Showing posts with label Personal. Show all posts
Showing posts with label Personal. Show all posts

Saturday, November 13, 2010

Interogasi, Privasi?

Bingung sama orang yang semestinya hanya berhubungan secara bisnis sama kita, eh tapi dia banyak nanya hal-hal personal. Apakah memang tipikal orang Indonesia? Kayaknya tidak.

Karena saya sejak dulu bekerja dan bekerja, sejak belum lulus kuliah, jadi selalu bersua dengan sesama pekerja. Ketika saya dihadapkan pada pekerja yang notabene adalah ibu rumah tangga, agak wagu. Eh susah mendefinisikan apa itu wagu. Kaku barangkali?

Tadi siang saya berurusan dengan orang macam itu. Semestinya hubungan kami profesional, dilandasi saya perlu layanan jasa dia.

Sebegitunya?

Masa lalu itu ngga bisa dihapus. Akan terus membayangi seumur hidup, kecuali kita amnesia atau jadi gila. Film ini mengingatkan saya betapa saya malas mengenang masa SD dan SMP. Maaf, teman-teman dan guru SD dan SMP, bukan saya tak tahu diri. Tapi masa itu sungguh bukan masa yang layak dikenang bagi saya.

Dan ada beberapa masa lagi yang tak ingin saya kenang. Kenapa? Uh so personal. Pokoknya itu bukan masa indah dalam hidup saya, walau tetap ada juga celah keindahannya

Bisa sebegitunya hidup gue? Haha.

Wednesday, March 24, 2010

Hasil Googling Nama Sendiri: Saya Pencuri?

Beberapa hari lalu, saya iseng-iseng browsing, bernarsis ria sedikit meng-googling nama sendiri. Eh kok nemu blog yg isinya menuduh saya sebagai pencuri dan plagiat:http://www.rumahtulisan.com/21/10/2009/blogging/sudah-dicuri-dijual-pula.html

Di situ disebut bahwa pemilik blog, Anton Muhajir, merasa dirugikan karena saya mengutip data di blognya tanpa seizinnya untuk buku saya, UU ITE, Don't Be The Next Victim. Ya jelas saya kaget dong, sebab saya sudah menyertakan judul artikel dan link blog yang saya kutip di daftar pustaka buku itu.

Memang kesalahan saya adalah saya ngga minta izin dulu ke dia. Tapi selama ini setiap saya menulis artikel maupun buku, saya selalu mengutip dengan tetap menyebutkan sumber beserta link, walau tidak minta izin, dan tidak pernah ada masalah. Plus, di blog Anton itu dulu belum ada disclaimer bahwa siapapun yg mengutip tulisannya harus minta izin. (Disclaimer baru dia buat setelah kejadian..hahaha lucunya).

Sunday, February 7, 2010

Penulis-penulis yang Membentukku

1. Pramoedya Ananta Toer

Gaya muramnya mirip dengan penulis Rusia, mendeksripsikan kondisi Indonesia di masa penjajahan, sebelum kemerdekaan, awal kemerdekaan, bahkan masa masih berdirinya kerajaan. Mulai dari tetralogi Bumi Manusia, hingga kumpulan cerpennya yang dikompilasi jadi buku tebal "Mereka yang Dilumpuhkan", hingga "Gadis Pantai" yang tak usai, sampai "Panggil Aku Kartini Saja", "Cerita dari Djakarta", atau karya historisnya, "Arus Balik".

Sosialis realis? Itukah aliran yang diperkenalkan Pram padaku? Aku tak peduli apa nama alirannya Yang pasti dia adalah penulis yang paling membentuk pola pikir sosialisku, memihak ke rakyat kecil, karena memang bagian dari mereka. kemampuan Pram meramu perjuangan mereka, penegasan bahwa kemiskinan bukan alasan untuk menjadi bodoh, juga sikap tegas Pram membela emansipasi dalam Gadis Pantai membuatku kian mengagumi karyanya. Sayang, baru sempat bersua sekali dalam kondisi Pram sudah sangat renta, sebelum wafat. Tapi sudah membaca nyaris semua karyanya adalah kebanggaan tersendiri.


2. Jose Rizal

Hanya satu bukunya yang kubaca dan sangat berkesan sampai hari ini. Noli Me Tangere, yang dalam bahasa Tagalog berarti "Jangan Sentuh Aku". Kubaca dari perpustakaan SMP, terbitan Pustaka Jaya. Tebal sekali untuk ukuran anak SMP. Sampai hari ini aku tak pernah menjumpai buku ini di semua toko buku Indonesia. Bisa jadi dilarang beredar, karena kisahnya tentang anak kecil yatim piatu (kalau tak salah) yang dititipkan di gereja dan diperlakukan kejam oleh Pastor dan para biarawan di sana.

Kalau ada buku yang pertama kali menguras air mataku, sepertinya inilah buku itu. Aku berniat mencarinya, ah! Jose Rizal adalah presiden pertama Filipina. Ketika menulis buku ini, usianya baru 26 tahun! Dia juga seorang nasionalis sejati yang sangat dipuja di negerinya.


3. Soe Hok Gie

Catatan Seorang Demonstran (CSD), dan Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan, hanya dua karya Gie yang pernah kubaca. Dan tentu saja CSD sangat membekas, Kubaca pertamakali zaman kuliah. Tidak membeli, tapi kubaca sampai tuntas di sebuah toko buku kecil daerah Margonda Raya, Depok (yang akhirnya rumahku ada di daerah situ sekarang!). Setelah bekerja, aku membeli buku itu dalam versi yang jauh lebih tebal da keren. Sejujurnya, aku lebih suka buku CSD versi pertama yang bersahaja, sebersahaja gaya seorang Gie. Di kala senggang, CSD tetap kubaca sampai hari ini sembari membayangkan semua adegan sungguhannya, bukan seperti dalam film karya Riri Reza.

Maaf Riri, film Gie besutanmu bagus, hanya aku sudah punya fantasi sendiri mengenai sosok Gie jauh sebelum kau memfilmkan mereka.


4. Arswendo Atmowiloto

Dia adalah Kiki dan Komplotannya, Imung, Keluarga Cemara, Senopati Pamungkas, Canting, Opera Bulutangkis (dengan nama samaran Titi Nginung), majalah Hai, tabloid Monitor, dan semua yang mewarnai masa kecil dan remajaku di masa lalu. Ia membuatku percaya bahwa menulis bisa menafkahi hidup, dan tingkat pendidikan formal bukan segalanya.

Semua yang dikisahkan Arswendo adalah kesederhanaan, membumi, namun tak lepas dari sisi intelektualitas dan estetika. Demi mempertahankan semua kesan itu, aku menolak untuk membeli buku-buku karya terbarunya. Biarkan aku tetap tenggelam dalam keperkasaan Senopati Pamungkas dan kebadungan Kiki, serta kecerdasan Imung. Maaf, Arswendo, aku tak mau membaca karya-karya barumu bukan karena tak cinta.


5. JD Salinger

Menyesal sekali mengenal Salinger sangat terlambat. Dan baru membaca satu saja bukunya yang luar biasa, Catcher In The Rye. Buku yang sempat dilarang beredar di Amerika karena memuat terlalu banyak kata makian ini baru kutemukan beberapa tahun silam dalam desain sampul yang menawan hati walau sangat minimalis. Aku langsung mengirim email pada penerbitnya, Yusi Pareanom, dan berucap terima kasih sudah menerbitkan dan menerjemahkan buku ini di Indonesia.

Konon yang kutahu, Salinger adalah penulis yang di hari-hari akhirnya menutup diri pada publik, tak sudi ditemui siapapun, hingga ajal menjemput. Yang menarik, kisah itu nyaris sama dengan cerita yang pernah kutulis waktu SMA, mengenai seorang penulis (diriku di masa mendatang dalam imajinasi) yang menyepi di pondok di kaki gunung hingga akhir hayatnya.

Salinger, are you there when I wrote the story?

6. Goenawan Mohammad

Hm yeah, harus kuakui, pernah tergila-gila pada semua Catatan Pinggirnya. Sampai menjual cincin emas peninggalan nenek demi memborong volume ke-4. padahal dulu itu masih SMA. Catatan demi catatan kubaca khusyuk serupa membaca kitab suci. Kuhapalkan. Kutandai bagian yang menarik, untuk dibaca ulang kelak. Lagi, dan lagi, dan lagi.

