Wednesday, March 24, 2010

Hasil Googling Nama Sendiri: Saya Pencuri?

Beberapa hari lalu, saya iseng-iseng browsing, bernarsis ria sedikit meng-googling nama sendiri. Eh kok nemu blog yg isinya menuduh saya sebagai pencuri dan plagiat:http://www.rumahtulisan.com/21/10/2009/blogging/sudah-dicuri-dijual-pula.html

Di situ disebut bahwa pemilik blog, Anton Muhajir, merasa dirugikan karena saya mengutip data di blognya tanpa seizinnya untuk buku saya, UU ITE, Don't Be The Next Victim. Ya jelas saya kaget dong, sebab saya sudah menyertakan judul artikel dan link blog yang saya kutip di daftar pustaka buku itu.

Memang kesalahan saya adalah saya ngga minta izin dulu ke dia. Tapi selama ini setiap saya menulis artikel maupun buku, saya selalu mengutip dengan tetap menyebutkan sumber beserta link, walau tidak minta izin, dan tidak pernah ada masalah. Plus, di blog Anton itu dulu belum ada disclaimer bahwa siapapun yg mengutip tulisannya harus minta izin. (Disclaimer baru dia buat setelah kejadian..hahaha lucunya).

Friday, March 19, 2010

Koboi Amrik Berbahasa Perancis?

Amerika dijajah Perancis? Haha, itulah yang terbersit di benak saya ketika menyaksikan Lucky Luke versi layar lebar, besutan sutradara James Huth. Bagaimana tidak, film dengan seting Amerika ini 100% dibawakan dalam bahasa Perancis tulen. Kenapa? Sebab memang pembuatnya orang Perancis, juga semua pemerannya. Bahkan lokasi syutingnya sendiri di Perancis dan Argentina. Pencipta tokoh Lucky Luke sendiri orang Belgia yang berbahasa Perancis, Morris. Dan komikusnya adalah Gosciny, komikus Asterix juga.

Sebagai pembaca setia semua serial karya Morris dan Gosciny, tentu saja saya wajib menonton film ini. Kayak apa Lucky Luke dalam bentuk manusia? Secara anatomi wajah, Jean Dujardin, aktor Perancis, memang pas betul menjadi koboi yang menembak lebih cepat dari bayangannya sendiri itu. Cuma, agak terlalu kekar, mengingat Luke yang akrab di pecinta versi komiknya digambarkan sebagai sosok begeng, tepos, kerempeng.

Wednesday, March 10, 2010

Nama Baik yang Menguap Bersama Kentut

"Dunia itu sempit, Mer. Apa lagi dunia media. Kemanapun kamu pergi nanti, akan bertemu lingkungan itu-itu juga. Jadi, jagalah nama baik," kata mas Kristanto Hartadi. Saya ingat betul dengan pesan mantan Pemred saya di Sinar Harapan itu, ketika saya pamit untuk resign, sekitar 2 tahun silam.

Saya rekam pesan itu dalam ingatan, sehingga selalu terngiang setiap kali melakukan tindakan, apalagi yang berhubungan dengan pekerjaan dan bisnis. Sependapat dengan mas Kris, saya setuju reputasi dan nama baik adalah modal utama seorang manusia. Tanpa kedua hal itu, derajadnya sebagai manusia sudah melorot menjadi "manusia yang tak bisa dipercaya dan punya rekam jejak buruk".

Di era serba cyber saat ini, menyebarkan reputasi dan nama yang sudah buruk itu mudah sekali.

Friday, March 5, 2010

Rasa Nyaman di Luar "Zona Nyaman"














Anak ayam saja tak dibiarkanNya mati kelaparan, apa lagi manusia? Kalimat itu terus berdengung di kepala saya pada bulan Januari lalu, bulan dimana saya memutuskan tidak memperpanjang kontrak kerja. Ya, saat itu saya dalam kondisi agak galau tapi berusaha yakin. 

Sebulan lebih sudah saya resmi jobless, alias tidak tercatat sebagai karyawan perusahaan mana pun. Dulu, saat kontrak kerja saya sudah tinggal menghitung hari, dan diberi kesempatan untuk memilih memperpanjang atau memutusnya, sempat ada perasaan galau di hati. Tidak lanjut kontrak kerja, artinya tidak ada lagi gajian bulanan, income tetap yang bikin saya ada di zona nyaman.

Thursday, February 25, 2010

Tolong Hargai Manusia yang "Bebas"

"Mau menemui siapa?"
"Bapak Anu, saya sudah ada janji jam 11."
"Dengan ibu siapa?"
"Merry."
"Dari mana?"

Nah, sampai di sini saya bingung menjawab. Kebetulan tadi dari rumah saja, masak saya jawab dari rumah di Depok? Hahaha. Kalau zaman masih kerja dulu, bisa saya jawab dengan "Dari Anu," dengan menyebutkan nama perusahaan tempat saya bekerja. Lho, sekarang saya sudah tidak bekerja, masak saya jawab, "Tidak dari mana-mana, mbak. Dari rumah naik angkot lalu nyambung patas AC, nyambung taksi biar ngga berantakan dan bisa dandan, lalu turun dan naik lift ke gedung ini." Kan pasti aneh kalau jawabannya begitu.

