Friday, June 17, 2011

Gadis Belia dan Mimpinya

Memori samar, saat duduk di kelas 2 SMA saya pernah bermimpi membuat media massa sendiri. Saat itu saya hanya bisa mewujudkannya dengan membuat DeathLine, koran tentang seluk beluk musik heavymetal. Bahannya dari terjemahan majalah Metal Edge dan Hit Parader terbitan luar, dan oret-oretan kartun saya yang ngaco. Ternyata banyak disuka, walau bentuknya cuma kertas HVS fotokopian, saya jual 500 perak sebagai ganti ongkos fotokopi.

Kelas 3 SMA, saya bermimpi menerbitkan majalah tentang seni dan budaya, namanya Apresiasi. Ngga kesampean, dan berakhir hanya dalam bentuk karton digunting menyerupai bentuk majalah. Tapi saya bikin rubrikasi, logo, dan covernya sendiri. Ah, cuma angan-angan remaja belia.


Zaman kuliah, saya bertekad menjadi jurnalis, dengan kebanggan nama dan tulisan saya dimuat di koran. Kesampean, sebab akhirnya saya menjadi jurnalis sebuah harian. Sampe mabok tiap hari nulis di situ.

Saat menjadi jurnalis, impian saya adalah menulis buku. Tuhan baik sekali, impian itu sudah diwujudkan. Hingga hari ini saya sudah menulis dan menerbitkan 8 judul buku, dan akan bertambah lagi. Bahkan diberi kesempatan membantu beberapa orang menulis buku.

Namun impian membuat majalah itu belum kesampean, hingga akhirnya 3 minggu lalu saya dikontak oleh seseorang yang mengajak saya membuat majalah. 

Ah, majalah kan udah banyak, mau bikin majalah apa lagi? Mana bisa laku? Modalnya dari mana? Ternyata majalahnya fokus pada bidang yang belum dibahas majalah lain.  Pemodalnya ada. Saya dipercaya menjadi pemimpin redaksinya. What? Tanpa harus melamar kerja, mengajukan CV, dan sebagainya?

Sudah 2 tahun ini saya hidup manja menjadi freelancer, dengan jam kerja semau saya, memilih proyek seenak saya. Mendadak tawaran itu datang bagai petir di siang bolong. Menjadi pemimpin redaksi? Diminta membuat konsep majalah, merekruit tim redaksi, bahkan ikut menentukan desain kantor? Ah, siapa bisa menolak?

Bayangan seorang remaja belia menggunting karton agar menyerupai bentuk majalah, membuat logo majalah dengan spidol warna merah, dari kamarnya yang amburadul, kembali terlintas di benak. Itulah saya waktu kelas 3 SMA dulu. Bermimpi punya majalah sendiri. Dan kini ada orang yang mengajak saya membuat majalah…

Senang, bahagia, namun sekaligus juga was was. Sanggupkah saya menjalankan tanggungjawab berat ini? Membuat majalah tidak semudah menulis buku. Majalah adalah kerja tim, melibatkan banyak orang dan pihak dengan kepentingan dan cara pandang berbeda. Butuh kerja keras, menyatukan banyak pendapat dan ide, berkompetisi dengan majalah lain, berhitung dalam hal bisnis dan nilai ekonomis, tapi sekaligus juga tampil sebaik mungkin di mata pembaca dank klien. Menyatukan idealism dan komersialisme.

Gadis belia yang menggunting karton dan berangan-angan punya majalah itu kini sungguhan dipercaya untuk membuat majalah sungguhan.
Mampukah dia? Mampukah saya?

foto: richkyoung.wordpress.com

3 comments:

akoe boedjang lapoek itoe said...

amienn..
saya doakan urusan pra penerbitan majalah ini cepat kelar dan lancar, mbak.

catatan mbak merry ini menginspirasi..
mimpi masa belia yg kini nyata.
salut..

oh yah mbak, template blognya diganti dasar putih dong. mataku kurang bersahabat dgn warna gelap. dan kata para webmaster sih, hasil penelitian menunjukkan warna dasar putih menjadi pilihan utama setiap pengunjung media online.. :)

salam.

Miftahgeek said...

Majalah apa ini mba? :)

Ricky Hermawan said...

Cerita yg hebat mbak Merry... ^_^
Tetap semangat!
Saya punya idola baru nih. hehe...

http://rickyhermawan99.blogspot.com/