Ketika Tempo dibreidel, aku ikut berduka. Memutuskan tak lagi ingin jadi jurnalis, karena apalah artinya jadi jurnalis tanpa kebebasan menulis. Tapi akhirnya terbit lagi dan aku justru tidak kerja di Tempo. Karena entahlah, aku malas melamar pekerjaan. Selalu pekerjaan yang melamarku. Dan akhirnya sampai pada titik klimaks aku muak pada dunia jurnalistik. Bukan salah siapa-siapa jika aku tak mengidolakan GM lagi. Namun tak bisa dibantah esai-esainya di Catatan Pinggir sudah mirip ensiklopedi bagiku, terutama gayanya bertutur secara indah.

Ada juga nama-nama Seno Gumira Ajirdarma, Agatha Christe, Enid Blyton, Arthur Conan Doyle, NH Dini, Dee, Sidney Sheldon, Mario Puzo,, Maxid Gorky, Nikolai Gogol, yang banyak menghiasi hidupku. Tapi enam penulis di atas adalah yang paling berkesan buatku.

Bagaimana denganmu, kawan?

Ayah Saya Tidak Terkenal, Hanya...Terhebat!

Ada beberapa teman tanya, kok mendadak saya nambahin nama Iskandar di belakang nama saya. Entah, mendadak saja saya sentimentil di akhir pekan kemarin. Teringat ayah yang kian menua di usia menjelang senjanya di Desa Banyudono, Boyolali, Jawa Tengah sana.

Banyak orang menyertakan nama ayah atau nama keluarganya, dengan catatan jika nama itu bisa mendongkrak popularitasnya. Kalau kakek atau ayahnya terkenal, sebagai orang sukses, konglomerat, sastrawan ternama, presiden, politikus, penyanyi, penyair, apapun itu, maka seluruh keturunannya berusaha keras membawa namanya. Bahkan yang bukan keturunan langsung pun tak mau rugi mendompleng nama sakti itu.

Ayah saya memang bukan orang terkenal. Tapi dia sangat spesial buat kami anak-anaknya. Masa mudanya menyimpan sejuta pengalaman tak terkira. Wow, kau tak percaya kalau mudanya dulu ayahku mirip aktor jadul angkatan Roy Marten, Roby Sugara? Dia juga atlet binaraga berprestasi. Di rumahnya masih tersisa sejumlah foto-foto dia tengah beraksi mirip Ade Rai dan koleksi barbelnya tetap tersimpan. Ayahku juga seniman luar biasa. Dia pelukis naturalis sealiran Basuki Abdullah. Kau juga bisa melihat foto-foto merekam aktingnya di atas panggung ketoprak dan wayang orang.

Ada saat dimana saya tidak terlalu peduli dengannya. Banyak bahkan. Namun seiring waktu berlalu, kebanggaan saya sebagai putri ketiganya kian membara. Kami tak pernah tinggal serumah, asal kau tahu itu. Hubungan kami berbeda dengan kebanyakan hubungan ayah-anak. Tapi itu tak mengurangi rasa sayang dan bangga saya padanya. Dan menyertakan nama belakangnya di belakang nama saya hanya sebagai simbol rasa bangga saya padanya.

Tidak harus punya ayah terkenal kan untuk bisa menyertakan namanya di belakang nama kita? Yang jelas dia harus ayah yang hebat!

Lima Lagu yang Bikin Saya Makin Mencintai Hidup!

You are what you eat, you are what you read, you are what you listen. Makan, baca, dengar musik. Tiga aktivitas yang "gue banget"!

Sebenarnya ada satu lagi, nonton. Hanya nonton ini sepertinya belum terlalu vital buat saya. Makan, baca, dengar musik, adalah tiga hal utama di masa muda saya yang sering sekali dilakukan ketika sedang sendirian atau dengan teman-teman. Ketiganya merupakan faktor pembentuk pola pikiran saya di usia dewasa, yaitu hari ini.

Berikut adalah lagu-lagu yang sangat saya gilai di era usia belasan dulu, dan masih tetap menyentuh hati jika didengar lagi sekarang. Lagu yang secara lirik dan musik saya sukai. Dan dibanding lagu-lagu ini, rasanya musik lain adalah sampah belaka. Hahahahaha!

1. Estranged, Guns N Roses

Kalo bisa nangis, pita kaset album Use Your Illusion II ini pasti sudah nangis gerung2an akibat terlalu sering diputar oleh saya, abegeh sok radikal yang bermellow-ria di kamar. Pas banget sama lirik awalnya yang menohok hati kala itu:

When you're talkin to yourself
And nobody's home
You can fool yourself
You came in this world alone

Ah, suara Axl Rose emang gokil abis! Tapi era itu saya lebih suka Izzy Stradlin, sang rythm guitarist yang pendiam, selalu mojok kalau foto bersama, dan banyak menciptakan lagu-lagu hits GnR. Sedih juga akhirnya band ini bubar.

2. Nothing Else Matters, Metallica

Oh jelas ini lagu wajib geng saya di kampus dulu. Apalagi saya pernah ber-headbanger di stadion Lebak Bulus bersama gerombolan pecinta Metallica lainnya saat Lars Ulrich dan kawan-kawan konser di Jakarta! Kaos hitam, jeans ketat, rambut panjang, pasang muka cool, itu wajib hukumnya.

Bagian lirik yang saya suka adalah:

Never cared for what they say
Never cared for games they play
Never cared for what they do
Never cared for what they know
And I know

Hahaha, ya, saya berusaha ngga peduli sama omongan orang, kelakuan orang, sebab hanya saya sendiri yang tahu tentang diri saya. Dih egosentrik khas abegeh butuh pengakuan eksistensi ya!


3. Nothing Compares To You

Tampilan Sinnead O'Connor yang gundul bertato bikin saya salut. Dia cantik, pintar, tapi pemberontak dan berani tampil beda. Merobek foto Paus adalah kelakuan dia yang heboh abis dan super nekad. Tapi suara cewek Irlandia yang khas dan melengking ini bikin saya tergila-gila sama lagu ini. Sebenarnya yang saya maksud "nothing compares to you" adalah si Sinnead ini sendiri. Ngga ada yang bisa dibandingin sama si cantik botak ini deh zaman itu. Terakhir saya nonton di Oprah, Sinnead yang usianya mulai menua, sedang menjalani terapi gangguan mental. Oh no, untung saya ngga perlu mengalaminya. Jangan sampai.

4. I still Haven't Found What I am Looking For

Kenapa sih musisi Irlandia keren-keren? U2 bisa dibilang yang terkeren. Nonton video klip lagu ini, zaman Bono cs masih muda-muda benar-benar bikin darah mengalir deras. Era usia 20-an dulu saya memang masih belum menemukan apa yang saya cari-cari. Jadi lirik lagu ini pas banget deh!

I believe in the kingdom come
Then all the colors will bleed into one
Bleed into one
Well yes Im still running

Ya, walau belum menemukan yang saya cari, saya yakin saat itu pasti tiba. I am still running...hmm dulu saya masih punya banyak energi buat berlari sejauh dan secepat mungkin.


5. Sweet Child O'Mine

Whoa, Guns n' Roses lagi! Gimana ya, sayatan gitar Slash itu memangn sudah meracuni masa remajaku. Saya berkali-kali mimpi menyanyikan lagu ini di atas panggung, tapi ngga kesampean sampai sekarang. Kalau dengar Axl menyanyikan bait ini:

She's got a smile that it seems to me
Reminds me of childhood memories
Where everything
Was as fresh as the bright blue sky

Yang terbayang adalah Axl menyanyikannya untuk saya, seorang cewek kecil manis beranjak remaja. Halah, norak-norak bergembira! Pastinya, lagu ini selalu mengajak saya kembali ke masa kanak-kanak, masa saat segalanya sesegar dan secerah langit biru!