Sunday, February 21, 2010

Hidup dari Menulis Saja, Bisakah?

Seorang teman pernah bertanya, yang juga merupakan pertanyaanku beberapa waktu silam:

"Bisakah seorang penulis hidup dengan menulis saja?"

Kujawab bisa, apabila dia mau bekerja secara profesional. Menulis adalah pekerjaan yang dibutuhkan di semua bidang. Industri media massa, penerbitan, teknologi informasi, public relation, periklanan, pendidikan, keuangan, sains, semua memerlukan dukungan komunikasi tulisan. Facebook ini misalnya, kontennya membutuhkan penulis kreatif yang mampu menciptakan kata-kata singkat, tepat, jelas, misalnya dalam menerangkan sebuah fitur atau menu. Semua situs yang berebaran di dunia maya ini memerlukan penulis-penulis kreatif demi menghipnotis para pengunjungnya. Jadi, cukup banyak bukan peluang berkarir bagi mereka yang menggeluti dunia menulis?

Jawaban akan sedikit berubah andai ternyata pertanyaannya adalah:

"Bisakah seorang penulis hidup dengan menulis apa yang ia suka tanpa intervensi siapapun?”

Saya juga punya pertanyaan serupa ketika masih bekerja sebagai jurnalis dan editor beberapa waktu lalu. Ada semacam keinginan untuk berontak ketika kita harus menulis sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani. Misalnya saat saya mendadak dipindah ke desk liputan ekonomi dan bisnis, sebuah dunia yang saya tidak terlalu sukai. Apa daya, sebagai jurnalis saya harus menerima semua petintah atasan, sebagai simbol profesionalitas. Sebagai pekerjaan utama, menulis memang kerap dilakukan tidak selalu sesuai kata hati. Namun ada kesempatan untuk menulis semau kita, yakni menulis buku, puisi, cerpen, opini, yang bisa kita terbitkan sendiri, di luar otoritas perusahaan tempat kita bekerja. Jadi menulis yang benar-benar murni seirama dengan suara hati baru bisa diwujudkan sebagai hobi atau pekerjaan sampingan saja.

“Lantas, kapan penulis bisa menulis sesuai kata hatinya, sekaligus juga hidup dari situ?”

Ya, bisa saja kalau dia terlahir dari keluarga kaya. Tidak perlu bekerja menafkahi diri sendiri, cukup menulis saja semaunya, lantas kirim ke seantero media massa, atau terbitkan buku sendiri, bikin blog dan web sendiri. Jadi menulis di sini sebagai hobi utama yang digeluti habis-habisan, kemudian menjelma menjadi karir ketika memang tulisannya bagus, disukai banyak orang. Atau bisa ditunjang dengan pendidikan formal, dimana ia kuliah bidang jurnalistik, sastra, belajar banyak literatur asing, bahkan sampai ke luar negeri. Jadilah dia penulis profesional akademis, sastrawan, dan sebagainya.

“Wah asyiknya lahir dari keluarga berada. Gimana kalau dari keluarga pas-pasan, dong?”

Mau tak mau harus mengambil jalur seperti yang saya lakukan, yaitu awalnya menulis sebagai pekerjaan profesional. Bisa jadi jurnalis, penulis skenario, pengelola konten web, editor, pembuat teks iklan, dan banyak lagi. Lalu di waktu senggang bisa menulis buku, puisi, cerpen, sebagai hobi sekaligus kerjaan sampingan. Jika memang berminat kelak ingin jadi penulis lepas agar dapat menulis sekehendak suara hati tanpa tekanan dari atasan, maka tips yang bisa saya berikan:

-Menabunglah
-Perluas network
-Jaga reputasi

“Apakah setelah itu kita bisa menulis semau sendiri?”

Hmm, setdiaknya saya bisa menulis buku dengan topik yang saya pilih sendiri. Kalau pekerjaan profesional dimana saya sebagai editor lepas, penulis pendamping, penulis bayangan, dan mediator ke penerbit, saya bisa menerima klien yang saya rasa cocok, baik topik tulisannya, sampai individunya. Ya, memilih klien ini harus disesuaikan dengan apakah kita merasa sreg dengan cara dia berpikir, berbicara, pola pandangnya, bahkan mimik wajah dan intonasi suaranya. Saya malas berurusan sama orang yang pemarah, perfeksionis sekali, moody, tidak konsisten, dan jam karet. Hehehe. Kalau topik tulisan, jelas saya sangat fleksibel, akan membantu menulis atau mengedit naskah selama itu saya sukai. Kalau naskah esek-esek, atau menjatuhkan pihak tertentu, apalagi fitnak, nanti dulu lah.

