, cinta. The Ugly Truth, He Just Not That Into You. Dan terakhir ditutup dengan film klasik jadul, When Harry Met Sally.

Semuanya sama-sama berusaha menyibak tentang misteri cinta dan komitmen. Bagaimana dua manusia yang awalnya tidak saling mengenal, dilahirkan dengan latar belakang berbeda, tanpa ikatan darah dan keluarga, akhirnya justru jadi pasangan hidup selamanya, melahirkan anak-anak, cucu, cicit, bahkan membangun sebuah trah keluarga besar.

Itulah keajaiban cinta. Dan film, buku, lagu, tentang cinta, takkan pernah basi sepanjang masa. Tema cinta menjadi tema abadi, selalu disuka semua manusia. Kalau ada yang benci bicara cinta, tak lain dia adalah orang yang sedang patah hati, dikecewakan. Namun akhirnya dia akan kembali tertarik pada topik cinta. Mungkin diplesetkan menjadi cinta platonis, cinta pada orang tua, keluarga, dan sejenisnya. Tapi cinta tak pernah bisa membuat kita berpaling.

When Harry Met Sally pada dasarnya adalah film sederhana, dengan plot menarik dimana melompat dari satu tahun ke beberapa tahun kemudian, dengan obyek tetap sama: Harry ketemu Sally. Dari zaman mereka punya pacar masing-masing, sudah bercerai, sudah putus, sampai akhirnya mencoba dicomblangkan dengan pasangan lain. Ketemu, debat, berantem, pisah, ketemu, debat, berantem, pisah. Begitu terus.

"Lelaki dewasa tak bisa bersahabat dengan wanita dewasa, sebab ia akan selalu tertarik untuk tidur bersamanya," adalah quotation paling popular di film ini. Dan teori itu manjur, sebab akhirnya Harry dan Sally tidur bersama. Lebih mujarab lagi, sebab keduanya akhirnya jadian dan menikah di ujung cerita.

Film yang disutradarai Rob Reiner, dengan setting cerita 1970-an sampai 1980-an ini terasa membosankan memang kalau ditonton generasi kini. Tapi sulit ditolak bahwa bisa jadi di aksi "banyak ngoceh" Meg Ryan dan Billy Cristal inilah nyaris semua film komedi romantis mengacu.

Dua film anyar, "The Ugly Truth", dan "He Just Not That Into You" yang saya tonton belum lama ini juga masih berputar-putar pada topik persahabatan lelaki dan perempuan dewasa serta cinta dan komitmen. Bahkan sejumlah adegan saya pikir secara tak langsung diinspirasikan pada "When Harry Met Sally". Sebut saja bagaimana tokoh Abby Richter (Katherine Heigl) beradegan orgasme di resto ketika celana dalam bervibratornya tak sempat ia lepas. Ini mengingatkan saya pada adegan Sally (Meg Ryan) memperagakan orgasme di resto.

Lantas di "He Just Not That Into You" ada sejumlah narasi para lelaki dan perempuan bertestimoni tentang kehidupan cintanya, yang sangat mirip dengan narasi testimoni pasangan-pasangan gaek di "When Harry Met Sally".

Film genre komedi romantis masa kini memang jauh lebih heboh, berani menghadirkan adegan panas, konyol, lucu, lebay. Bisa jadi memang tuntutan zaman. Seperti saya katakan tadi, "When Harry Met Sally" akan terasa boring, bikin ngantuk, jika ditonton generasi masa kini, sebab banyak dialog, dan tidak dihiasi terlalu banyak adegan heboh. Namun saya berani bertaruh, para sutradara dan penulis skenario, bahkan juga pemeran film komedi romantis masa kini sudah menonton "When Harry Met Sally" dan menjadikannya sebagai "kitab sucinya" genre tersebut.

Cinta, sebuah misteri hidup tiada akhir yang selalu menarik dibahas (walau sedang patah hati).