Itu saja? Mana mungkin! Pastinya banyak sekali lagu-lagu yang bikin saya kian mencintai hidup. Namun mustahil saya membahasnya semua. Nanti kalian muntah dan mati bosan membacanya. Jadi sementara itu saja dulu,. Next, saya akan mengulas buku dan film yang paling berkesan dalam hidup saya.

Okay, have a great weekend, guys! Silakan obrak-abrik kaset or CD lawasmu, dan bernostalgilalah bersamanya. Insya Allah itu akan membuatmu tetap muda dan penuh spirit! GOD GAVE ROCK N ROLL TO YOU! Enjoy it!

Berawal dari Status Iseng Soal Atheis...

Tadi saya iseng menuliskan status ini:

Negara yang mengizinkan atheisme saja rakyatnya bisa makmur. Kenapa negara kita yg ngaku berkeTUHANan yang Maha Esa tidak kunjung makmur? Ada yg bisa jawab?

Pertanyaan saya ini diinspirasikan dari aneka cerita mengenai betapa warga negara sejumlah negara maju di Eropa saja bisa hidup sejahtera. Pengangguran dapat tunjangan. Setiap keluarga yang ketambahan anak, mendapat tambahan tunjangan lagi dari negara, komplit dengan bingkisan manis, dan ucapan selamat yang hangat. Betapa mereka yang masuk usia pensiun bisa hidup layak, leyeh-leyeh tanpa kerja, bahkan plesir keliling dunia dengan uang tabungan dan pensiunnya, dan itu bukan hal luar biasa di negaranya. Itu hal lumrah, wajar, biasa saja.

Padahal orang Indonesia yang kerja banting tulang dari subuh sampai magrib bahkan isya pun kerap kali masa tuanya nelangsa masih harus menarik gerobak bubur ayam atau menambal ban demi bisa menyambung hidup.

Negara maju yang rakyatnya sejahtera itu pada pada kondisi dimana agama bukan hal heboh yang layak diperdebatkan. Mereka tidak punya Pancasila dimana sila pertamanya berbunyi "Ketuhanan yang Maha Esa". Mereka juga tidak mewajibkan warga negaranya beragama tertentu. Atheis, agnostik, apapun itu dibebaskan berkeliaran selama tidak mengganggu ketentraman publik.

Bagaimana di Indonesia? Ow, beranikah Anda mencantumkan strip saja pada kolom agama di KTP Anda? Atau sekalian mengisinya dengan kata "atheis" atau "agnostik"? Tidak usah muluk begitu. Menulis agama yang bukan 5 agama yang diakui di Indonesia saja, Anda sudah cari masalah. Hehehe. Dan apakah dengan pewajiban melabelkan agama pada setiap warganegaranya sudah menjamin rakyatnya hidup sejahtera? Silakan Anda jawab sendiri.

Pertanyaan pada status saya tadi, saya ulangi deh:
Negara yang mengizinkan atheisme saja rakyatnya bisa makmur. Kenapa negara kita yg ngaku berkeTUHANan yang Maha Esa tidak kunjung makmur? Ada yg bisa jawab?

Status iseng itu memicu sejumlah komentar dari teman-teman. Okay, coba saya analisa satu-satu ya komentarnya:

Yayan R. Triyansyah:
"Karena tuhan telah mati, mer."

Analisa saya: Hmm ini Yayan sekadar mengutip Nietzche secara asal atau memang ia meyakini teori yang sama? Atau Yayan sekadar becanda saja, nyeletuk asal saja?
Tuhan sudah mati? Jadi Yayan ini bukan atheis, sebab masih meyakini Tuhan walau dianggapnya sudah mati.

Ovi Oktaviani:
"mereka liberal, tapi bukan ateis..lagian mereka dulu termasuk bagus yg beragama,setelah kemudian menganut sekularisme (kalo gak salah lho... :)"

Analisa saya: Betul Ovi, negara maju yang makmur dan mengizinkan atheisme itu memang bukan negara atheis. Mereka liberal. Bahkan di masa lalu mereka sangat religius, bisa dikatakan demikian. Kini mereka sekuler, mungkin sudah cukup "muntah" pada ajaran agama di masa lalu. Sejumlah orang sana yang saya kenal selalu bilang bahwa tempat ibadah di negaranya itu hanya dikunjungi oleh orang-orang usia lanjut. Sangat jarang anak muda yang ke gereja, mesjid atau kuil atau sinagog.

Affan Pasaribu:
"Karena kita tidak menggunakan akal yang disediakan Tuhan. Tuhan tentu saja tidak bersalah -- kita saja yang menyia-nyiakan karunia-Nya."

Analisa saya: Hmm apakah pernyataanmu ini sama artinya dengan bahwa negara yang mengizinkan atheis lebih menggunakan akal dan tidak menyia-nyiakannya? Saya lumayan setuju. Mungkin bisa dikatakan, orang yang tidak terlalu berpegang pada agama akan berpikir lebih logis, mengutamakan akal budi daripada kepercayaan yang kadang tidak masuk akal. Negara maju yang mentoleransi atheisme dan agnostik adalah negara yang sains dan pengetahuannya maju, sebab masyarakatnya terbiasa berpikir serba logis, rasional, tidak percaya hal-hal mistis dan klenik.

Andy Arnold:
"Disini TUHAN jadi dagangan mer....."

Analisa saya: Ini statemen yang mendekati fakta. Tuhan dan agama sebagai mediator manusia dengan Tuhannya sudah menjadi semacam produk politik dan ekonomi. Orang menggunakan label agama dan mengatasnamakan Tuhan untuk kepentingan politik, ekonomi, dan bisnis semata. Bukan hanya di Indonesia, hal ini juga terjadi di negara lain. Di negara maju mungkin hal ini juga pernah terjadi, atau masih, hanya angkanya sudah menurun seiring dengan kemuakkan manusia pada tipudaya sesamanya yang mengatasnamakan agama dan Tuhan. Istilahnya, di sono udah kagak laku lagi luh kalo mau intrik-intrikan pake nama Tuhan dan agama, udah kaga mempan. Tapi di Indonesia masih mempan.

Wahyu Awaludin:
"Karena ateis,berketuhanan,atau paham apapun,tidak ada hubungannya dengan kemakmuran.Itu jawabannya.Titik.Selesai."

Analisa saya: Lho tapi bukankah dalam semua agama diajarkan mengenai bagaimana menuju kemakmuran, kesejahteraan, kenyamanan hidup umat manusia? Bagaimana mungkin tidak ada hubungan antara berketuhanan dan kemakmuran? Setahu saya di Islam, Kristen, Katholik, Budha, Hidup, 5 agama yang diakui di negara ini, semuanya mengajarkan bagaimana mencapai hidup makmur dan sejahtera bagi umatnya bukan? Di agama itu diatur mengenai rizki, sedekah, amal, untuk kesejahteraan umat manusia bukan? Kok bisa ngga ada hubungannya? Nah, Wahyu sangat lemah logikanya. Bisa tolong kembali dijelaskan?

Setiajie Cahyadi:
"Keakehan dosa !"

Analisa saya: Kebanyakan dosa? Lho kok bisa? Apa artinya di negara yang menoleransi atheis tidak kebanyakan dosa? Apakah kaum atheis tidak mengenal dosa sehingga otomatis di sana pun tak ada dosa? Hahaha.

Haryo Yudho Sedewo:
"Soalnya orang atheis bertanggung jawab penuh akan dirinya sendiri. In a contrary, we pray a lot but lack of effort and responsibility. What a shame..."

Analisa saya: Nah, saya agak setuju dengan Haryo. Atheis atau agnostik cenderung tidak akan menyalahkan siapa-siapa termasuk Tuhan dan kitab suci jika terjadi cobaan atau mala petaka. Jika mendapatkan masalah misalnya, mereka hanya akan menyalahkan diri sendiri, dan berusaha memperbaikinya. Beda dengan orang religius yang kadang keceplosan bilang "Ya Tuhan, mengapa kau beri aku cobaan ini!" atau misalnya ada bencana alam, seorang religius akan bilang, "Ini pasti hukuman dari Tuhan!", padahal orang yang tidak religius akan berkata, "Wah, lingkungan makin rusak akibat ulah manusia. Ayo coba kita cari solusinya bersama."