“Jadi kapan kamu bisa jadi penulis sukses yang bebas menulis sesuai kehendak hatimu?”

Definisi sukses itu apa ya? JK Rowling, Dan Brown, Andrea Hiratta, Dewi Lestari, Ayu Utami, Chairil Anwar, JD Salinger, Pramudya Ananta Toer? Apakah sukses berarti harus terkenal seantero jagat?
Bagi saya popularitas itu hanya imbas saja. Obsesi saya saat ini bukan menjadi terkenal, tapi mampu mencintai profesi saya sebagai penulis. Kalau bisa sampai mati pun hanya ini yang saya lakukan, menulis.
Dari begitu banyak buku yang sudah berlahiran dari tangan saya memang baru 3 buku yang menggunakan nama saya, plus 1 lagi saya tercantum sebagai co writer. Namun dengan mulainya saya menjadi full time writer dan frelance editor sejak awal bulan ini, semoga akan lebih banyak buku yang bisa saya brojolkan. Tujuannya bukan popularitas, melainkan kepuasan batin.

Buat para teman penulis muda, ayo semangat

Friday, February 12, 2010

Tidak Ada "Pelacur" dalam Seni dan Sains

Tepat setahun lalu, saya pernah menulis "Penulis Idealis? Tell Me About It!", yang mempertanyakan apakah idealisme penulis bisa menjamin kesejahteraan hidupnya. Di situ saya ambil contoh kasus NH Dini, penulis yang semasa jayanya berkeras hanya mau menulis novel sastra dan cerpen. Di saat tuanya kini, penulis yang bukunya laris manis itu terpaksa melelang lukisannya untuk biaya berobat, tinggal di panti wreda, menerima sumbangan untuk pengobatan penyakitnya. Tak bisa dikatakan sukses secara finansial, bukan?

NH Dini memang bukan tipe penulis yang menulis demi karir dan nafkah, melainkan sekadar hobi saja. Bahkan pernah saya baca, ia menganggap menulis jika di luar karya sastra adalah "melacur".Tapi lihatlah bagaimana kondisinya hari ini.

Di masa muda dulu, saya pernah melewati masa tergila-gila menulis sastra. Puisi, cerpen, semuanya dalam genre yang serius, berusaha berbahasa indah, baik, dan benar. Tak heran jika beberapa teman yang saya tunjukkan karya lawas saya dulu berkomentar, "Kok, beda ya tulisan lu sekarang sama dulu. Yang dulu lebih nyastra.". Betul, belasan tahun sudah saya melupakan dunia sastra, demi menekuni jurnalistik, dan penulisan populer.

Lantas apakah saya "melacur'?

Tidak. Saya berteori bahwa menulis itu sama dengan bidang seni lain. Ada yang namanya seni murni, dan seni terapan.

- Seni murni: adalah ketika seni itu dikreasikan murni untuk tujuan seni, keindahan. Di sini termasuk lukisan yang memang diciptakan sebagai lukisan, tulisan sebagai karya sastra, patung sebagai karya seni, dan seterusnya. Seni murni punya kontribusi bagi kehidupan untuk mengekplorasi keindahan, nalar manusia, rasa, pendalaman berbagai gaya dan aliran. Kalau salam dunia sains ia adalah sains dasar. Bidang ini tidak langsung dirasakan manfaatnya, tapi menjadi dasar pengembangan.

- Seni terapan, alias applied arts, adalah ketika seni sudah dikembangkan sesuai dengan kebutuhan manusia. Yang seperti apa? Tulisan saya ini adalah bentuk seni menulis terapan, karena lebih difokuskan pada fungsinya, yaitu sebagai alat komunikasi penyampaian opini. Konten web, advertorial, berita, artikel, konten dari Facebook dan blog, sampai naskah pidato presiden, buku populer, skenario film, adalah bentuk dari applied writing arts. Jika di dunia sains disetarakan dengan sains terapan seperti teknologi seluler yang kita nikmati sehari-hari, aplikasi Internet, dan seterusnya. Jadi dia lebih mengutamakan fungsi, bukan keindahan dan esplorasi.

Seni murni, sama dengan sains dasar, di banyak negara tak bisa dijadikan tambatan karir yang menjanjikan. Memang banyak seniman seni murni yang sukses, meraih nama besar, dan income luar biasa, demikian juga ilmuwan sains dasar. Namun kompetisi di bidang itu sangat luar biasa, memerlukan perjuangan hebat dan kesabaran, mengingat fasilitas di banyak negara berkembang kurang menunjang. Karena bidang seni murni dan sains dasar memang sangat spesifik.

Seni terapan dan sains terapan, adalah bidang dimana seniman dan ilmuwan dapat berkontribusi secara lebih luwes dan fleksibel. sebab bidang ini langsung dirasakan manfaatnya oleh publik, diperlukan, didukung oleh industri massal. Jangan heran kalau di sini prospek karirnya lebih cerah, banyak diminati orang, dan terkesan komersil.

