Sunday, March 10, 2013

How I Fall in Love with Samin Surosentiko

-->


Judul di atas bukan sok nginggris. Tapi karena judul dalam bahasa Inggris bisa lebih ringkas ketimbang bahasa Indonesia: “Bagaimana Saya Jatuh CInta pada Samin Surosentiko”. Lagipula, biar bule-bule tertarik dan baca, eh tahunya kecele, sebab isinya bahasa Indonesia. Setidaknya sudah membuat lebih banyak orang penasaran dengan nama Samin Surosentiko.



Saya tidak akan membahas siapa Samin Surosentiko, sebab sudah cukup banyak literasi tentang orang yang bernama asli Raden Kohar Surowijaya ini. Googling saja keyword “saminisme” dan “Samin Surosentiko”, maka muncul banyak link penjelasan mengenai orang yang dikabarkan sakti ini.  Lengkap dengan ajarannya. Bahkan sejumlah ilmuwan asal Australia, Belanda, Jerman, Jepang, menulis analisa khusus tentang seorang Samin Surosentiko. 



Perkenalan saya dengan masyarakat Samin adalah dari mulut ke mulut. Rata-rata cerita lucu menggelitik. Misalnya jika ke daerah Blora, harus hati-hati saat mengendara mobil. Sebab akan banyak dijumpai orang Samin yang seenaknya saja menyeberang jalan. Kenapa? Sebab mereka berprinsip, itu jalan dibangun di atas tanah leluhurnya, maka mereka bebas saja memakai. Justru para pendatang yang membawa kendaraan lah yang harus tahu diri, jangan sampai menabrak mereka.


Kisah lain yang cukup menggelitik adalah, kalau orang Samin naik kendaraan umum, mereka tidak mau membayar.   

Berikut petikan dialognya:



Wong Samin: Kenapa saya harus bayar?

Kondektur: Sebab kamu naik bus ini.

Wong Samin: Memangnya kalo saya naik, apa ruginya buat kamu?

Kondektur: Ngga ada, tapi kamu harus bayar buat ganti bensin.

Wong Samin: Kan sudah ada penumpang lain yang bayar. Masak ngga terganti uang bensinnya?

Kondektur: Iya, tapi kamu juga harus bayar.

Wong Samin: Buat apa?

Kondektur (mulai stres): Sebab memang ini bisnis kami.

Wong Samin: Apa saya merugikan kamu dengan naik bus ini?

Kondektur: Tidak.

Wong Samin: Lalu buat apa saya bayar?

Kondektur: Sebab sudah peraturannya.

Wong Samin: Peraturan siapa?

Kondektur: Bos saya.

Wong Samin: Bilang ke bosmu, saya tidak merugikan dia.

Kondektur: Tapi kamu harus bayar atau turun.

Wong Samin: Ya saya turun saja, memang sudah tujuan saya sudah hampir sampai. *melenggang turun dengan santai*

Kondektur: *tepok jidat*


Seru bukan? Sikap ngeyel alias penuh argumen sarkastis para penganut Samin ini sudah berlaku turun temurun.  Diwariskan dari nenek moyang mereka yang menolak membayar pajak dan upeti ke pemerintah Belanda. Penolakan mereka bukan dengan kekerasan, melainkan dengan sikap ngeyel tadi.



Di buku Dangir’s Testimony: Saminis Reconsidered yang ditulis Takashi Shiraishi, dikutip bagaimana argument serupa dikemukakan pengikut Samin terhadap pemungut pajak dari pemerintah Hindia Belanda. Intinya, mereka menolak membayar pajak sebab merasa tidak pernah menyewa tanah atau apapun ke pemerintah. Tanah yang mereka diami adalah warisan leluhur. Tahu-tahu ada orang asing datang memaksa mereka membayar. Jelas mereka menolak.  Sikap ini membuat saya makin simpati dan menelusuri siapa itu Samin Surosentiko. Ternyata referensi seputar Samin cukup banyak sekali. Bahkan di Twitter, saya bertemu dengan teman-teman sesama “pemuja” Samin. 



Mitos-mitos Samin

 

Satu hal yang masih membuat saya penasaran, dimanakah Samin Surosentiko dimakamkan? Karena Samin akhirnya dibuang oleh Belanda ke Digul dan Padang, dan dikabarkan meninggal di Padang, saya pun berusaha mencari tambahan informasi ke teman-teman lain. Informasi terakhir, Samin dimakamkan di pekuburan orang rantau di Tanjung Putri, Sawahlunto. Tanpa nama, hanya angka-angka. Berarti, butuh pembuktian ilmiah untuk memastikan yang mana makam Samin.



Beredar pula mitos, Samin tidak pernah mati. Alasan Belanda membuangnya ke Digul dan Padang adalah karena Samin susah dibunuh di tanah Jawa.



Mitos lain, terkait dengan kemunculan wajah Samin di beberapa rumah makan Padang di Riau. Seorang teman di Riau menyatakan, beberapa kali ia melihat foto Samin di rumah makan Padang di sana. Saat ditanya ke pemiliknya, tidak ada yang tahu itu foto siapa. Hanya mereka percaya, dengan memajang foto itu, rumah makan mereka akan selamat dan diberkahi. Sebab pernah terjadi kebakaran, dan rumah makan yang memajang foto Samin bisa selamat. Baru saja teman itu berkisah lagi, pemilik rumah makan Padang meyakini wajah di foto itu pernah ke Tanah Suci dengan naik tikar.