Petrus Wijayanto:
"Karena Pancasila ada 5 sila, lha kalau urusan sila pertama saja nggak pernah beres, kapan sampai sila ke-5 ?"

Analisa saya: Hmm komentar ini agak melenceng dari pertanyaan di status saya. Jadi saya juga agak bingung menganalisanya. Hehehe.

Ronald Andersen:
"Buat legitimasi kalo mo bikin KTP ama SKKB doak si gw denger2..."

Analisa saya: Bisa jadi agama di Indoenesia itu hanya formalitas buat ngisi KTP dan SKKB saja. Sebab faktanya banyak Islam KTP, Kristen KTP, Katholik KTP, Budha KTP, Hindu KTP. Tapi tidak ada atheis KTP, sebab atheisme dan agnostisme hanya dipendam dalam hati, tak perlu digemborkan. Lha, siapa yang berani gembor2 sebagai atheis atau agnostik di Indonesia? Sudah bosan hidup?

Annas Komta:
"Dunia itu surganya org atheis, nerakanya org beriman... org beragama n berilmu tapi muna lebih dulu masuk neraka drpd org atheis.. ( sama2 masuk neraka akhirnya.. )"

Nah, konsep pemikiran macam ini saya temukan juga di ajaran Budha dan Katholik (komik Budha dan Da Vinci Code-nya Dan Brown menyebutnya). Bahwa hidup di dunia ini adalah layak ditebus dengan penderitaan. Maka di ajaran Budha kita mengenal kaum fakir yang sengaja hidup susah menyiksa diri, tidur di atas paku. Atau para pengikut Katholik yang menyiksa diri dengan memukuli dirinya sendiri. Saya tidak tahu Annas ini merujuk konsep yang mana. Namun pemikiran bahwa dunia adalah nerakanya orang beriman ini banyak dikenal di beberapa keyakinan. Akan datang Imam Mahdi, Ratu Adil, Sang Juru Selamat, dimana kaum tertindas yang beriman di dunia ini akan diselamatkan dan mendapatkan surga. pada dasarnya akar dari konsep ini adalah Zoroaster.


Jusananda Ganteng Asal Sombong:
"Karena korupsi,pasti!"

"Jadi, tak peduli atheis atau beragama, kalau korupsi sudah pasti rakyatnya ngga makmur ya? Setuju! Jadi tak ada beda antara agama dan kaum atheis, sebab yang membedakan adalah perbuatannya, bukan labelnya."


Arli Aditya Parikesit:
"Come on....
Di Indo, kita harus milih satu dari lima agama, sementara di Jerman, kita org Indo dicurigai sebagai teroris :P. Interview dg imigrasi jerman itu, sangat memuakkan, karena terang2an kita dituduh sebagai anggota Al-kaidah, dan harus membuktikan kalo kita bukan bagian dari mereka. Ndak peduli beragama atau atheis, kalo dari Indo, pasti unt perpanjangan residence permit Jerman, harus menghadapi interview tolol itu. Mana yang lebih buruk? Hehehe..."

Analisa saya: Kembali pada masalah agama sebagai label. Kita di Indonesia susah payah menciptakan label bahwa Indonesia adalah negara berketuhanan maha esa, religius, beriman, namun apa daya tetap saja dunia barat menciptakan label yang jauh lebih besar di jidat kita: TERORIS. Hiks! Pathetic!


Lantas bagaimana dong solusinya? Saya bukan pakar politik, apalagi pakar agama. Saya cuma berusaha menarik kesimpulan saja dari komentar banyak orang, didukung sekelumit pengalaman sekitar, serta secuil pengetahuan dan referensi.

Mungkin memang negara kita tercinta ini masih pada level membentuk label, branding, yang sesuai dengan kepentingan banyak pihak. Sedang mencari-cari jati diri, ibarat anak usia pra puber. Agama masih dianggap sebagai label yang digdaya, maka itu Indonesia sering mengklaim diri sebagai negara dengan pemeluk muslim mayoritas, negara dengan kebebasan beragama dimana setiap agama mendapatkan hari liburnya. Negara dengan sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa. Semua simbol itu adalah usaha keras pemerintah untuk menegaskan bahwa Indonesia adalah negara dengan pemeluk agama yang kuat. Branding macam ini bisa jadi bertujuan untuk menggandeng sesama agama berkembang lain yang juga punya filosofi sama, yaitu mengukuhkan label agama.

Mengenai apakah ajaran agama yang baik itu diimplementasikan juga oleh pemerintah dan rakyatnya, itu utusan belakangan. Mengenai apakah korupsi, pembunuhan, penipuan, fitnah, iri, dengki, sirik, musrik, masih merajalela di tengah label agama, itu nomor ke sekian. Yang penting branding dan label dulu. Padahal keduanya tidak selamanya menang di tataran politik internasional.

Ah sudahlah, saya capai bicara soal fakta yang menyedihkan ini. Sebab saya sendiri pun juga masih belum mengimplementasikan ajaran agama saya. Walau saya tak terlalu pusing dengan label...Capek ah ngetik...silakan dilanjutkan yang mau...hehehe.
Wong tulisan ini cuma berawal dari status iseng...kekekekekekek!

Ayah: The Best Father You Can Ever Imagine

'The best father you can ever imagine," demikian kata Paris Jackson diselingi isak tangis mengenai mendiang ayahnya, Michael Jackson, saat penghormatan terakhir jenazah sang legenda di Stapless Center, awal Agustus silam.

Saat menontonnya di layar TV, tak terbersit sedikitpun rasa haru saya. Ah, biasa saja. Anak seleb ini, mewarisi harta tak terhingga, buat apa dipikirin. Mending mikirin anak gelandangan di luar sana. Namun kalimat itu kembali terngiang ketika pekan silam saya mengunjungi ayah kandung saya di desanya yang tenang di Boyolali, Solo.

Ayah saya memang bukan Pop Star idola dunia. Dia juga bukan tipe ayah yang terlalu ideal, mengingat pola hidup senimannya di masa muda dulu. Saya justru baru bersua dengannya saat duduk di bangku SMP. "Ooo ini toh ayah kandungku." Itu saja komentarku dulu. Jelas jauhlah jika mau disandingkan dengan Michael Jackson.

Tapi jika kamu bertandang ke rumahnya yang nyaman, maka kamu akan menemukan aneka lukisan bergaya naturalis yang luar biasa. Mulai dari lukisan potret para anggota keluarga, eyang yang mantan pejuang dengan baju seragam veterannya, sampai lukisan Adam dan Hawa berukuran raksasa di kamar atas dalam adegan panas, pahatan The Last Supper, dan lukisan diri ayahku dalam kostum Gajah Mada (seperti yang ada di foto artikel ini), Warok Suromenggolo. Lalu serangkaian bingkai foto merekam adegan pentas ayah dalam beragam kostum ketoprak, termasuk foto diri saat masih muda dengan body mirip Ade Rai. Ya, ayahku adalah seniman sekaligus olahragawan. Sebuah bakat yang jarang dimiliki orang kebanyakan. Biasanya kalau seniman ya seniman saja, atau olahragawan ya olahragawan saja. Ayahku bisa melakukan keduanya secara mengagumkan.

Mengagumkan? Tunggu dulu, itu semua bukan apa-apa. Yang lebih mengagumkan adalah ekspresi beliau yang sangat biasa saja saat seorang anaknya mengatakan bahwa ia sudah berpindah keyakinan. Ayah hanya santai saja menasihati, "Ya, ngga apa. Itu kan urusan keyakinan dan hati masing-masing."

Oh ya, aku baru ingat, zaman dahulu kala juga pernah ada anak ayah yang berpindah keyakinan, dan itu diangap hal lumrah saja.

Lalu aku jadi membandingkan dengan seorang teman yang pernah diusir, dihardik, dimaki-maki takkan diaku anak seumur hidup ketika sang ayah tahu anaknya berpindah keyakinan. Atau bahkan ada yang digebuki habis-habisan waktu tahu si anak pacaran dengan lelaki beda agama.