Jadi tak layak jika dikatakan seniman dan ilmuwan yang terjun ke dunia applied arts dan applied science dikatakan tidak idealis alias melacur. Mereka tetap ada di jalurnya, hanya dengan warna berbeda.
Saya pernah ada di dua dunia itu, murni dan terapan. Sastra dan populer. Kini rasanya saya ingin menjalankan keduanya lebih seimbang. Semoga saja bisa.

Mesin Tik Tua yang Tutsnya Menguning...

Dulu sekali, seorang cewek abege tergila-gila menulis. Hanya bermodal mesin tik Brother milik kakek, ia mampu menghabiskan sekian rim kertas folio A4. Kala itu masih kelas 3 SMP, sudah cukup nekad mengirimkan cerbungnya ke majalah remaja Hai. Tapi apa daya berbulan-bulan penuh harap dinanti kabar baik pemuatannya, tak kunjung datang. Cewek abege yang berkhayal ingin jadi Lupus perempuan itu pun patah hati.

Baru ketika di kelas 1 SMA, ia terkejut luar biasa mendapati cerbungnya dimuat di majalah mingguan itu. Si Pion, judul cerbung itu, dipecah menjadi empat bagian. Sejak itu ia makin rajin memantul-mantulkan jemari mungilnya ke tuts mesin tik tua.

Sejak itu berlahiranlah aneka cerita serial, novelet, yang setiap hari dia ketik dan ketik dan ketik sepulang sekolah hingga malam hari. Zaman itu belum ada email, hingga cewek ABG itu malas sekali mengirimkan naskah-naskahnya karena harus ke kantor pos. Nanti saja, kalau sudah banyak sekalian akan kukirim sekaligiu, begitu ia berencana.

Rencana tinggal rencana. Kelas 2 SMA, perempuan yang mengasuhnya sejak kecil, sang nenek, menghembuskan nyawa terakhir. Si cewek tadi sedemikian dirundung duka, sebab nenek itu lah satu-satunya manusia di muka bumi ini yang mendukungnya menjadi penulis. Lain tidak ada. ia menjadi begitu kacau, melupakan semua manuskrip yang sudah diketiknya bertahun-tahun. Menganggapnya hanya tumpukan sampah. Dan merantaulah ia ke kota lain untuk melupakan semuanya.

Hari ini dia berusaha mengais-ngais satu demi satu karya lawasnya yang sempat terekam komputer. dia menemukan beberapa, dan tercengang-cengang, betapa dulu ia punya imajinasi sedemikian indahnya. Ia sedikit menyesal tak menyimpan semua manuskrip lama itu. Ia menyesal melupakan fantasinya menjadi penulis fiksi. Ia justru sudah menikung ke non fiksi, menjadi jurnalis, ghostwriter, menulis buku teknologi, membuat website sains, menulis untuk orang lain, mengedit naskah orang, dan semua bidang yang kian jauh dari jalur awalnya dulu.

Cewek abege itu adalah saya. Malam in, belasan tahun kemudian,i saya membaca satu-satu cerpen lawas saya, dan nyaris menitikkan air mata. Saya rindu mesin tik tua merk Brother yang tuts putihnya sudah menguning itu...saya rindu semua manuskrip yang pernah dihasilkannya dan kini pasti sudah membusuk dimakan usia..

Dua Perempuan (cerpen tahun 2002)

Ia membelalakan matanya yang memang sudah besar itu ke arahku. Kenyataan yang baru saja kututurkan sangat sulit diterima otak dan hatinya. Tapi bagaimana lagi. Semua adalah fakta tak terbantah. Bahwa aku punya kakak gila dan kakak ipar tak waras. Keduanya hidup, menghirup oksigen sama di dalam rumah orang tuaku. Rumah kecil namun berisi sembilan buah kepala yang harus diberi makan setiap hari. Mirisnya hanya aku seorang yang punya pekerjaan tetap. Selebihnya serupa manusia-manusia tanpa masa depan. Apalagi kakakku yang satu itu.

Satu demi satu bayi lahir dari perut kakakku tanpa pernah merasakan menjadi ibu. Bagaimana bisa menjadi ibu kalau setelah melahirkan lantas ia tertawa seolah tak terjadi apa-apa. Padahal empat kali sudah ia melahirkan bayi-bayi tanpa ayah. Yang pertama kini telah kelas enam SD. Tumbuh sehat diadopsi oleh seorang kerabat jauh dan tak pernah tahu sejarah hidupnya. Bayi kedua langsung almarhum begitu dilahirkan. Bayi ketiga terpaksa diadopsi kakakku pertama yang sejak menikah tak juga dikaruniai anak. Dan bayi keempat kami tinggalkan begitu saja di rumah sakit bersalin sebab kami sama sekali tak punya uang untuk menebusnya.