Wow, seru-seru kan mitosnya. Bikin saya makin jatuh hati pada Samin Surosentiko.



Sudah beberapa kali saya share soal siapa Samin Surosentiko di Twitter, dengan tagar #SaminSurosentiko. Dua di antaranya sudah ada di Chirpstory:  Wong Samin, Sedulur Sikep, dan Samin Surosentiko dan SAMIN SUROSENTIKO, Anarkis Sejati Tanah Jawa



Identik dengan Orang Gila


Dari interaksi di Twitter maupun dunia nyata, ternyata masih banyak orang yang tak tahu siapa itu Samin Surosentiko. Tidak heran, nama Samin Surosentiko memang tidak pernah ada di buku sejarah NKRI.  Kalaupun ada orang yang pernah mendengar soal Samin, mereka sudah tercuciotak dengan anggapan bahwa Samin adalah pelopor ajaran sesat. “Wong Samin itu bukannya artinya orang gila?” Demikian salah satu teman bertanya.

Istilah “Wong Samin” sempat berkonotasi negatif.  Yang menghembuskan tak lain adalah penjajah Belanda, dan NKRI sendiri. Karena ajaran Samin Surosentiko selalu menentang segala jenis kesewenangan. 

Di era penjajahan Belanda, pengikut Samin alias Wong Samin selalu menolak membayar pajak dan memberi upeti. Mereka juga menentang penjarahan tanah leluhur untuk dijadikan perkebunan jati oleh Belanda. Kesal dengan ulah ini, Belanda menyebarkan kabar bahwa pengikut Samin yang tersebar di Blora, Pati, Bojonegoro, Remang, Kudus, adalah orang gila. Tak lain adalah agar rakyat lain tidak mengikuti ajaran mereka. 

Hal ini terus berlanjut ketika Belanda sudah raib dari Nusantara, dan negara ini berubah nama jadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Perkebunan jati di sekitar Blora dan Pati berganti kepemilikan, dari Belanda ke Perum Perhutani milik pemerintah NKRI. Mereka berusaha mengekspansi lahan warga sekitar. Sikap pengikut Samin tetap sama, menolak tanah leluhur mereka dikuasai pemerintah. Akibatnya, isu bahwa pengikut Samin adalah orang gila penganut ajaran sesat, terus dihembuskan. Kelamaan, istilah “Wong Samin” makin identik dengan orang gila.  

 “Dasar Samin kowe!” adalah contoh makian yang dipakai untuk kian menghancurkan kredibilitas para pengikut Samin.  Bosan dianggap gila dan sesat, para pengikut Samin memakai nama yang lebih bersahabat, Sedulur Sikep atau Wong Sikep. 


'Wong Sikep' karena Wong Sikep berarti orang yang baik dan jujur, sebagai alih-alih/pengganti atas sebutan 'Wong Samin' yang mempunyai citra jelek dimata masyarakat Jawa pada abad 18 sebagai kelompok orang yang tidak jujur. –Wikipedia-


Perlawanan Kini


Apakah perjuangan para pengikut Samin sudah berakhir? Tidak. Kini pengikut Samin di Pati dan Blora  tengah berjuang melawan proyek pembangunan pabrik semen yang dianggap akan merusak alam lingkungan mereka. 


Mereka menolak rencana pembangunan pabrik semen yang akan dilakukan PT Sahabat Mulia Sakti (PT Idocement) di Pati, PT Vanda Prima Lisri di Grobogan., serta PT Semen Gresik di Rembang, dan PT Imasco Tambang Raya di Blora. Alasan penolakan pembangunan pabrik semen ini, karena proyek tersebut akan merusak ekosistem kars di kawasan pegunungan Kendeng Utara. Aksi-aksi ini lumayan memicu konflik, termasuk dengan militer. 

Terbetik kabar, pada 17 Agustus 2012 lalu, para Wong Samin alias Sedulur Sikep melangsungkan upacara bendera di bawah todongan senjata. Sebab mereka dicurigai akan melakukan aksi rusuh. Padahal, sejauh ini belum ada aksi kekerasan yang pernah dilakukan Wong Samin. Ajaran Samin Surosentiko selalu menentang kekerasan. Semua perlawanan mereka dilakukan dengan cara diam, bersikap, dan berargumen. 


Di Twitter, saya bertemu dengan beberapa teman yang ternyata asli Blora , Randublatung, dan Pati. Juga seorang jurnalis yang tengah menulis riset tentang Samin untuk jurnal di Australia. Ternyata semangat Samin Surosentiko tetap menggelora. Bahkan ada yang membuat T-shirt Saminista bergambar Samin Surosentiko, yang dijual untuk penggalangan dana masyarakat Samin yang melawan pembangunan pabrik semen. Suatu hari nanti saya akan kembali ke sana, beranjangsana ke teman-teman Sedulur Sikep.


Ya, saya tidak akan pernah bosan mengabarkan siapa itu Samin Surosentiko. Dia boleh saja dihapus dari buku sejarah NKRI, tapi akan tetap abadi di hati kami.

1 comment:

samin sawahlunto said...

Mbak merry please look at youtube http://youtu.be/ptA1plMMUQc dan http://youtu.be/KRGXpX9tZG0 tentang makam samin di sawahlunto email ke yohanes.sumadi65@yahoo.com atau yohanes.sumadi65.ys@gmail.com.