Jadi, dari semua "prestasi" mengagumkan ayahku sebagai pelukis, pemain ketoprak, dan olahragawan, prestasi paling membanggakan buatku adalah pandangannya mengenai keyakinan. Bahkan pernah suatu waktu dulu sekali ia menyeletuk, "Kalau jadi Islam, jadilah Islam yang baik. Jadi Kristen ya Kristen yang baik. Budha ya Budha yang baik." Dulu sih aku ngga paham apa maksudnya ngomong begitu, karena masih SMP atau SMA. Setidaknya kalimat itu mengingatkanku pada ucapan salah satu tokoh di buku karya Martin Aleida, Layang-layang Itu Tak Lagi Mengepak Tinggi-tinggi: "Kalau jadi komunis, jadilah komunis yang baik, nak".

Ya ayah, kamu adalah ayah terbaik yang pernah aku bayangkan. Lengkap dengan semua kekurangan dan kelebihanmu.

Babushka, Komunisme, Mimpi Masa Kecilku

Kalau ditanya, belahan bumi mana yang paling ingin saya kunjungi sejak dulu, jawabannya: Eropa Timur, Rusia, dan sekitarnya. Beruntung, Arli kini ada di Leipzig, Jerman, yang lebih dekat ke kawasan itu. Jadi terealisasilah keinginan saya memiliki boneka lucu ala Rusia yang selama ini hanya saya lihat di sampul buku Kampus Kabelnaya karangan Koesalah Soeagyo Toer, adik Pramoedya Ananta Toer almarhum. Saya jepret di depan MacBook kesayangan, saya pajang di sini. Aih manisnya. Paduan budaya Rusia dan Amerika yang saling konradiktif.

Karena gemes sama bentuknya, saya jadi sempat penasaran dan googling tentang boneka imut ini. Namanya Matryoshka atau dikenal juga dengan nama Babushka. Ini suvenir khas sana, yang kabarnya adalah hasil perpaduan dengan budaya Jepang. Hmm unik bukan? Nanti kapan-kapan saya mau investigasi khusus soal ini.

Kenapa Eropa Timur? Hmm, sekitar 2006 saya pernah ke Eropa Barat, tepatnya Perancis. Di situ saya sempat menyusuri Paris hingga Cannes, Nice, Monaco, melihat sejenak Italia dari kejauhan. Eropa Barat tak menyimpan misteri seperti Eropa Timur. Semua kira-kira sama lah dengan yang kerap kita baca di buku atau tonton di film. Tak ada sesuatu yang eksotis. Beda dengan Eropa Timur dan Rusia.

Sejak kecil saya senang dengan segala yang berbau Rusia dan sekitarnya. Tirai Besi itu membuat saya ingin tahu lebih banyak. Mungkin karena dulu pernah dengar lagunya Nina Hagen, penyanyi Jerman yang kabarnya penganut komunis. Ditambah buku-buku Maxim Gorky, Leo Tolstoy, Anton Chekov, Mungkin karena saya lahir dan besar di era Orde Baru dimana komunisme dan sosialisme menjadi sangat tabu dibicarakan di Indonesia. Waktu kuliah saya seperti mendapat berlian ketika bisa menemukan buku-buku Pramoedya Ananta Toer di rak buku seorang teman. Bacaan yang langka saat itu mengingat karya Pram masih di-banned.

Intinya, di zaman itu semua hal yang berbau komunisme, sosialisme, kiri, Uni Sovyet, sangat sangatlah sexy!

Dan kini, belasan tahun kemudian, saya nyaris bisa mewujudkan semua kegilaan saya pada hal-hal berbau Rusia. Saya bersua Arli, yang ternyata lancar diajak ngobrol soal komunisme dan sosialisme, bisa membahas karya-karya sastra Rusia. Seperti jawaban alam semesta saja, Arli pun menuntaskan S3 di Leipzig, kota bekas wilayah Jerman Timur yang masih lekat dengan atmosfer komunisme dan lumayan dekat dengan Rusia. Kalau tak ada aral melintang, semua suasana eksotis yang saya dambakan sejak kecil itu akan segera saya alami langsung. Desember tahun ini ada rencana untuk mengunjungi Leipzig, lalu saya ingin menyusuri Cheko, Rumania, dan sekitarnya.

Impian saya selanjutnya adalah bepergian ke Rusia, mempelajari budaya sana, dan menulisnya dalam bentuk buku. Yang lebih tinggi lagi? Ke Mongolia, Tibet, Himalaya, Lebanon, Mesir, Yerusalem, Whoaaaa kebanyakan impian!

Kami Tidak Diistimewakan, Tapi Kami Memang ISTIMEWA!

*Tulisan ini saya persembahkan buat semua anak yatim piatu sedunia, baik yatim piatu secara harfiah atau hanya kiasan, seperti misalnya dibuang ortunya dan diasuh oleh keluarga lain.*

Masih ingat betul seorang kerabat curhat ketika ayahnya belum lama wafat. "Setelah ayah ngga ada, perilaku orang sama kami anak-anaknya jadi beda. Ngga sehormat kayak waktu dulu ayah hidup." Waktu dengar curhat sekilas itu aku masih usia SD atau SMP, jadi ngga paham. Nenekku menjelaskan bahwa jika orang tua meninggal, maka anak-anak akan diperlakukan beda oleh orang sekitarnya. Saat itu, kerabatku tadi resmi menjadi yatim piatu.

Lebih jauh ia bertutur tentang tetangga, famili jauh, teman-teman almarhum ayahnya yang pelan tapi pasti menjauh. Kalaupun masih bersua, mereka jadi jaga jarak. Intinya, sejak seseorang tak punya lagi orang tua, maka otomatis perlakuan sekitar padanya jadi berubah. Bisa jadi tak sehormat dulu lagi, karena ternyata selama ini orang hanya memandang ortunya saja.

Beranjak dewasa, perbedaan antara anak yang ortunya masih ada dan tidak ada atau tidak jelas seperti saya, makin terasa. Secara de facto bisa dikatakan saya "yatim piatu", sebab ibu sudah tak ada, ayah kandung sudah tak mengurusi saya sejak lahir. Saya diasuh kakek dan nenek hingga mereka mangkat dan saya mandiri di bangku kuliah.

Saya mengamati, anak-anak dengan ortu jelas mendapat privilege khusus dari orang sekitarnya.Jika bersua, maka akan disapa, "Ooo kamu anaknya pak Anu ya, hebat! Apa kabar bapakmu? Duh kamu sepintar dia." Atau, "Lho kamu anaknya bu Anu kan? Gimana kabar ibumu? Kamu cantik ya mirip dia."
Jika mendulang prestasi, pujian pun berlipat ganda. "Wah, selamat ya! Siapa dulu bapaknya!". Beda dengan saya yang sejak lama bebas dari bayang-bayang orang tua karena memang tak ada figur orang tua yang jelas. Pujian sekitar paling cuma, "Selamat ya!". Gitu aja.

Privilege lain yang lebih dahsyat bisa didapatkan anak-anak dengan ortu jelas. Misalnya mendapat warisan, koneksi bekerja di kantor keren berkat nama besar orang tua, dan sebagainya. Atau bisa minjam uang ke kerabat karena jaminan nama ortu. Belum lagi kalo ortunya punya jabatan tinggi atau orang top, pastinya si anak mendapat keistimewaan emas tanpa peduli perilakunya minus, otaknya kosong atau bahkan moralnya nol. Belum lagi puja puji orang sekitar yang cari muka pada sang ortu, pura-pura suka sama si anak padahal dalam hati pengen gamparin karena benci, tapi ngga dilakukan demi bisa menjilat ortunya.

Semua itu tak pernah kami dapatkan. Ya, kami, anak-anak yatim piatu baik secara harfiah maupun kondisi. Kami harus berjuang sendiri tanpa bayang-bayang ortu. Mencari koneksi sendiri, membuat orang bisa menghargai kami tanpa peduli siapa ortu kami. Berjuang keras agar kami diterima apa adanya sebagai diri kami, tanpa orang tahu ortu kami.