Peristiwanya sedikit menggemparkan. Kalau saja koran ibukota ‘murahan’ itu tak memuat berita tentang bayi-bayi terlantar di rumah sakit, tentu hingga sekarang kami tak tahu bagaimana nasib si bayi. Tapi di suatu pagi seorang tetangga mengejutkanku dengan membawa sehelai koran yang memuat berita terkutuk itu. Tertera foto empat orang bayi tak beribu yang ditinggal di sebuah rumah sakit. Hatiku seperti terantuk palu godam. Sebab jelas di situ disebutkan salah satu bayi adalah anak kakakku, Rina.

Dan merebaklah berita ke pelosok kampung. Kampung kami yang memang sudah padat dan kumuh menjadi tambah riuh dengan gosip murahan macam itu. Awalnya kucoba sembunyikan kenyataan ini dari telinga orang tuaku. Namun apa daya, mulut para tetangga jauh lebih kuasa dari segalanya.

Keadaan bertambah parah ketika datang dua orang petugas dari rumah sakit ke rumah. Mereka berhasil melacak keberadaan kami. Tak lain dan tak bukan tujuan mereka adalah meminta pergantian biaya selama si bayi dirawat.

Bayi itu lahir prematur. Jadi ia harus tinggal dalam inkubator selama di rumah sakit. Biaya sebulan untuk inkubator itu plus uang susu bisa meludeskan seluruh harta kami kalau dijual. Total jendral dua bulan lebih sudah bayi itu dirawat di sana.

Kondisi rumah kami yang bobrok tak membuat gentar para petugas rumah sakit untuk menagih bayaran. Ditambah kedua orangtuaku yang jelas-jelas tak bekerja dan sakit-sakitan. Petugas tersebut tetap teguh kukuh berlapis baja berkeras bahwa kami harus melunasi seluruh biaya perawatan sang bayi selama di rumah sakit, titik.

Aku selaku ‘kepala rumah tangga’ berusaha keras meyakinkan mereka bahwa kami memang keluarga tak mampu.
“Tak ada maksud untuk berkelit dari tanggung jawab. Kalau tidak terpaksa kami tidak akan meninggalkan bayi itu,” begitu salah satu argumenku.
Tapi kedua petugas itu tetap ngotot.

“Lihat sendiri kondisi ibu si bayi. Sama sekali tak merasa bersalah. Ia memang tak waras dan kami tak punya cukup uang untuk membawanya ke dokter jiwa,” tambahku. Dan jadilah aku serupa pengkotbah yang panjang lebar menuturkan kondisi keluarga kami. Bapakku yang tua tak berdaya. Ia hanya melenggang keluar rumah tanpa bicara. Bermain gaplek bersama teman-teman untuk melepas stres. Sedang ibuku masuk ke kamar, menangis. Kakakku yang gila mengurung diri di kamar belakang, merokok banyak-banyak. Kakakku lain yang sudah menikah dan masih tinggal seatap cukup sibuk mengurusi anak-anaknya. Dan kakak iparku yang pengangguran berambut gondrong dengan enteng tertidur lelap sehabis begadangan semalam suntuk. Jadilah aku ujung tombak segala permasalahan ini.

Setelah mencapai perdebatan panjang tiga hari, dicapai kesepakatan. Kami, tepatnya aku, harus mengurus surat tanda tidak mampu ke RT, RW hingga kelurahan sebagai bukti bahwa keluarga kami benar-benar miskin. Dengan surat itu maka kami mendapat keringanan dari rumah sakit. Cukup membayar biaya persalinan saja. Sedang si bayi terbuka untuk diadopsi siapa saja yang berminat. Calon orang tuanya yang akan menanggung biaya perawatan rumah sakit. Sedikit lega hati ini.

Persoalan belum berakhir. Seorang perawat rumah sakit mendekatiku. Ia ingin si bayi diadopsi kerabatnya. Janji muluk disodorkan pada orangtuaku.

“Saya akan mengganti biaya persalinan, plus uang terimakasih bahwa bayi itu diizinkan kami ambil,” ujarnya. Ia meninggalkan nomor telepon dan pergi dengan hati berbunga setelah kami dengan mudah menandatangani surat persetujuan adopsi. Sehari, dua hari, tiga hari tanpa kabar jelas. Hari kelima aku datangi rumah sakit tadi. Si bayi sudah tak ada. Kuhubungi nomor telepon si perawat yang tak ada jejaknya, ternyata nomor palsu. Lemas sudah aku. Kemana bayi itu dibawa, bagaimana nasibnya, tak seorangpun tahu.

# # #

Asap rokok dalam kamar ini makin tebal. Tak terasa dua pak sudah kami habiskan bersama. Baru malam ini kuungkap seluruh uneg-uneg hati. Setelah sekian lama bersahabat dengan Ayala, tak bisa lagi kusimpan setitik rahasia darinya.

Sama denganku, Ayala adalah perempuan dengan berton-ton problem dalam hidupnya. Tak cukup satu, dua atau tiga ton bahkan. Nyaris seluruh hidup kami penuh dengan masalah tanpa henti. Susul menyusul ibarat ombak bergulung di lautan. Bertubi-tubi tanpa henti. Baru sekejap kami keluar dari satu problem, selalu disusul oleh problem lain. Begitu terus tiada habisnya. Seolah masalah adalah patner hidup kami. Dan problem merupakan nama tengah kami berdua.

Nasib Ayala tak kalah miris dari nasibku. Terlahir dari suami istri yang sudah bercerai, perempuan itu punya tiga bapak dan tiga ibu dalam hidupnya! Satu bapak-ibu kandung, satu bapak-ibu tiri dan satu bapak-ibu angkat. Kini Ayala sendiri tengah mempersiapkan perceraiannya. Berarti anaknya kelak akan punya ibu tiri dan bapak tiri kalau ia dan mantan suaminya saling menikah lagi dengan orang lain. Aneh? Apa boleh buat, inilah kenyataan. Sama anehnya dengan aku yang punya kakak perempuan gila dan kakak ipar maniak seks.

Mengenai si maniak seks ini aku juga sudah bercerita pada Ayala. Ia anjurkan agar aku menusuknya dengan pisau dapur kalau berani menggerayangi tubuhku di waktu malam. Aku belum segila itu. Mungkin kalau Ayala ada di posisiku juga takkan begitu nekad.

Pernah terobsesi untuk meninggalkan saja ‘rumah gila’ itu. Tapi siapa lagi yang akan peduli dengan orangtuaku? Kecuali aku, tak ada yang berpikir bagaimana agar kesembilan kepala penghuni rumah bisa tetap makan dan hidup. Bapakku sendiri kadang dengan batuk-batuk permanennya masih menerima tawaran menjadi supir pribadi teman SD-ku dulu yang kini sudah jadi direktur. Teman itu sama sekali tak pernah menyapaku sama sekali. Tentu saja ia malu berteman dengan anak supir kendati dulu pernah duduk sekelas denganku.

Satu-satunya hiburanku adalah menghabiskan waktu bersama Ayala. Kami bukan lesbian. Perjalanan cinta kami sama-sama terpuruk kandas. Kami berdua berusaha mencari lelaki dan cinta sejati. Kalau mendapatkan keduanya tentu hidup kami sedikit lebih berarti. Jangan seperti sekarang, pekerjaan tak membanggakan, penghasilan pas-pasan dan hidup pun sudah diganduli maslah aneh-aneh.

Maka tibalah kami di setitik kebahagiaan itu. Aku bertemu Rio dan Ayala bertemu Satho. Sejak itu kami saling asyik dengan kisah masing-masing. Hanya sesekali saja bertemu untuk bercerita. Dan ketenggelaman kami itu membuat dunia jadi sedikit berbeda. Bayangan kakakku yang gila, kakak ipar maniak seks, rumah bobrok berisi sembilan kepala minta diberi makan, hilang sudah. Hanya ada warna-warni indah. Persis seperti anak usia puber dengan cinta pertama. Diiringi lagu-lagu cengeng roman picisan kami pun meneguk setitik keindahan. Puncak, vila, hotel. Gitar, tape recorder hingga video disc. Sheryl Crow, Cranberries, The Corrs pun terdengar menggantikan Led Zeppelin, Scorpion dan Deep Purple yang muram. Tanpa cocain dan morpin kami mabuk, tenggelam dalam gelora asmara.



# # #



Brak! Dan kami pun berakhir kembali di ruang penuh asap rokok. Ayala membelalakkan matanya untuk ke sekian kali. Aku sendiri harus menerima kenyataan pahit lagi. Bukan, bukan aku dan Ayala yang mendadak hamil akibat perbuatan bebas. Tapi kakaku si gila tadi kutemui muntah-muntah di kamar mandi. Dia hamil untuk kelima kalinya. Dan aku memutar otak setengah mati bagaimana caranya agar orangtuaku tidak mati berdiri karenanya.

Bukan itu sama kejutan pada pertemuan kami di kamar sewaan Ayala. Setelah beberapa waktu kami berpisah untuk saling mereguk manisnya cinta, ternyata perempaun yang beberapa tahun lebih tua itu tak kalah dengan kisah baru. Mantan suaminya yang kupikir gila tidak terima mengetahui Ayala pacaran lagi. Pagi siang mala Ayala diteror lewa telepon. Diancam mau dibunuh dan segala macam kalau terus berpacaran.

“Dia masih mencintaimu,” pendapatku.

Tanpa ekspresi, Ayala menggeleng sembari memainkan kepulan asap rokok. Entah sudah filter keberapa membakar tenggorokan dan paru-paru kami malam itu.

“Dia cuma butuh uangku. Dia takut uangku habis untuk pacaran hingga tak tersisa buat anakku,” katanya dingin dengan terus mengepulkan asap bentuk bulat-bulat. Bibirnya memonyong.