Mungkin ini pula yang membuat saya tergila-gila dengan film Oliver Twist yang diangkat dari buku Charles Dickens. Atau kini saya menjadikan Steve Jobs sebagai panutan. Keduanya adalah tokoh yatim piatu luar biasa yang berjuang sendirian tanpa nama besar ortu. Tanpa segala privilege yang dipunyai anak-anak dengan ortu jelas. Ya, jika Steve Jobs bisa sukses, mengapa saya tidak?

Obama dan Saya

Kami sama-sama lahir dan besar dalam keluarga berbudaya dan agama majemuk. Sama-sama dibesarkan oleh kakek dan nenek, akibat orang tua bercerai. Kami juga punya saudara-saudara tiri dari pernikahan selanjutnya para orang tua kami. Saudara-saudara kami itu berasal dari etnis, agama, yang beragam, membuat kami lebih menghargai perbedaan.

Di masa kecil, ia banyak mengalami guncangan mental akibat menjadi mulato, anak hasil pernikahan campuran kulit putih dan kulit hitam. Saat kecil saya dulu juga bingung, saya ini pribumi asli atau China, karena saya memang perpaduan keduanya.

Di kalangan kaum putih, ia dianggap terlalu hitam, rambutnya juga kriting, sama sekali tak mirip bule. Di kerabat yang hitam, ia tetap dianggap bukan hitam murni. Di kalangan teman pribumi Indonesia, saya tidak disebut pribumi, sebab mata saya kurang besar dan kulit terlalu putih. Tapi di kalangan teman yang China murni, saya juga dikucilkan karena kulit saya tak seputih mereka dan mata saya tak sesipit mereka.

Kamu yang bukan hasil kawin campuran dua negara berbeda tak pernah mengalami itu.

Obama remaja makin mirip ayahnya, bukan ibunya yang bule abis. "Jika saya berdiri di depan kafe menunggu seseorang, maka akan ada orang melemparkan kunci mobilnya ke saya, menyuruh memarkirkannya," kata Obama dalam buku Dreams from My Father. Hanya karena ia hitam, dia identik dengan valet parkir. Seolah tak pernah pantas menjadi tamu sebuah tempat mewah.

Peristiwa yang sama persis saya alami saat berkunjung ke kerabat yang masih China totok asli. Mereka kedatangan famili lain sesama China totok. Dan saya dikira pembantu karena kulit saya kurang putih dan mata saya kurang sipt. Apalagi cara berpakaian saya sudah sangat pribumi Indonesia banget, kaos dan jeans.

Waktu nama Obama mulai menanjak sebagai calon presiden Amerika Serikat, saya sama sekali tak tertarik, sebab terlalu banyak orang Indonesia memuja-mujanya hanya karena ia pernah tinggal di Indonesia. Saya bukan manusia mainstream yang suka mengikuti arus. Jadi walau saya agak berminat dengan kisah hidupnya, saya bersikap biasa saja. Apalagi saya sempat terpengaruh pola pikir bahwa Amerika itu negara belagu, sok kuasa, ikut campur urusan negara lain, pusat kapitalisme, dan segala hal buruk tentang sebuah negara yang menyetir negara berkembang.

Apa daya, media memborbardir saya dengan aneka informasi tentang lelaki dengan gaya orasi memikat itu. Fakta bahwa ia orang kulit hitam pertama yang menjadi presiden Amerika, tak bisa dibantah memang layak disaluti. Ia mendobrak hegemoni kaum White Anglo Saxon Protestant (WASP) di Amrik.

Di saar banyak pro dan kontra mengenai Obama sebagai presiden Amrik, apakah ia akan membawa kedamaian dunia, apakah dia berbeda dengan presiden Amerika sebelumnya, apakah ia hanya bermulut manis pada negara musuh, saya punya pola pandang lain.

Obama di mata saya terlalu hebat untuk menjadi presiden Amerika, presiden negara yang terlanjur dikenal adidaya dan pusat kapitalisme, menjajah dunia dengan gaya hidup dan dolarnya. Obama yang idealis, punya banyak tautan batin dengan bangsa luar Amerika, kaya pengalaman budaya dan agama, humanis universal, seolah menjadi simbol keragaman umat manusia. Mampukah Obama mengubah citra Amerika? Sulit!

Ingat bagaimana keluarga John F Kennedy dihabisi? Kennedy adalah orang non WASP pertama yang menjadi presiden AS. Ia katolik, sebuah anomali karena sebelumnya semua presiden AS adalah protestan. Dan kini Obama jauh lebih anomali lagi. Saya melihat Obama sudah dijadikan simbol keberagaman ras dan agama oleh orang Amerika dan sebagian dunia. Ya, itu bagus. Hanya masalahnya, ia justru akan dijadikan bulan-bulanan politik juga.

Mampukah Obama seorang diri memperjuangkan humanisme? Ia dikelilingi para senat, kabinet, pendukungnya, yang tentu saja masih didominasi kaum WASP. Dengan pandangan mereka yang ingin mempertahankan Amerika sebagai negara adidaya dan pusat kapitalisme, citra antimuslim, imej ingin menguasai semua sumber minyak di Timur Tengah, saya sedikit pesimis Obama mampu berjuang seorang diri.

Saya justru simpati plus iba, idealisme seorang Obama sudah dijadikan semacam "model iklan" oleh politikus di sekitarnya. Saya justru menduga ada skenario khusus mengapa Obama terpilih sebagai presiden AS, yakni sebagai upaya memperbaiki citra buruk AS, upaya meraih simpati umat muslim radikal, simpati negara-negara berkembang seperti Kenya dan Indonesia. Dengan kata lain, para politikus Amerika memanfaatkan latar belakang Obama demi tujuan lain.

Obama terlalu bagus untuk Amerika.
Sebagai sesama anak dengan latarbelakang sama, saya tahu pasti itu.

*lho baru ingat hari ini, 4 Juli, bertepatan dengan kemerdekaan AS*

Menjadi Kaum Pendobrak

Sejak kecil, saya tidak pernah mengidolakan artis, musisi, politikus, penulis, seniman, yang merupakan keturunan dari tokoh sukses sebelumnya. Apalagi kalau mereka ada di bidang yang sama. Misalnya saja, saya ngga salut-salut amat sama Julian Lennon, anak John Lennon. Atau Lisa Marie Presley, anak Elvis Presley.

Saya lebih salut dengan mereka yang berlatar belakang keluarga biasa saja, namun mampu sukses di bidangnya. Biasa saja di sini bukan berarti keluarga itu tak punya kelebihan, tapi memang tidak seterkenal si anak pada masanya.
Sebut saja contohnya Benyamin S, Soekarno, Barack Obama, Chairil Anwar, Soe Hok Gie, Madonna, Iwan Fals, dan semua yang bisa digolongkan sebagai "kaum pendobrak". Saya sebut demikian karena memang mereka mendobrak nasibnya sendiri, mengubah "takdir" keluarga. Bukan berasal dari keluarga yang memang sudah berlimpah ruah kesuksesan dan jalan emas menuju puncak., melainkan mereka menciptakan jalan itu sendiri dengan kerja keras.

Pernah ada sebuah acara TV yang mengupas suka duka anak para tokoh ternama, seperti Christina Onasiss dan beberapa lagi (saya lupa). Dikisahkan bahwa menjadi anak orang hebat itu tak selalu enak, lebih banyak duka daripada suka, hidup di bawah bayang-bayang nama besar orang tua. Mungkin ada benarnya. Kita tak bisa memilih ingin menjadi anak siapa. Ada yang lahir brojol sudah jadi anak presiden, ada yang brojol jadi anak pengamen jalanan atau bahkan orang gila yang menari telanjang di jalanan. Siapa bisa memilih?

Masalahnya adalah apakah kita memang ingin menjadi pendobrak atau hanya sekedar peleyeh-leyeh penikmat nama besar orang tua. Hanya maaf saja saya tetap tak pernah bisa terlalu bangga dan simpati sama yang dilahirkan penuh dengan keberuntungan. Bisa jadi karena saya sendiri lahir dari keluarga yang bukan tokoh ternama atau apalah itu. Hanya keluarga orang biasa. Atau mungkin ada rasa cemburu dalam hati kecil saya alias sirik tanda tak mampu? Ya ngga apa sih, sebab kata orang, justru karena cemburu itu maka bisa jadi lecutan perjuangan menuju sukses. Seolah ada letupan untuk membuktikan, "Biar bokap gue kagak sesukses bokap elo, tapi gue bisa lebih sukses dari elo!". Gitu kali ya?