Inilah pangkal dari permasalahan hidup kami, uang. Selalu saja uang dan uang. Kalau saja kami bisa seperti Thelma and Louise atau Calamity Jane. Tapi hidup tetap hidup. Kenyataan adalah kami warga Jakarta beserta segala tetek bengeknya: kumuh, miskin dan beruntung bisa tersenyum hari ini. Sebuah kota dimana perempuan merupakan mahluk bergincu yang bisa digodai di jalan. Dan kalau berperilaku sedikit menggoda justru berarti adalah cewek tidak beres yang harus bersedia dikerjai.

Sebuah kota panas 29 derajad celcius tapi semua orang akan memandang aneh kalau kau berjalan dengan kaos lengan buntung. Yeah, ini Jakarta,bung. Bukan Denpasar atau Singapura. Jakarta yang dimana kalau bayar ongkos bis kurang seratus perak bisa membuat kondektur naik darah dan mengeluarkan kata-kata terkotor di telingamu. Dan hari itu aku berdua Ayala kembali tenggelam dalam masalah-masalah pelik kami. Seperti biasa.


Pinggiran jakarta mei 2002.

Orang-orang di Lorong Gelap (cerpen tahun 2002)

Dari jauh sudah kukenali kepala botak mengkilap Si Rix. Diterpa sinar matahari berkilatan mirip lampu bohlam kuning menyala. Matanya menyipit menahan terik matahari. Ia berjalan gontai dengan tubuh begengnya. Dan ia bangga betul. Tidak jarang ia menahan lapar untuk menjaga kekerempengan tubuhnya.

“Anax punk gax pantez gemux,” argumennya dalam bahasa kami.

Ada Inggris British dan Inggris Amrik. Kamu pun menciptakan Indonesia British. Maksudnya, bahasa Indonesia yang dibuat aksen Bristish. Kami memakainya saat ngobrol antara kami saja. Kelamaan jadi terbiasa dan kami gunakan pula ketika ngobrol dengan orang di luar kami.

Aku sendiri tengah meratapi cat rambut unguku yang mulai luntur. Beli lagi berarti uang lagi. Tapi Onix punya formula jitu membuat cat minyak jadi cat rambut awet lagi aman. Entah bahan kimia apa ditambahkannya pada cat minyak agar bisa jadi enak jatuh di rambut. Ia sudah buktikan dengan memakaikan sendiri cat minyak warna hijau ke rambut landaknya.

“Boleh zuga,” komentarku.
“Cobha saza. Zamin gax nyesals, dech!”

Sore itu kami kumpul di Loronkz Punx, sebuah lorong kecil diapit dua gedung megah. Lorong yang menjadi ‘jalan cacing’ bagi penduduk daerah situ. Lorong dimana ada penjual majalah, CD bajakan hingga berbagai aksesoris. Lorong tempat anak punk kumpul tanpa diganggu pandangan mata aneh.

Rix ternyata bawa Psichedelic, majalah punk Eropa yang entah ia dapat darimana. Biasanya sih hasil meng-hacker*. Kami langsung mengerumuninya seperti semut melihat gula. Teman kami lain yang semula asyik menjajal-jajal CD bajakan ikut membanjiri Psichedelic .

* * *

Aku tahu kalau usiaku tidak lagi bisa dibilang muda. Maka tidak heran kalau ibuku terus bercuap-cuap sepanjang aku berada di rumah. Ia mengeluh soal rambut pink-ku yang belum lama kucat lagi jadi ungu. Belum lagi kicauan tetangga nyinyir usil soal teman-teman dan pergaulanku. Untung aku bekerja di sebuah perusahaan iklan yang membebaskan karyawan berbusana aneh-aneh selagi masih dinilai sopan. Jadilah aku terpaksa menahan diri untuk tidak mengenakan jeans rombeng . Tapi anting di hidung dan jaket kulitku diizinkan. Thanks God!

Kicauan ibu bukan sebatas cara dandan dan teman-temanku, namun merembet ke soal perjodohan dan pernikahan. Huek. Mau muntah aku mendengarnya. Katanya aku ini perawan tua salah gaul dalam dandanan orang stress . Gila betul ibuku, tega nian mengataiku demikian keji. Dia tidak tahu bahwa obsesiku untuk sebesar Patty Smith** dan Cyndi Lauper belum kesampaian sejak dulu. Dia tidak paham bahwa aku serasa hidup di dekade 1970-an di kawasan kumuh Amrik kalau sudah kumpul dengan teman-teman di Loronkz Punx. Aku jadi lupa kalau hidup di Indonesia, sebuah negeri tropis sumpek yang tak pernah menghargai puisi.

Di lorong itu pula aku bertemu teman-teman sealiran , seidealisme. Bisa diajak ngomong panjang lebar tentang Iggy Pop***, David Bowie, Andi Warhol, Basquiat**** sampai dengan kisah kasih Sid dan Nancy. Kami sempat punya band bernama ‘The Punxters’ yang kini tak pernah manggung lagi karena kesibukan kerja.

“Kamu sedangs apa, Nox,” suara Dex mengagetkanku. Malam minggu ini seperti biasa kami habiskan keliling kota berdua saja. Kami akan jalan-jalan atau sekedar nongrong hingga kelelahan dan berakhir di sebuah hotel murahan langganan kami.
Kupandangi wajah tirus Dex, lelakkiku dalam dua tahun belakangan ini. Sepintas ia mirip Sid Vicious*****. Karena itu juga mungkin aku dulu suka dia. Tapi aku sama sekali tak berminat punya kisah kasih mirip Nancy.
Ia mengepulkan asap rokok ke arahku, pertanda meminta jawaban segera. Aku terhenyak tak tahu harus bicara apa. Dex bukan tipe lelaki yang ingin cepat menikah. Aku hanya ingin bilang bahwa ibuku mengataiku perawan tua. Padahal sama sekali aku sudah tidak perawan, hahaha!

“Tidak apa-apa. Zuma melamun aza. Zampai kapan zinta kita terealisasi zebatas kamar hotel ini, ?”
Aku sendiri kaget dengan kelancaran kata-kata itu. Dex tidak kalah kaget. Kedua alisnya terangkat
.
“Kau kira zinta kita zuma zebatas kamar ini? Crazy!”

Lelaki kerempeng itu seperti kebakaran jenggot. Ada kemarahan di wajahnya.
Aku coba tidak peduli. Terus saja mengelagut sendiri. Aku tidak mau menyebut satu kata yang dibencinya, pernikahan.

“Aku tetap zinta kamu walau tidax dalam kamar hotel ini, Nox. Camkans itu!”

Aku paham betul maksudnya. Bahwa ia mencintaiku bukan cuma untuk bergelut di atas ranjang. Namun ia seolah tak mau mengerti bahwa sebagai perempuan aku juga butuh status jelas selain sebagai pacar yang bisa diajak tidur di hotel murahan setiap birahi memuncak.

Dex punya enam bersaudara dari bapak dan ibu berbeda-beda. Bapaknya kawin dua kali, begitu juga ibunya. Kemauakannya terhadap institusi pernikahan muncul dan berkembang sejak ia menjelang pubertas. Dalam usia semuda itu ia sudah menyaksikan ratusan bahkan ribuan kali pertengkaran dua bapak dan dua ibunya. Ada semacam dorongan kuat di batin Dex untuk tidak menciptakan sebuah keluarga. Adalah dosa membentuk sebuah keluarga besar tanpa setitik kebahagiaan.

Di awal hubungan kami dua tahun lalu ia sudah utarakan itu. Tak terbersit sedikitpun untuk menikah. Hari-hari pacaran kami bisa diisi dengan mendengar musik, baca buku, nonton film atau bercinta. Tapi tidak untuk membicarakan rencana pernikahan. Dan kenyataan itu baru mengusikku belakangan hari ini.

* * *
Sore menjelang malam minggu. Musik berdentam keras dari dalam kamar. Suara Nena Hagen menjerit-jerit seperti tikus terjepit pintu. Aku suka. Perempuan Jerman anti kemapanan dan meneriakan revolusi melalui lagu-lagunya. Seperti biasa, malam ini aku janji dengan Dex untuk jalan-jalan keliling kota. Puncak, tujuan kami malam ini untuk double date dengan Onix dan pacar barunya. Paling-paling sewa vila bersama. Menyenangkan, daripada di hotel murahan biasa.
Aku sibuk berdandan memantas-mantaskan baju apa yang harus kukenakan nanti. Jaket kulit kesayanganku sedang dicuci. Apa boleh buat, terpaksa dengan jaket jeans belel yang ditambal emblem berbagai merek baju ternama. Itu juga kesayanganku. Sebab untuk mendapatkan emblem merek topnya aku dan teman-teman sempat mengutil, merobeki koleksi baju di butik dan plaza elit. Taruhannya tentu saja nama baik dan kebebasan. Dan kami taruhan itu kami menangkan!

Aku masih melenggak-lenggokkan pinggul mengikuti gaya Nina Hagen di depan cermin. Sebelum tiba-tiba kulihat ada kerut di kedua ujung mataku. Setengah mati kututupi dengan bedak dan eye shadow tapi tak bisa. Serta merta ketika kuperiksa akar rambutku yang tertutup cat rambut, terlihat warna putih di sana. Kucoba untuk tetap tersenyum.

Suara klakson mobil Dex terdengar berkali-kali. Aku harus bergegas, namun pinggang ini mendadak sakit. Oh, rematik-ku kumat lagi! Memang di usia setua ini aku harus kurangi keluar malam terlalu sering. Ketika berjalan keluar, kuraih kado ulang tahun untuk Dex tersayang. Hari ini tepat ulang tahunnya yang ke 45 dan aku 43.

Jakarta, 2002