Bagaimana dengan kamu?
Apakah kamu juga tergolong yang ingin menjadi kaum pendobrak, atau justru sudah menjadi pendobrak?

Oops sori, notes ini ditujukan buat teman-teman yang berasal dari keluarga biasa aja lho, bukan anak orang top..hehehe.

Nobody Killed The Radio Star

Minggu siang kemarin saya diundang on air di Radio Sonora, untuk acara resensi buku. Owww..Sonora? Nama itu memang sudah ngga asing di telinga sejak kecil, dan kembali mendengar lantunan jingle khas radio "jadul" itu membuat saya tersedot jauh ke masa kanak-kanak dulu.

Ternyata studio radio itu juga sama lawasnya. Sejumlah poster penyanyi seangkatan Rick Price atau Mr. Big lengkap dengan tanda tangannya menghiasi dinding. Seolah menandakan bahwa stasiun radio tersebut pernah mengalami masa-masa jaya di waktu lampau. "Mah, kok artisnya jadul-jadul ya," celetuk Libby My Kid yang menemani saya siang itu. Jelas, zaman kejayaan Mr.Big dulu, Libby belum lahir. Padahal rasanya Mr.Big bukan artis jadul-jadul amat deh. Jadul itu bagi saya ya Elvis Presley atau Beatles. Tapi Mr.Big kan kayaknya baru kemaren menyanyikan "To Be With You" atau Rick Price dengan "Heaven Know". Ooppss pertanda saya mulai jompo ya? Hehehe.

Setelah mulai on air, di sela obrolan kami tentang buku saya, terdengar jingle khas Sonora yang memang asli jadul abis. Kata Mas Anto, sang penyiar yang mewawancara saya, posisi radio kini memang agak tergeserkan oleh media online. "Tapi kita tetap punya pendengar setia, Mbak. Yang tergeser itu justru media cetak," ungkapnya.

Iya juga, buat pengendara mobil biasanya ada yang kurang kalau di tengah macet jalan raya tidak ditemani radio. Mereka butuh hiburan musik, canda tawa penyiar, atau info lalu lintas serta berita terkini. Hanya radio yang mampu memenuhi semua kebutuhan para pengemudi mobil itu. Mustahil lah mereka mau online sambil nyetir mobil, kecuali mau berakhir di rumah sakit. Hehehe.

"Video Killed The Radio Star", demikian lagu The Buggles yang pernah saya dengar ketika era video klip mulai melanda televisi dulu. Tapi ternyata ramalannya ngga mempan. Radio tetap memiliki posisi tersendiri di hati manusia, sampai hari ini. Radio ngga bisa digantikan oleh TV kabel atau media online. Ada greget tersendiri saat mendengar nama kita diudarakan, disapa oleh penyiar, dikirimi lagu oleh sahabat, dititipi salam manis oleh kerabat.

Saat kecil dan remaja dulu saya tergila-gila sama radio. Ngga bisa ngga, harus ada radio mungil yang menemani kemanapun saya pergi. Sampai sering main penyiar-penyiaran sendirian di kamar, berlagak siaran dan bacain kirim-kiriman lagu pendengar. (Belive it or not, Libby My Kid juga melakukannya sekarang!).

Ironisnya, kini saya justru udah lama ngga denger radio. Secara saya ngga mengemudikan mobil, gitu lho. Alias masih nebeng sama abang angkot atau mas taxi yang baik hati. Jadi jangan salahkan saya kalau merasa pengalaman on air di Sonora kemarin agak luar biasa dan membangkitkan memori lama. Lagian saya sudah agak lupa sama gregernya mendengarkan radio. Lupa..lupa lupa lupa, aku lupa frekuensinya...*dengan irama Kuburan Band*.

Makasih ya Sonora yang sudah memberi kesempatan saya mewujudkan impian waktu kecil dulu: cuap-cuap di radio. Oh ya, akhir bulan ini saya juga diundang on air di radio DFM. Hmm itu radio apa lagi ya, saya kok baru dengar namanya? Hehehe. Ngga peduli ah, yang penting bisa cuap-cuap dan bergaya ala penyiar profesional.


Nah, apa impian masa kecilmu, teman?

Menohok Keimanan Tanpa Ceramah Bawel

Semalam saya menonton Le Grande Voyage, film Perancis besutan sutradara Ismaël Ferroukhi di Metro TV. Keren pisan. Film religius yang dibalut dengan cara tidak norak, tidak bawel penuh pesan sok alim atau jual tampang cantik dan ganteng tapi cupu seperti film atau sinetron Islami Indonesia. Tidak ada wajah cantik berkerudung dan aktor tampan berbaju koko, simbol keislaman yang ditonjolkan di sinetron dan film religius kita. Ferroukhi hanya memasang segelintir aktor dengan karakter kuat.

Reda, remaja Moroko yang lahir dan besar di Perancis, mendadak ditugaskan mengantar ayahnya pergi haji. Ia tak habis pikir kenapa harus melalui jalan darat, yang tentunya sangat panjang dan melelahkan. Ia benci tugas itu, karena harus berpisah dengan kekasihnya, kehidupan kampusnya yang ceria. Dengan mobil tua, Reda mengantar ayahnya yang juga tua. Ia pun menjalankan tugas dengan berat hati, kesal, dan tentu saja bete beraaaat.

Ayah Reda rajin sholat, ortodoks, berkeras bahwa perjalanan ke tanah suci jauh lebih bagus ditempuh dengan darat, bukan udara. Kita tidak akan menemukan ceramah, dialog mendikte atau kutipan kitab suci di film ini. Namun siapapun yang menontonnya akan tertohok pada hati kecilnya yang paling dalam. Bagaimana ayah Reda tak pernah memaksa anaknya sholat, marah saat memergoki Reda berciuman dengan perempuan di hotel, atau murka ketika menyadari uang mereka dicuri oleh Mustafa, teman sok akrab di perjalanan (tapi akhirnya diberi plot lucu bahwa uang itu jatuh di bawah jok mobil).

Kita tidak menemui pesan moral eksplisit yang disampaikan oleh ceramah bawel si ayah atau teman-teman hajinya. Tidak sama sekali. Tidak ada juga wanita cantik berjilbab yang sok ceramah ajaran agama. Ferroukhi sungguh sutradara hebat. Tanpa itu semua ia mampu membuat penonton memahami hakekat Islam sesungguhnya, ibadah naik haji, dan menjadi muslim.

Adegan bagian terakhir sungguh memilukan, sebab Reda yang bengal dan sebal dengan perjalanan itu harus menemui fakta bahwa ayahnya ada di barisan jemaah haji yang meninggal. Ia hanya mampu tersungkur di depan jasad sang ayah sambil menangis tergukguk tanpa sepatah kata.

Mobil dijual, Reda kembali ke Perancis dengan pesawat terbang. Itulah akhir film yang diperankan oleh Nicolas Cazalé (Réda) dan Mohamed Majd (ayah) ini.

Tak ada kisah romantis, tak ada baju koko dan jilbab menaungi wajah cantik. Tak ada kutipan kitab suci. Tapi mencabik-cabik hakekat keimanan kita dengan sangat luar biasa. Bahkan bagi penonton yang non muslim sekalipun. Saya yakin itu.

Kapan ya sutradara kita bisa menghasilkan film sejenis? Hmm jangan salahkan sutradaranya juga sih. Mungkin memang publik kita masih perlu pesan-pesan eksplisit dan kemasan wajah cantik, dan ganteng.

Ideologi Hebat Itu Bernama Agama

Ada dua teman di FB hari ini yang di Wall-nya menorehkan pesan "Selamat Hari Jumat". Di keduanya saya komentari, "Jumat adalah hari sakral bagi umat Islam dan Katolik, (Sholat Jumat, Jumat Agung), dan buat pekerja (mau wikenan). Serta buat orang Jawa (malam Jumat Kliwon)."

Bukan maksud hati bicara soal hal yang sangat personal ini, agama. Bagi saya yang dibesarkan di keluarga dengan agama majemuk, menarik benang merah antara perbedaan adalah kebiasaan yang menarik. Yang jelas, agama Samawi memiliki nabi-nabi yang sama, tanah leluhur yang sama, dan asal muasal yang sama, Adam dan Hawa. Tradisi dzikir dengan tasbih dalam Islam juga dilakukan di Katolik, bahkan juga Budha (lho kok ini melenceng ya, bukan Samawi, maaf ngga tau deh penjelasan yang satu ini, mungkin ada teman yang tahu?). Nenek saya yang Katolik dulu rajin doa pakai tasbih setelah dikunjungi Romonya. Ibu saya juga pakai tasbih saat khusuk berdzikir setelah sholat.

Bagi saya, sejarah agama selalu menarik dipelajari. Mengenai bagaimana tiga agama, Yahudi, Kristen dan Islam, yang punya nabi dan asal usul sama namun bisa bertikai di lain waktu dan tempat. Sementara kami di satu keluarga bisa hidup rukun di antara Lebaran dan Natal, ketupat dan Sinterklas, sholat dan doa Bapa Kami. Mungkin ini kesamaan antara saya dan Obama, sama-sama telah menarik benang merah antar 3 agama Samawi yang kami kenal dekat. Eh tapi kalo agama Yahudi saya ngga kenal amat sih, sebab belum pernah ketemu langsung sama orang Yahudi. Cuma sempat chatting aja dan membaca sana-ini. Di Yahudi, ada sejumlah kesamaan ajaran dengan Islam, sama-sama mengharamkan babi dan ada sembahyang 5 waktu. Bahasanya pun beda tipis sama bahasa Arab.

Ah kok jadi serius amat sih. Saya bukan pakar agama. Cuma senang mengetahui sejarah perjalanan keyakinan yang sangat disakralkan umat manusia, agama. Sebuah ideologi yang mampu membuat umat manusia menumpahkan darah, sekaligus juga berkorban demi sesamanya, atau saling mencintai tanpa pamrih hingga titik darah penghabisan.

Adakah ideologi yang sedemikian hebatnya selain agama?

Kaum Geeks Layak Mewarisi Bumi Ini!

Ada satu lagu yang pas banget sama mood saya belakangan ini. Dibawakan oleh group asal Jerman, Wir sind Helden, The Geek Shall Inherit The World, lagu yang oke banget buat kita yang kerap dituduh sebagai geek.

Definisi geek saya kutip dari Wikipedia:
A person with a devotion to something in a way that places him or her outside the mainstream. This could be due to the intensity, depth, or subject of their interest. Persons have been labeled as or chosen to identify as physics geeks, mathematics geeks, engineering geeks, sci-fi geeks, computer geeks, various science geeks, movie and film geeks (cinephile), comic book geeks, theatre geeks, history geeks, music geeks, art geeks, philosophy geeks, literature geeks, historical reenactment geeks and roleplay geeks.

Jadi pengertiannya sangat luas, bukan terbatas pada ilmuwan eksak atau programer komputer. Saya yang tergila-gila pada dunia menulis, putri saya Libby yang tergila-gila menggambar, dapat dikategorikan sebagai geek. Hmm ada sedikit kisah kelam soal definisi itu, sebab di sekolah kami sama-sama bukan idola atau murid gaul abis. Kami hanya asyik dengan dunia kami sendiri tanpa peduli sama nilai ujian, rapor, ranking, tapi juga tidak populer. Kami hidup dalam alam fantasi sendiri. Otak dan hati kami melesat jauh ke depan yang tak terpikirkan teman-teman kami.

Dan ketika dewasa pun tak jauh berbeda. Hanya bedanya, kami (para geeks) sudah menemukan apa yang belum ditemukan kebanyakan orang. Kami berubah dari anak itik buruk rupa menjadi kaum profesional yang membanggakan, di luar mainstream mental pencari muka.

We are the proudly geeks!

Saya ingin teman-teman sesama geeks merasa bangga dengan perbedaan itu. Kita para geeks mampu mengubah dunia. Bahkan kita lah yang semestinya mewarisi bumi ini, bukan para hipokrit bermental pengecut yang materialistis dan gila hormat, kekuasaan, dan penghargaan.

Sayang,lagu ini dalam bahasa Jerman. Yang kalau diterjemahkan dalam Inggris, kira2 begini artinya:

The Geek Shall Inherit The Earth

By:Wir sind Helden

Are you too smart to not be uncomfortable to be different
and not nice enough to order through?
You know exactly how it is always falling out
just not far enough to arrive somewhere else?

It hurts, so, as you should
It hurts to be as you are - but if the
Quarterback comes to you with the glasses off
Tell him:
Thank you to remain where she is
I know it:

The injured should the physicians be
The latest will be the first to
See it: The Meek shall inherit the earth
The injured should the physicians be
The latest will be the first to
First seen as the last one is a:
The Geek shall inherit the earth

Not your time, not your feet,
not your beat, not your people,
not your world, and not even your pain
You need not belong here, but such you what belongs to you
You do not dance, but moving your heart

It hurts, so to be how you think that you should
It hurts, so be as you think you are - But if the
Homecoming Queen comes to kiss you awake
Tell her thank you, I've nothing missing
I know it:

The injured should the physicians be
The latest will be the first to ...

Notes ini saya persembahkan buat semua teman yang waktu kecil dan remaja dulu kerap diledek geek, nerd, kuper, najis tralala dan tuduhan2 lain yang merendahkan.

foto: sindtundbuenning.de

Maaf, Saya Bukan Manusia Formal

Seorang teman lawas zaman SMP bertanya padaku, "Dulu ikut kegiatan apa di kampus?". Dia tanya begitu karena kami baru sadar bahwa ternyata kampus kami berdekatan, dia di ISTN dan saya di IISIP. Dan kujawab dengan polos: "Gw ikut kegiatan bolos, nonton konser musk metal, nongkrong di warung kopi, godain bencong lewat, sama maen remi di kost sambil muter metallica sekenceng beduk ampe diamukin tetangga..wakakakkaka."

Dan memang itu betul 100%.

Saya tidak pernah tertarik dengan kegiatan formal. Mungkin itu karenanya hingga kini pun saya menganut hidup non formal. Bekerja dari rumah, kafe, warnet, foodcourt, kantor kadang-kadang saja. Jadwal hidup saya juga tidak normal. Jam 5 pagi saya sudah mulai bekerja kadang, sebab jam segitu akses net masih kayak jalan tol, lancarrrrrrr. Karena mengawali kerja lebih awal, maka jam 12 teng kerjaan kadang sudah beres. Saya bisa jemput anak pulang sekolah, lalu kami nongkrong di foodcourt atau kafe dan saya kembali online menekuni kerjaan tambahan sekaligus gaul di dunia maya.

Atau saya bekerja sambil menunggui jemuran kering, masak sesuatu, sambil lalu nonton acara gosip di TV untuk mencela-cela selebriti, sesekali chat sama teman, curhat, marahin anak yang bandel, potong kuku, keramas, makan gorengan. Saya bekerja kapanpun mood dan ide muncul, deadline menjelang, tugas dadakan datang, sembari membaca ciklit sebagai hiburan, chat sama belahan jiwa, promosi buku sendiri, main Pacman 3D, bergelut bersama anak, dan seterusnya.

Saya bukan manusia formal, itu jelas. Tapi kadang saya terpaksa berkompromi dengan formalitas, terutama saat berhadapan dengan klien, bos, urusan bisnis dan sejenisnya. Jadi kalau kamu tanya saya pernah ikut kegiatan formal apa, jabatan formal apa, gelar dan titel apa, profesi apa, dan seterusnya, maka jawaban saya adalah: TIDAK ADA.

Prinsip saya adalah: saya melakukan sesuatu, membuat, menciptakan, berkolaborasi dengan teman, demi sesuatu yang (SEMOGA) berguna bagi banyak orang, dan berusaha tidak menyusahkan orang. Itu saja.

Ohya, sudah beli buku terbaru saya, "Situs Gaul Gak Cuma buat Ngibul" (Gramedia Pustaka Utama) ? Hahahaha...dagang jalan terusssssssssss!!!